Melola Discovery

← Melola Discovery

Akses terbuka Jurnal

Perbaikan sifat tanah eks-likuifaksi melalui amandemen bahan organik serta implikasinya terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah lokal palu

Jurnal AGRO · Vol. 12 No. 2 (2025) · hlm. 289–301

DOI
10.15575/j.agro.51372
ISSN
2407-7933
Terbit
2025-12-31
Penerbit
Jurusan Agroteknologi
Bahasa
eng
Lisensi
creativecommons.org/licenses/by/4.0

Abstrak

Tanah bekas likuifaksi umumnya memiliki kandungan bahan organik sangat rendah (<1%), struktur tanah rusak, porositas tidak stabil, serta aktivitas mikroba yang menurun sehingga memerlukan amandemen organik untuk memulihkan sifat fisik, kimia, dan biologinya. Pupuk kandang sapi menjadi pilihan solusi karena kaya C-organik dan unsur hara makro serta mudah terdekomposisi, sedangkan arang sekam berperan memperbaiki aerasi dan porositas tanah berpasir. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pupuk kandang sapi dan arang sekam sebagai bahan amandemen tanah eks-likuifaksi di Desa Jono Oge serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah lokal Palu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan, yaitu amandemen tanah + pupuk kandang (1:1), tanah + arang sekam (1:1), tanah + pupuk kandang + arang sekam (1:1:1), tanah + pupuk kandang (2:1), tanah + arang sekam (2:1), tanah + pupuk kandang + arang sekam (2:1:1), dan tanah tanpa amandemen sebagai kontrol dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta pertumbuhan dan hasil tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi tanah bekas likuifaksi, pupuk kandang dan arang sekam rasio 1:1:1 memiliki tinggi tanaman (44,50 cm), bobot segar umbi (20,70 g), dan bobot kering umbi (8,97 g) bawang merah lokal palu tertinggi. Aplikasi bahan organik dengan proporsi seimbang terbukti efektif merehabilitasi tanah bekas likuifaksi dan meningkatkan produktivitas bawang merah lokal Palu sehingga berpotensi diterapkan sebagai strategi pertanian berkelanjutan pada lahan pasca bencana. ABSTRACT Post-liquefaction soil has very low organic matter content (<1%), damaged soil structure, unstable porosity, and decreased microbial activity, so it requires organic amendments to restore its physical, chemical, and biological properties. Cow manure is a solution of choice because it is rich in organic carbon and macronutrients and is readily decomposed, while rice husk charcoal improves aeration and porosity in sandy soil. This study aims to assess the effectiveness of cow manure and rice husk charcoal as amendments to post-liquefaction soil in Jono Oge Village and their impact on the growth and yield of local shallots in Palu. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with seven treatments: soil + manure (1:1), soil + rice husk charcoal (1:1), soil + manure + rice husk charcoal (1:1:1), soil + manure (2:1), soil + rice husk charcoal (2:1), soil + manure + rice husk charcoal (2:1:1), and soil without amendment as a control with five replications. The parameters observed were soil physical, chemical, and biological properties, plant growth and yield. The results showed that manure and rice husk charcoal in a ratio of 1:1:1 produced the highest of height (44.50 cm), fresh weight of bulbs (20.70 g), and dry weight of bulbs (8.97 g) of local Palu shallot plants. Organic materials application in balanced proportions has been proven effective in rehabilitating liquefied soil and increasing local Palu shallots productivity, suggesting its potential as a sustainable agricultural strategy in post-disaster areas.

