Jurnal
Pengembalian Tanda Pertunangan Karena Gagal Pernikahan (Analisis Fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Mahar Dalam Perspektif Fiqh, Undang-undang dan Adat Aceh)
El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga · Vol. 1 No. 2 (2018) · hlm. 246–260
- ISSN
- 2620-8083, 2620-8075
- Terbit
- 2018-12-10
- Penerbit
- Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
- Bahasa
- eng
Abstrak
Praktek pertunangan dalam masyarakat adat di Aceh biasa dilakukan dengan pemberian tanda pertunangan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, baik sifatnya hadiah ataupun panjar mahar. Tanda ini dijadikan sebagai bukti keseriusan kedua pasangan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Apabila pertunangan dibatalkan dari pihak perempuan, ia wajib menanggung denda dua kali lipat dari tanda pertunangan tersebut. Sebaliknya, tanda pernikahan dihitung hangus jika yang membatalkan pihak laki-laki. Kenyataan semacam ini memicu banyak tanggapan dan pandangan. Dalam hal ini, MPU Aceh telah mengeluarkan fatwa mahar mengenai status hukumnya. Adapun pertanyaan pernelitian ini adalah apa yang melatar belakangi MPU Aceh mengeluarkan Fatwa Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Mahar dalam Perspektif Fiqh, Undang-Undang dan Adat Aceh, dan bagaimana dalil dan metode istinbāṭ yang digunakan MPU Aceh dalam menetapkan fatwa. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode analisis-normatif. Hasil penelitian ini yaitu: Pertama, fatwa MPU Aceh Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Mahar dalam Perspektif Fiqh, Undang-Undang dan Adat Aceh dikeluarkan dengan sebab prakrek pemberian mahar dan hal-hal lainya yang berkenaan dengannya dipandang perlu untuk dikaji. Kemudian, terdapat beragam pandangan masyarakat tentang mahar, khususnya dalam pengembalian tanda pertunangan karena gagal pernikahan. Ragam pandangan tersebut berpotensi menimbulkan disharmonisasi antar masyarakat. Oleh sebab itu, fatwa mahar dipandang perlu untuk ditetapkan. Kedua, dalil yang digunakan MPU Aceh dalam menetapkan fatwa mahar yaitu Alquran surat al-Nisā’ ayat 4, Hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin Maslamah, Ijma’ ulama, dan kaidah fikih. Keempat dalil tersebut berkaitan dengan kewajiban laki-laki memberikan mahar dan menjadi hak penuh isterinya. Adapun metode istinbāṭ yang digunakan MPU Aceh yaitu cenderung memakai metode bayani atau lughawiyah, yaitu metode dengan melihat kaidah kebahasan. Kaitan dengan pengembalian mahar, MPU Aceh memandang mahar itu menjadi kewajiban suami dan menjadi hak isteri ketika akad nikah telah dilangsungkan. Sebaliknya, mahar yang diberikan sebagai tanda pertunangan wajib dikembalikan ketika pernikahan gagal dilaksanakan. Sebab, hak mahar hanya diterima saat nikah bernar-benar telah diakadkan.
Kata kunci
Jaringan kolaborasi para penulis
40 penulis · 83 tautan kepenulisan bersama · 21 lintas organisasi · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung
Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.
- Hasanuddin University
- Universitas Bina Sarana Informatika
- Riau University
- Universitas Muhammadiyah Malang
- Universitas Halu Oleo
- Tanjungpura University
- Institut Agama Islam Negeri Kendari
- Organisasi lain
- Afiliasi tidak diketahui
- Organisasi berbeda
- Organisasi sama
- Afiliasi tidak diketahui
- Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
| Rekan penulis | Organisasi | Artikel bersama |
|---|---|---|
| Seri Murni | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
| Ridwansyah Ridwansyah | Universitas Bina Sarana Informatika | 1 |
| Henny Destiana | Universitas Bina Sarana Informatika | 1 |
| Sugiono Sugiono | Universitas Bina Sarana Informatika | 1 |
| Abdul Hamid | Universitas Bina Sarana Informatika | 1 |
| Wahyu Andhika | Universitas Muhammadiyah Malang | 1 |
| Munifah Nur | Universitas Muhammadiyah Malang | 1 |
| Rizkhi Dwi Nugroho | Universitas Muhammadiyah Malang | 1 |
| Dwi Marisa Midyanti | Tanjungpura University | 1 |
| Syamsul Bahri | Tanjungpura University | 1 |
| Risnawati Risnawati | Institut Agama Islam Negeri Kendari | 1 |
| Usman Pato | Riau University | 1 |
| Ahmad Rifai | Riau University | 1 |
| Evy Rossi | Riau University | 1 |
| Arfendi Arfendi | Riau University | 1 |
| Adris Ade Putra | Universitas Halu Oleo | 1 |
| Ridwan Syah Nuhun | Universitas Halu Oleo | 1 |
| Siti Nurjanna Ahmad | Universitas Halu Oleo | 1 |
| Asmita Ahmad | Hasanuddin University | 1 |
| Ratna Husain | Hasanuddin University | 1 |
| Rohaya Langkoke | Hasanuddin University | 1 |
| Meinarni Thamrin | Hasanuddin University | 1 |
| Sukardi | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Agussalim | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Irwansya | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Irmansah | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Huzain Jailani | Universitas Hamzanwadi | 1 |
| Ahmad Habibi | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Pertiwi Utami | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Agus Widodo Suripto | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Anton Widyanto | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Sam'ani Sam'ani | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Edi Istiyono | Yogyakarta State University | 1 |
| Widihastuti Widihastuti | Yogyakarta State University | 1 |
| Siti Nurjanah | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Saefudin Kamal | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
| Hartati Hartati | Institut Agama Islam Negeri Kendari | 1 |
| Ahmad Richard Victorian | Afiliasi tidak diketahui | 1 |
Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.