Perempuan dalam Islam memiliki posisi strategis sebagai madrasatul ula “sekolah pertama dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak”. Namun, tantangan zaman modern seperti tekanan ganda, konsumerisme, dan nilai-nilai sekuler telah melemahkan ketahanan batin perempuan, yang berdampak pada kualitas pendidikan moral dalam keluarga. Artikel ini bertujuan merekonstruksi pemikiran tasawuf Badiuzzaman Said Nursi dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar untuk membangun model ketahanan spiritual perempuan dalam konteks keluarga Muslim Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data primer dianalisis melalui content analysis, analisis wacana, serta pendekatan hermeneutik-interpretatif terhadap karya-karya kedua tokoh. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Nursi menekankan pentingnya iman, dzikir, dan kasih sayang ilahiah sebagai penopang peran spiritual perempuan, sementara Umar menonjolkan cinta transendental, kesadaran batin, dan keadilan gender dalam kerangka tasawuf. Model ketahanan batin yang ditawarkan mencakup dzikir, ma‘rifatullah, tazkiyatun nafs, mahabbah, dan kesadaran diri. Strategi implementasi meliputi pelatihan parenting ruhani, kurikulum tasawuf untuk ibu muda, dan majelis dzikir perempuan. Kontribusi artikel ini adalah menawarkan pendekatan sufistik sebagai paradigma baru dalam memperkuat spiritualitas perempuan untuk membangun ketahanan keluarga yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Collaboration network of the authors
5 authors ·
6 co-authorship links
Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Affiliation unknown
Different organisations
Same organisation
Affiliation unknown
Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.