Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

PEMETAAN WILAYAH KAWASAN RAWAN PETIR MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (STUDI KASUS: KOTA KENDARI, KONAWE SELATAN, KONAWE)

JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) · Vol. 6 No. 2 (2022) · pp. 354–368

DOI
10.33772/jagat.v6i2.28312
ISSN
2684-6705
Published
2022-11-30
Publisher
Halu Oleo University
Language
eng
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Abstrak: Petir merupakan suatu proses pelepasan muatan listrik dari awan bermuatan (cumulonimbus (Cb)) yang terdapat di atmosfer. Aktivitas pelepasan muatan yang menuju objek tertentu dinamakan sambaran petir yang mana memiliki kekuatan yang beragam. Petir yang terjadi di atmosfer umum terjadi, namun apabila sambaran petir sampai ke daratan dan memiliki kekuatan yang besar dapat mengancam keselamatan jiwa dan harta benda manusia. Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Konawe berada di wilayah iklim tropis dengan curah hujan tinggi yang terbentuk dari awan cumulonimbus yang dapat membentuk petir. Dikarenakan wilayah ini memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi disertai pembangunan infrastruktur yang semakin berkembang sehingga perlu dilakukan suatu penelitian untuk menganalisis tingkat kerawanan sambaran petir. Terdapat 2 Faktor yang diperlukan untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan sambaran petir, yaitu faktor ancaman menggunakan data kejadian petir CG (Cloud to Ground) tahun 2014–2019 dan faktor kerentanan menggunakan data kepadatan penduduk dan luas lahan untuk rumah dan bangunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk mendapatkan tingkat kerawanan sambaran petir pada beberapa kecamatan yang diinterpretasikan ke dalam peta tematik menggunakan software ArcGIS. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecamatan Bondoala, Kadia, Konda, dan Moramo Utara memiliki nilai tingkat kerawanan sambaran petir tinggi. Kecamatan Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, dan Soropia memiliki tingkat kerawanan sedang. Kecamatan Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, dan Wua-Wua memiliki tingkat kerawanan rendah. Kata kunci: Petir CG, Tingkat Kerawanan, Simple Additive Weighting Abstract: Lightning is an electrical discharge process from loaded cloud (cumulonimbus (Cb)) that occurs in the atmosphere. The electrical discharge activity towards a particular object is called a lightning strike which has various strength. Lightning usually occurs in the atmosphere but if the lightning strike reaches the land and has a great power it can threatens the safety of human life and property. Kendari City, Konawe Selatan, and Konawe is a lightning strike prone area located on tropical high rainfall level potentially forming thunder cloud (cumulonimbus). Due to high population density and infrastructure development in this region, so that a research is needed to analyze lightning vulnerability level. This research was conducted based on 2 factors to identify the lightning strikes vulnerability. The first one is the threat factor using lightning CG events in 2014-2019 and the second one is using population density and areas used as residence and building. The method used in this research is Simple Additive Weighting to calculate the lightning strike vulnerability level in several district and the result is interpreted into thematic map using ArcGis software. Based on the calculation result it shows that Bondoala, Kadia, Konda, and Moramo Utara district have the highest lightning strike vulnerability level. Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, and Soropia district have moderate level. Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, and Wua-Wua have the lowest lightning strike vulnerability level. Keywords: CG Lightning, Vulnerability Level, Simple Additive Weighting