Kata kunci

Jaringan kolaborasi para penulis

12 penulis · 30 tautan kepenulisan bersama

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • Hasanuddin University
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Kasman JayaAfiliasi tidak diketahui2
Ratnawati RatnawatiHasanuddin University1
Sitti HardiyantiAfiliasi tidak diketahui1
RatnawatiAfiliasi tidak diketahui1
Sylvia SjamHasanuddin University1
Ade RosmanaHasanuddin University1
Untung Surapati TresnaputraAfiliasi tidak diketahui1

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/ja/oai, pertama di-harvest 7 Nov 2026, terakhir terlihat 8 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbaikan sifat tanah eks-likuifaksi melalui amandemen bahan organik serta implikasinya terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah lokal palu</dc:title>
	<dc:creator>Sudewi, Sri</dc:creator>
	<dc:creator>Minarni</dc:creator>
	<dc:creator>Bangkele, Lisa Indriani</dc:creator>
	<dc:creator>Jumardin</dc:creator>
	<dc:creator>Sayani</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">bawang merah lokal palu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">bahan organik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">likuifaksi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">sifat tanah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Tanah bekas likuifaksi umumnya memiliki kandungan bahan organik sangat rendah (&amp;lt;1%), struktur tanah rusak, porositas tidak stabil, serta aktivitas mikroba yang menurun sehingga memerlukan amandemen organik untuk memulihkan sifat fisik, kimia, dan biologinya. Pupuk kandang sapi menjadi pilihan solusi karena kaya C-organik dan unsur hara makro serta mudah terdekomposisi, sedangkan arang sekam berperan memperbaiki aerasi dan porositas tanah berpasir. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pupuk kandang sapi dan arang sekam sebagai bahan amandemen tanah eks-likuifaksi di Desa Jono Oge serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah lokal Palu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan, yaitu amandemen tanah + pupuk kandang (1:1), tanah + arang sekam (1:1), tanah + pupuk kandang + arang sekam (1:1:1), tanah + pupuk kandang (2:1), tanah + arang sekam (2:1), tanah + pupuk kandang + arang sekam (2:1:1), dan tanah tanpa amandemen sebagai kontrol dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta pertumbuhan dan hasil tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi tanah bekas likuifaksi, pupuk kandang dan arang sekam rasio 1:1:1 memiliki tinggi tanaman (44,50 cm), bobot segar umbi (20,70 g), dan bobot kering umbi (8,97 g) bawang merah lokal palu tertinggi. Aplikasi bahan organik dengan proporsi seimbang terbukti efektif merehabilitasi tanah bekas likuifaksi dan meningkatkan produktivitas bawang merah lokal Palu sehingga berpotensi diterapkan sebagai strategi pertanian berkelanjutan pada lahan pasca bencana.
ABSTRACT
Post-liquefaction soil has very low organic matter content (&amp;lt;1%), damaged soil structure, unstable porosity, and decreased microbial activity, so it requires organic amendments to restore its physical, chemical, and biological properties. Cow manure is a solution of choice because it is rich in organic carbon and macronutrients and is readily decomposed, while rice husk charcoal improves aeration and porosity in sandy soil. This study aims to assess the effectiveness of cow manure and rice husk charcoal as amendments to post-liquefaction soil in Jono Oge Village and their impact on the growth and yield of local shallots in Palu. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with seven treatments:  soil + manure (1:1), soil + rice husk charcoal (1:1), soil + manure + rice husk charcoal (1:1:1), soil + manure (2:1), soil + rice husk charcoal (2:1), soil + manure + rice husk charcoal (2:1:1), and soil without amendment as a control with five replications. The parameters observed were soil physical, chemical, and biological properties, plant growth and yield. The results showed that manure and rice husk charcoal in a ratio of 1:1:1 produced the highest of height (44.50 cm), fresh weight of bulbs (20.70 g), and dry weight of bulbs (8.97 g) of local Palu shallot plants. Organic materials application in balanced proportions has been proven effective in rehabilitating liquefied soil and increasing local Palu shallots productivity, suggesting its potential as a sustainable agricultural strategy in post-disaster areas.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Agroteknologi</dc:publisher>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/ja/article/view/51372</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15575/j.agro.51372</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal AGRO; Vol. 12 No. 2 (2025); 289-301</dc:source>
	<dc:source>2407-7933</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/ja/article/view/51372/15822</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Sri Sudewi, Minarni, Lisa Indriani Bangkele, Jumardin, Sayani</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>