Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 3

Peran Surau dalam Membentuk Sikap Inklusif dan Toleran Hamka terhadap Tradisi Lokal Minangkabau

The THE ROLE OF SURAU IN FORMING HAMKA'S INCLUSIVE AND TOLERANT ATTITUDE TOWARDS MINANGKABAU LOCAL TRADITIONS

Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam · Vol. 11 No. 2 (2025) · pp. 29–42

DOI
10.31332/zawiyah.v11i2.13352
ISSN
2579-955X, 2477-6149
Published
2025-12-29
Publisher
Institut Agama Islam Negeri Kendari
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Artikel ini mengkaji peran pendidikan surau dalam membentuk sikap inklusif Buya Hamka terhadap tradisi lokal Minangkabau. Berangkat dari agenda moderasi beragama dan pentingnya kearifan lokal, penelitian ini menyoroti celah kajian yang selama ini lebih banyak membahas moderasi ala Hamka atau surau Minangkabau secara terpisah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka, memadukan analisis historis-sosiologis dan biografis-intelektual atas perjalanan pendidikan Hamka, serta analisis isi terhadap karya-karyanya yang berkaitan dengan adat dan tafsir al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, pendidikan surau Minangkabau, termasuk dalam fase transformasinya menjadi madrasah, menghasilkan konfigurasi nilai tauhid, tasawuf akhlaki, musyawarah, serta keseimbangan agama-adat yang selaras dengan konsep wasathiyah. Kedua, sikap Hamka terhadap tradisi lokal bersifat inklusif dan toleran: ia merangkul adat sebagai sumber kearifan moral, namun tegas mengkritik praktik yang melanggar keadilan dan tauhid. Ketiga, nilai dan mekanisme pedagogis surau bertindak sebagai fondasi dan jangkar etika yang memungkinkan Hamka memadukan keterbukaan intelektual dengan penghargaan terhadap tradisi lokal, sekaligus menawarkan model konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam berbasis kearifan lokal di Indonesia kontemporer.

Collaboration network of the authors

3 authors · 3 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

This record comes from Crossref (what the publisher deposited), because the journal's own OAI-PMH endpoint could not be harvested.

Metadata source: Crossref API (cadangan, berdasarkan ISSN) https://api.crossref.org/journals/2579-955X/works, first harvested 29 Okt 2026, last seen 29 Okt 2026.
Metadata as oai_dc, converted from Crossref
<oai_dc:dc xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"><dc:title>Peran Surau dalam Membentuk Sikap Inklusif dan Toleran Hamka terhadap Tradisi Lokal Minangkabau</dc:title><dc:title>The THE ROLE OF SURAU IN FORMING HAMKA'S INCLUSIVE AND TOLERANT ATTITUDE TOWARDS MINANGKABAU LOCAL TRADITIONS</dc:title><dc:creator>Amelina, Naila</dc:creator><dc:creator>Soraya, Nyayu</dc:creator><dc:creator>Anggara, Baldi</dc:creator><dc:description>&lt;jats:p&gt;Artikel ini mengkaji peran pendidikan surau dalam membentuk sikap inklusif Buya Hamka terhadap tradisi lokal Minangkabau. Berangkat dari agenda moderasi beragama dan pentingnya kearifan lokal, penelitian ini menyoroti celah kajian yang selama ini lebih banyak membahas moderasi ala Hamka atau surau Minangkabau secara terpisah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka, memadukan analisis historis-sosiologis dan biografis-intelektual atas perjalanan pendidikan Hamka, serta analisis isi terhadap karya-karyanya yang berkaitan dengan adat dan tafsir al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, pendidikan surau Minangkabau, termasuk dalam fase transformasinya menjadi madrasah, menghasilkan konfigurasi nilai tauhid, tasawuf akhlaki, musyawarah, serta keseimbangan agama-adat yang selaras dengan konsep wasathiyah. Kedua, sikap Hamka terhadap tradisi lokal bersifat inklusif dan toleran: ia merangkul adat sebagai sumber kearifan moral, namun tegas mengkritik praktik yang melanggar keadilan dan tauhid. Ketiga, nilai dan mekanisme pedagogis surau bertindak sebagai fondasi dan jangkar etika yang memungkinkan Hamka memadukan keterbukaan intelektual dengan penghargaan terhadap tradisi lokal, sekaligus menawarkan model konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam berbasis kearifan lokal di Indonesia kontemporer.&lt;/jats:p&gt;</dc:description><dc:publisher>Institut Agama Islam Negeri Kendari</dc:publisher><dc:date>2025-12-29</dc:date><dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type><dc:format>application/pdf</dc:format><dc:identifier>https://doi.org/10.31332/zawiyah.v11i2.13352</dc:identifier><dc:identifier>10.31332/zawiyah.v11i2.13352</dc:identifier><dc:source>Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 11 No 2 (2025); 29-42</dc:source><dc:source>2579-955X</dc:source><dc:source>2477-6149</dc:source><dc:relation>https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/zawiyah/article/download/13352/3870</dc:relation><dc:rights>http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights></oai_dc:dc>