Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 3

Rekonstruksi Pemikiran Tasawuf Said Nursi dan Nasaruddin Umar tentang Peran Perempuan sebagai Madrasatul Ula

Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam · Vol. 12 No. 1 (2026) · pp. 104–118

DOI
10.31332/zawiyah.v12i1.11877
ISSN
2579-955X, 2477-6149
Published
2026-07-31
Publisher
Institut Agama Islam Negeri Kendari
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Perempuan dalam Islam memiliki posisi strategis sebagai madrasatul ula “sekolah pertama dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak”. Namun, tantangan zaman modern seperti tekanan ganda, konsumerisme, dan nilai-nilai sekuler telah melemahkan ketahanan batin perempuan, yang berdampak pada kualitas pendidikan moral dalam keluarga. Artikel ini bertujuan merekonstruksi pemikiran tasawuf Badiuzzaman Said Nursi dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar untuk membangun model ketahanan spiritual perempuan dalam konteks keluarga Muslim Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data primer dianalisis melalui content analysis, analisis wacana, serta pendekatan hermeneutik-interpretatif terhadap karya-karya kedua tokoh. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Nursi menekankan pentingnya iman, dzikir, dan kasih sayang ilahiah sebagai penopang peran spiritual perempuan, sementara Umar menonjolkan cinta transendental, kesadaran batin, dan keadilan gender dalam kerangka tasawuf. Model ketahanan batin yang ditawarkan mencakup dzikir, ma‘rifatullah, tazkiyatun nafs, mahabbah, dan kesadaran diri. Strategi implementasi meliputi pelatihan parenting ruhani, kurikulum tasawuf untuk ibu muda, dan majelis dzikir perempuan. Kontribusi artikel ini adalah menawarkan pendekatan sufistik sebagai paradigma baru dalam memperkuat spiritualitas perempuan untuk membangun ketahanan keluarga yang berakar pada nilai-nilai Islam.

Collaboration network of the authors

5 authors · 6 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Nancy LahayAffiliation unknown1
Erika RahayuAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

This record comes from Crossref (what the publisher deposited), because the journal's own OAI-PMH endpoint could not be harvested.

Metadata source: Crossref API (cadangan, berdasarkan ISSN) https://api.crossref.org/journals/2579-955X/works, first harvested 29 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Metadata as oai_dc, converted from Crossref
<oai_dc:dc xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"><dc:title>Rekonstruksi Pemikiran Tasawuf Said Nursi dan Nasaruddin Umar tentang Peran Perempuan sebagai Madrasatul Ula</dc:title><dc:creator>Saifudin Khilmi, Akhmad</dc:creator><dc:creator>SJ, Fadil</dc:creator><dc:creator>Jamilah, Jamilah</dc:creator><dc:description>&lt;jats:p&gt;Perempuan dalam Islam memiliki posisi strategis sebagai madrasatul ula “sekolah pertama dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak”. Namun, tantangan zaman modern seperti tekanan ganda, konsumerisme, dan nilai-nilai sekuler telah melemahkan ketahanan batin perempuan, yang berdampak pada kualitas pendidikan moral dalam keluarga. Artikel ini bertujuan merekonstruksi pemikiran tasawuf Badiuzzaman Said Nursi dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar untuk membangun model ketahanan spiritual perempuan dalam konteks keluarga Muslim Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data primer dianalisis melalui content analysis, analisis wacana, serta pendekatan hermeneutik-interpretatif terhadap karya-karya kedua tokoh. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Nursi menekankan pentingnya iman, dzikir, dan kasih sayang ilahiah sebagai penopang peran spiritual perempuan, sementara Umar menonjolkan cinta transendental, kesadaran batin, dan keadilan gender dalam kerangka tasawuf. Model ketahanan batin yang ditawarkan mencakup dzikir, ma‘rifatullah, tazkiyatun nafs, mahabbah, dan kesadaran diri. Strategi implementasi meliputi pelatihan parenting ruhani, kurikulum tasawuf untuk ibu muda, dan majelis dzikir perempuan. Kontribusi artikel ini adalah menawarkan pendekatan sufistik sebagai paradigma baru dalam memperkuat spiritualitas perempuan untuk membangun ketahanan keluarga yang berakar pada nilai-nilai Islam.&lt;/jats:p&gt;</dc:description><dc:publisher>Institut Agama Islam Negeri Kendari</dc:publisher><dc:date>2026-07-31</dc:date><dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type><dc:format>application/pdf</dc:format><dc:identifier>https://doi.org/10.31332/zawiyah.v12i1.11877</dc:identifier><dc:identifier>10.31332/zawiyah.v12i1.11877</dc:identifier><dc:source>Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 12 No 1 (2026); 104-118</dc:source><dc:source>2579-955X</dc:source><dc:source>2477-6149</dc:source><dc:relation>https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/zawiyah/article/download/11877/4223</dc:relation><dc:rights>http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights></oai_dc:dc>