Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

Konsepsi Subjek Hukum dan Pertanggungjawaban Pidana Artificial Intellegence

Halu Oleo Law Review (HOLREV) · Vol. 9 No. 1 (2025) · pp. 13–26

DOI
10.33561/holrev.v9i1.129
ISSN
2548-1754, 2548-1762
Published
2025-03-13
Publisher
Faculty of Law, Halu Oleo University
Language
eng
License
creativecommons.org/licenses/by/4.0

Abstract

Tulisan ini merupakan studi awal tentang subjek hukum dan pertanggungjawaban pidana kecerdasan buatan (AI). Dalam hukum Indonesia saat ini AI tidak dapat digolongkan sebagai subjek hukum ketika adanya tindak pidana yang disebabkan oleh AI atau memanfaatkan AI dalam melakukan tindak pidana. Subjek hukum yang dikenal dalam hukum pidana Indonesia saat ini termasuk dalam KUHP Baru (UU No. 1 tahun 2023) belum mengenal konsepsi AI sebagai subjek hukum dan pertanggungjawabannya. Tulisan ini mengulas tentang adanya atribusi AI dalam sejumlah tindak pidana sehingga perlu dipertimbangkan dalam hukum pidana Indonesia masa depan (ius constituendum) agar AI bisa dijadikan subjek hukum dan bisa diminta pertanggungjawaban pidananya. Di beberapa negara saat ini AI telah dijadikan subjek hukum dan dimasukkan dalam hukum nasionalnya.

Keywords

Collaboration network of the authors

8 authors · 16 co-authorship links · 8 across different organisations

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Sumatera Utara
  • University of Indonesia
  • Binus University
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Hanifah Fitria AzizahUniversitas Sumatera Utara1
Topo SantosoUniversity of Indonesia1
Yunus HuseinUniversity of Indonesia1
Mahmud MulyadiUniversitas Sumatera Utara1
Besar BesarAffiliation unknown1
Bambang PratamaAffiliation unknown1
Petrus Denny SampouwAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://holrev.uho.ac.id/index.php/journal/oai, first harvested 30 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Konsepsi Subjek Hukum dan Pertanggungjawaban Pidana Artificial Intellegence</dc:title>
	<dc:creator>Sofian, Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kecerdasan buatan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Subjek hukum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pertanggungjawaban</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Tulisan ini merupakan studi awal tentang subjek hukum dan pertanggungjawaban pidana kecerdasan buatan (AI). Dalam hukum Indonesia saat ini AI tidak dapat digolongkan sebagai subjek hukum ketika adanya tindak pidana yang disebabkan oleh AI atau memanfaatkan AI dalam melakukan tindak pidana. Subjek hukum yang dikenal dalam hukum pidana Indonesia saat ini termasuk dalam KUHP Baru (UU No. 1 tahun 2023) belum mengenal konsepsi AI sebagai subjek hukum dan pertanggungjawabannya. Tulisan ini mengulas tentang adanya atribusi AI dalam sejumlah tindak pidana sehingga perlu dipertimbangkan dalam hukum pidana Indonesia masa depan (ius constituendum) agar AI bisa dijadikan subjek hukum dan bisa diminta pertanggungjawaban pidananya. Di beberapa negara saat ini AI telah dijadikan subjek hukum dan dimasukkan dalam hukum nasionalnya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Law, Halu Oleo University</dc:publisher>
	<dc:date>2025-03-13</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://holrev.uho.ac.id/index.php/journal/article/view/129</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33561/holrev.v9i1.129</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Halu Oleo Law Review; Vol. 9 No. 1 (2025): Halu Oleo Law Review: Volume 9 Issue 1; 13-26</dc:source>
	<dc:source>2548-1754</dc:source>
	<dc:source>2548-1762</dc:source>
	<dc:source>10.33561/holrev.v9i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://holrev.uho.ac.id/index.php/journal/article/view/129/42</dc:relation>
	<dc:relation>10.33561/holrev.v9i1.129.g42</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Halu Oleo Law Review</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>