Pendidikan agama Islam kontemporer menghadapi krisis fragmentasi dalam pengembangan karakter peserta didik, di mana pengetahuan agama tidak sepenuhnya teraktualisasi dalam perilaku (knowing-doing gap). Penelitian ini menganalisis konsep pembentukan kepribadian Muslim menurut Ibnu Miskawaih sebagai solusi integratif terhadap permasalahan tersebut. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi pustaka mendalam, penelitian menganalisis keseimbangan tiga kekuatan jiwa (Quwwah al-Nāṭiqah, Quwwah al-Ghaḍabiyyah, Quwwah al-Shahwiyyah) dalam framework etika Miskawaih. Temuan menunjukkan bahwa Miskawaih mengonseptualisasikan pembentukan kepribadian sebagai proses pedagogis berkelanjutan, bukan pemberian instan. Model keseimbangan tiga kekuatan jiwa Miskawaih menawarkan solusi integratif terhadap fragmentasi pengembangan kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Relevansi pemikiran Miskawaih terhadap PAI kontemporer terletak pada tiga dimensi: (1) konseptual, memberikan landasan filosofis mengatasi knowing-doing gap; (2) metodologis, mengintegrasikan pengembangan IQ-EQ-SQ simultan; (3) praktis, selaras dengan semangat kurikulum Merdeka Belajar dan tujuan membentuk insan kamil. Penelitian ini berkontribusi merekonstruksi etika klasik Islam menjadi framework aplikatif yang relevan dengan tantangan pendidikan modern, membuka peluang pengembangan kurikulum PAI yang holistik dan berkelanjutan.
Collaboration network of the authors
3 authors ·
2 co-authorship links
· 1 across different organisations
Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.
Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta
IAIN Kudus
Different organisations
Same organisation
Affiliation unknown
Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.