Collaboration network of the authors

40 authors · 148 co-authorship links · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Fitriani FitrianiAffiliation unknown10
Jamal HarimuddinAffiliation unknown6
Anita IndriasaryAffiliation unknown6
Fitra SalehAffiliation unknown6
Sawaludin SawaludinAffiliation unknown5
Muliddin MuliddinAffiliation unknown5
Jufri KarimUniversitas Halu Oleo4
Ahmad HidayatAffiliation unknown4
Weka WidayatiAffiliation unknown4
Wahab WahabUniversitas Halu Oleo3
Hasbullah SyafAffiliation unknown3
Golok JayaAffiliation unknown3
Iradat SalihinAffiliation unknown3
Noor Husna KhairisaAffiliation unknown3
Sarini sariniAffiliation unknown2
Erwin AnshariAffiliation unknown2
Hasria HasriaAffiliation unknown2
Ardi ArdiAffiliation unknown2
La Ode AlwiUniversitas Halu Oleo2
Jahidin JahidinAffiliation unknown2
Eka AprianaAffiliation unknown2
Hazriani HazrianiAffiliation unknown2
Marwan Zam MiliAffiliation unknown1
Fais SharfanAffiliation unknown1
La ToberAffiliation unknown1
Agus SupriatnoAffiliation unknown1
La Ode M Golok JayaAffiliation unknown1
Erlin SarfidarAffiliation unknown1
Harziman NingratAffiliation unknown1
YUnarni YunarniAffiliation unknown1
Analuddin AnaluddinUniversitas Halu Oleo1
Lukman YunusAffiliation unknown1
Ansyahrul MukmininAffiliation unknown1
Anita IndirasaryAffiliation unknown1
Adin Fitra IrawanAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/jagat/oai, first harvested 30 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">PEMETAAN WILAYAH KAWASAN RAWAN PETIR MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (STUDI KASUS: KOTA KENDARI, KONAWE SELATAN, KONAWE)</dc:title>
	<dc:creator>Purba, Joshua</dc:creator>
	<dc:creator>Restele, La Ode</dc:creator>
	<dc:creator>Harimudin, Jamal</dc:creator>
	<dc:creator>Nurgiantoro, Nurgiantoro</dc:creator>
	<dc:creator>Ido, Irfan</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Abstrak: Petir merupakan suatu proses pelepasan muatan listrik dari awan bermuatan (cumulonimbus (Cb)) yang terdapat di atmosfer. Aktivitas pelepasan muatan yang menuju objek tertentu dinamakan sambaran petir yang mana memiliki kekuatan yang beragam. Petir yang terjadi di atmosfer umum terjadi, namun apabila sambaran petir sampai ke daratan dan memiliki kekuatan yang besar dapat mengancam keselamatan jiwa dan harta benda manusia. Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Konawe berada di wilayah iklim tropis dengan curah hujan tinggi yang terbentuk dari awan cumulonimbus yang dapat membentuk petir. Dikarenakan wilayah ini memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi disertai pembangunan infrastruktur yang semakin berkembang sehingga perlu dilakukan  suatu  penelitian untuk menganalisis tingkat kerawanan sambaran petir. Terdapat 2 Faktor yang diperlukan untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan sambaran petir, yaitu faktor ancaman menggunakan data kejadian petir CG (Cloud to Ground) tahun 2014–2019 dan faktor  kerentanan menggunakan data kepadatan penduduk dan luas lahan untuk rumah dan bangunan. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah Metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk mendapatkan tingkat  kerawanan  sambaran petir pada beberapa kecamatan yang diinterpretasikan ke dalam peta tematik menggunakan software ArcGIS. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecamatan Bondoala, Kadia, Konda, dan Moramo Utara  memiliki  nilai  tingkat  kerawanan sambaran  petir  tinggi.  Kecamatan Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, dan Soropia memiliki tingkat kerawanan sedang. Kecamatan Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, dan Wua-Wua memiliki tingkat kerawanan rendah. Kata kunci: Petir CG, Tingkat Kerawanan, Simple  Additive Weighting Abstract: Lightning is an electrical discharge process from loaded cloud (cumulonimbus (Cb)) that occurs in the atmosphere. The electrical discharge activity towards a particular object is called a lightning strike which has various strength. Lightning usually occurs in the atmosphere but if the lightning strike reaches the land and has a great power it can threatens the safety of human life and property. Kendari City, Konawe Selatan, and Konawe is a lightning strike prone area located on tropical high rainfall level potentially forming thunder cloud (cumulonimbus). Due to high population density and infrastructure development in this region, so that a research is needed to analyze lightning vulnerability level. This research was conducted based on 2 factors to identify the lightning strikes vulnerability. The first one is the threat factor using lightning CG events in 2014-2019 and the second one is using population density and areas used as residence and building. The method used in this research is Simple Additive Weighting to calculate the lightning strike vulnerability level in several district and the result is interpreted into thematic map using ArcGis software. Based on the calculation result it shows that Bondoala, Kadia, Konda, and Moramo Utara district have the highest lightning strike vulnerability level. Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, and Soropia district have moderate level. Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, and Wua-Wua have the lowest lightning strike vulnerability level. Keywords: CG Lightning, Vulnerability Level, Simple  Additive Weighting</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Halu Oleo University</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-11-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/jagat/article/view/28312</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33772/jagat.v6i2.28312</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi); Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi); 354-368</dc:source>
	<dc:source>2684-6705</dc:source>
	<dc:source>10.33772/jagat.v6i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/jagat/article/view/28312/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>