Artikel ini mengkaji peran pendidikan surau dalam membentuk sikap inklusif Buya Hamka terhadap tradisi lokal Minangkabau. Berangkat dari agenda moderasi beragama dan pentingnya kearifan lokal, penelitian ini menyoroti celah kajian yang selama ini lebih banyak membahas moderasi ala Hamka atau surau Minangkabau secara terpisah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka, memadukan analisis historis-sosiologis dan biografis-intelektual atas perjalanan pendidikan Hamka, serta analisis isi terhadap karya-karyanya yang berkaitan dengan adat dan tafsir al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, pendidikan surau Minangkabau, termasuk dalam fase transformasinya menjadi madrasah, menghasilkan konfigurasi nilai tauhid, tasawuf akhlaki, musyawarah, serta keseimbangan agama-adat yang selaras dengan konsep wasathiyah. Kedua, sikap Hamka terhadap tradisi lokal bersifat inklusif dan toleran: ia merangkul adat sebagai sumber kearifan moral, namun tegas mengkritik praktik yang melanggar keadilan dan tauhid. Ketiga, nilai dan mekanisme pedagogis surau bertindak sebagai fondasi dan jangkar etika yang memungkinkan Hamka memadukan keterbukaan intelektual dengan penghargaan terhadap tradisi lokal, sekaligus menawarkan model konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam berbasis kearifan lokal di Indonesia kontemporer.
Collaboration network of the authors
3 authors ·
3 co-authorship links
Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Different organisations
Same organisation
Affiliation unknown
Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-author
Organisation
Joint articles
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.