Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

EKSISTENSI BUDAYA PENCAK SILAT (MANSA’A) DI DESA TINDOI KECAMATAN WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI

SOCIETAL · Vol. 7 No. 2 (2020) · pp. 160–168

Published
2020-10-28
Publisher
SOCIETAL
Language
eng

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan secara kualitatif di Desa Tindoi Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Eksisnya Budaya Pencak Silat (Mansa’a) karena merupakan budaya sejak dulu dan sifatnya turun temurun kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 2 macam Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) yaitu tatanan nilai dana tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan). Tatanan nilai, masyarakat Desa Tindoi dulunya dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) masih memahami, menjaga, mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan) dan sekarang tidak lagi memahami, menjaga, dan mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan). Tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan) ada 3 macam yaitu waktu pelaksanaan, pakaian yang digunakan, dan proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a). Dalam pelaksanaan kegiatan, dilaksanakan pada hari-hari yang tidak ditentukan waktunya, dan sekarang dilaksanakan pada hari-hari yang ditentukan yang sifatnya resmi atau sah seperti dalam acara pesta adat kampung. Pakaian yang digunakan dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) dulunya masih menggunakan pakaian adat seperti peci adat dan sarung tenun adat dan sekarang tidak lagi menggunakan pakaian seperti peci dan sarung tenun adat terkecuali pada acara festival budaya. Sedangkan pada proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a), dulunya masyarakat masih memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang memukul gendang dan sekarang masyarakat tidak lagi atau jarang sekali memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang yang memukul gendang ketika masuk untuk memulai memainkan Pencak Silat (Mansa’a). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan nilai-nilai sosial terhadap Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) di Desa Tindoi yaitu ada 3 faktor yaitu penyimpangan sosial, teknologi, dan modernisasi.

Collaboration network of the authors

40 authors · 239 co-authorship links · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Sulsalman MoitaUniversitas Halu Oleo7
Sarpin SarpinUniversitas Halu Oleo6
Bakri YusufUniversitas Halu Oleo6
Dewi AnggrainiAffiliation unknown5
Ratna SupiyahUniversitas Halu Oleo5
Jamaluddin HosUniversitas Halu Oleo5
Megawati Asrul TawuloUniversitas Halu Oleo5
Darmin TuwuUniversitas Halu Oleo4
Damsid DamsidAffiliation unknown4
Sarmadan SarmadanAffiliation unknown4
Ambo UpeUniversitas Halu Oleo4
Harnina RidwanUniversitas Halu Oleo3
Amin TundaUniversitas Halu Oleo3
Juhaepa JuhaepaUniversitas Halu Oleo3
Tanzil TanzilUniversitas Halu Oleo3
Masrul MasrulUniversitas Halu Oleo2
Ikrima NurfikriaUniversitas Halu Oleo2
Sitti Hairani IdrusUniversitas Halu Oleo2
Syaifuddin S. KasimAffiliation unknown2
Wa Ode LusianaiUniversitas Halu Oleo2
Muh. ArsyadUniversitas Halu Oleo2
La Ode Monto BautoUniversitas Halu Oleo2
Hisna TomsioAffiliation unknown2
Megawati A. TawuloAffiliation unknown2
Bahtiar BahtiarUniversitas Halu Oleo2
Nurul Rezky FitrianaAffiliation unknown1
Akfan AkfanUniversitas Halu Oleo1
Muhammad Aqil RusliUniversitas Halu Oleo1
La TarifuUniversitas Halu Oleo1
WaOde Sitti MarlindoAffiliation unknown1
Fera Tri SusilawatyUniversitas Halu Oleo1
La Ode Muh. UmranUniversitas Halu Oleo1
La TayaUniversitas Halu Oleo1
Erni QomariahUniversitas Halu Oleo1
Sirajuddin SirajuddinUniversitas Halu Oleo1
La Ode Muhammad Golok JayaUniversitas Halu Oleo1
Waode LusianaiAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/societal/oai, first harvested 30 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">EKSISTENSI BUDAYA PENCAK SILAT (MANSA’A) DI DESA TINDOI KECAMATAN WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI</dc:title>
	<dc:creator>Masiadi, Masiadi</dc:creator>
	<dc:creator>Roslan, Suharty</dc:creator>
	<dc:creator>Jabar, Aryuni Salpiana</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penelitian ini dilaksanakan secara kualitatif di Desa Tindoi Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Eksisnya Budaya Pencak Silat (Mansa’a) karena merupakan budaya sejak dulu dan sifatnya turun temurun kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 2 macam Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) yaitu tatanan nilai dana tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan). Tatanan nilai, masyarakat Desa Tindoi dulunya dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) masih memahami, menjaga, mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan) dan sekarang tidak lagi memahami, menjaga, dan mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan). Tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan) ada 3 macam yaitu waktu pelaksanaan, pakaian yang digunakan, dan proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a). Dalam pelaksanaan kegiatan, dilaksanakan pada hari-hari yang tidak ditentukan waktunya, dan sekarang dilaksanakan pada hari-hari yang ditentukan yang sifatnya resmi atau sah seperti dalam acara pesta adat kampung. Pakaian yang digunakan dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) dulunya masih menggunakan pakaian adat seperti peci adat dan sarung tenun adat dan sekarang tidak lagi menggunakan pakaian seperti peci dan sarung tenun adat terkecuali pada acara festival budaya. Sedangkan pada proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a), dulunya masyarakat masih memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang memukul gendang dan sekarang masyarakat tidak lagi atau jarang sekali memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang yang memukul gendang ketika masuk untuk memulai memainkan Pencak Silat (Mansa’a). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan nilai-nilai sosial terhadap Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) di Desa Tindoi yaitu ada 3 faktor yaitu penyimpangan sosial, teknologi, dan modernisasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">SOCIETAL</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-10-28</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/societal/article/view/15755</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">SOCIETAL; Vol 7, No 2 (2020): Edisi Oktober; 160-168</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/societal/article/view/15755/10628</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 SOCIETAL</dc:rights>
</oai_dc:dc>