Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 4

Perilaku Sukarela di Pesantren: Karakter Langka di tengah Pusaran Pragmatisme SDM Lembaga Pendidikan

Shautut Tarbiyah · Vol. 24 No. 1 (2018)

DOI
10.31332/str.v24i1.921
ISSN
2579-9754, 1411-2612
Published
2018-10-04
Publisher
Institut Agama Islam Negeri Kendari
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di nusantara memiliki berbagai kearifan yang tetap relevan dalam menjawab persoalan pada lembaga pendidikan. Tumbuhnya berbagai lembaga pendidikan, yang mengusung tema-tema kemajuan, membuat pesantren mendapat stigma sebagai pendidikan masyarakat pinggiran atau disebut juga fenomena desa. Tetapi secara perlahan pesantren dapat beradaptasi dengan perkembangan terkini, dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain. Bahkan muncul fenomena "arus balik" masyarakat modern yang berlomba menitipkan anak mereka ke pesantren ataupun sekolah sehari penuh. Sisi lain pesantren yang unik dan menarik adalah sikap sukarelawan yang banyak ditunjukkan oleh pengelola pondok maupun lulusan pondok. Hal ini dapat dilihat paling tidak pada dua pesantren di Sulawesi Tenggara, yakni PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin dan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7 yang mengusung tema modernitas yang dipersepsikan kalangan terntu sebagai pesantren "mahal", tetap menunjukkan jati diri sebagai pesantren yang memiliki tanggungjawab memajukan umat Islam dan mencari ridha Allah. Sikap sederhana ditunjukkan oleh pimpinan pondok dan jajaran guru, dan terutama dalam kajian ini adalah semangat menyerahkan diri untuk mengabdi kepada pesantren, dengan imbalan yang tidak menentu. Hal ini juga diamalkan oleh Pesantren Darul Mukhlisin. Dalam kondisi penuh sahaja, segenap pengasuh pesantren berupaya memberikan kinerja terbaik dalam melayani santri. Sikap dari dua pesantren ini terbangun di atas nilai dasar yang kuat, yaitu nilai teo-sosiologis. Nilai-nilai itu terus direproduksi dari generasi ke generasi, sehingga berdampak sikap empati pada pekerjaan, kinerja terbaik, terlibat penuh, dan menerima keterbukaan. Kata Kunci: Perilaku Sukarela, Pengelolaan PesantrenPesantren as the oldest educational institution in the archipelago has various wisdom that remains relevant in answering the problems at educational institutions. The growth of various educational institutions, which carries the themes of progress, make pesantren get stigma as suburban society education or also called village phenomenon. But slowly pesantren can adapt to the latest developments, and able to compete with other educational institutions. Even emerging phenomenon of "backflow" modern society who race to entrust their child to boarding school or school all day. The other side of the unique and interesting pesantren is the volunteer attitude shown by the cottage managers and the cottage graduates. This can be seen in at least two pesantren in Southeast Sulawesi, namely PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin and Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7, which carries the theme of modernity perceived by terntu as an "expensive" pesantren, still shows identity as a boarding school which has the responsibility of advancing Muslims and seeking Allah's approval. Simple attitude is shown by the leadership of the hut and the ranks of teachers, and especially in this study is the spirit of surrender to serve pesantren, with uncertain rewards. It is also practiced by Darul Mukhlisin Pesantren. In full condition, all pesantren caregivers strive to provide the best performance in serving students. Attitudes of these two pesantrens awakened on a strong foundation value, namely the theo-sociological value. Those values are continuously reproduced from generation to generation, impacting empathy on work, best performance, full engagement, and openness.Keywords: Voluntary behavior, Pesantren Management

Collaboration network of the authors

23 authors · 48 co-authorship links · 1 across different organisations

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Institut Agama Islam Negeri Kendari
  • Universitas Lakidende
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Samrin SamrinInstitut Agama Islam Negeri Kendari4
Syahrul SyahrulInstitut Agama Islam Negeri Kendari3
Muhammad Syarwa SangilaInstitut Agama Islam Negeri Kendari2
Supriadin SupriadinInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Rustang RustangInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Nur AlimInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Syahrul SyahrulInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Husnu A. SalimInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Sastramayani SastramayaniUniversitas Lakidende1
Sitti HalimaInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Evi AjrianiInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Halistin HalistinInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Hijayanti Dwi KartiniInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Husain InsawanInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Erikvan ErikvanInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Mariani MarianiInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Abbas AbbasInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Tamsil SafaatInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Hadi MachmudInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Wardana Solit SabansariInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Pairin PairinInstitut Agama Islam Negeri Kendari1
Serliyani SerliyaniInstitut Agama Islam Negeri Kendari1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

This record comes from Crossref (what the publisher deposited), because the journal's own OAI-PMH endpoint could not be harvested.

Metadata source: Crossref API (cadangan, berdasarkan ISSN) https://api.crossref.org/journals/2579-9754/works, first harvested 29 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Metadata as oai_dc, converted from Crossref
<oai_dc:dc xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"><dc:title>Perilaku Sukarela di Pesantren: Karakter Langka di tengah Pusaran Pragmatisme SDM Lembaga Pendidikan</dc:title><dc:creator>Badarwan, Badarwan</dc:creator><dc:description>&lt;jats:p&gt;Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di nusantara memiliki berbagai kearifan yang tetap relevan dalam menjawab persoalan pada lembaga pendidikan. Tumbuhnya berbagai lembaga pendidikan, yang mengusung tema-tema kemajuan, membuat pesantren mendapat stigma sebagai pendidikan masyarakat pinggiran atau disebut juga fenomena desa. Tetapi secara perlahan pesantren dapat beradaptasi dengan perkembangan terkini, dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain. Bahkan muncul fenomena "arus balik" masyarakat modern yang berlomba menitipkan anak mereka ke pesantren ataupun sekolah sehari penuh. Sisi lain pesantren yang unik dan menarik adalah sikap sukarelawan yang banyak ditunjukkan oleh pengelola pondok maupun lulusan pondok. Hal ini dapat dilihat paling tidak pada dua pesantren di Sulawesi Tenggara, yakni PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin dan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7 yang mengusung tema modernitas yang dipersepsikan  kalangan terntu sebagai pesantren "mahal", tetap menunjukkan jati diri sebagai pesantren yang memiliki tanggungjawab memajukan umat Islam dan mencari ridha Allah. Sikap sederhana ditunjukkan oleh pimpinan pondok dan jajaran guru, dan terutama dalam kajian ini adalah semangat menyerahkan diri untuk mengabdi kepada pesantren, dengan imbalan yang tidak menentu. Hal ini juga diamalkan oleh Pesantren Darul Mukhlisin. Dalam kondisi penuh sahaja, segenap pengasuh pesantren berupaya memberikan kinerja terbaik dalam melayani santri. Sikap dari dua pesantren ini terbangun di atas nilai dasar yang kuat, yaitu nilai teo-sosiologis. Nilai-nilai itu terus direproduksi dari generasi ke generasi, sehingga berdampak sikap empati pada pekerjaan, kinerja terbaik, terlibat penuh, dan menerima keterbukaan.   Kata Kunci: Perilaku Sukarela, Pengelolaan PesantrenPesantren as the oldest educational institution in the archipelago has various wisdom that remains relevant in answering the problems at educational institutions. The growth of various educational institutions, which carries the themes of progress, make pesantren get stigma as suburban society education or also called village phenomenon. But slowly pesantren can adapt to the latest developments, and able to compete with other educational institutions. Even emerging phenomenon of "backflow" modern society who race to entrust their child to boarding school or school all day. The other side of the unique and interesting pesantren is the volunteer attitude shown by the cottage managers and the cottage graduates. This can be seen in at least two pesantren in Southeast Sulawesi, namely PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin and Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7, which carries the theme of modernity perceived by terntu as an "expensive" pesantren, still shows identity as a boarding school which has the responsibility of advancing Muslims and seeking Allah's approval. Simple attitude is shown by the leadership of the hut and the ranks of teachers, and especially in this study is the spirit of surrender to serve pesantren, with uncertain rewards. It is also practiced by Darul Mukhlisin Pesantren. In full condition, all pesantren caregivers strive to provide the best performance in serving students. Attitudes of these two pesantrens awakened on a strong foundation value, namely the theo-sociological value. Those values are continuously reproduced from generation to generation, impacting empathy on work, best performance, full engagement, and openness.Keywords: Voluntary behavior, Pesantren Management&lt;/jats:p&gt;</dc:description><dc:publisher>Institut Agama Islam Negeri Kendari</dc:publisher><dc:date>2018-10-04</dc:date><dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type><dc:format>application/pdf</dc:format><dc:identifier>https://doi.org/10.31332/str.v24i1.921</dc:identifier><dc:identifier>10.31332/str.v24i1.921</dc:identifier><dc:source>Shautut Tarbiyah; Vol 24 No 1 (2018); 19</dc:source><dc:source>2579-9754</dc:source><dc:source>1411-2612</dc:source><dc:relation>https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/shautut-tarbiyah/article/viewFile/921/809</dc:relation><dc:rights>http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights></oai_dc:dc>