Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Proses Adat Dalam Pernikahan Masyarakat Muna (Studi di Desa Labaha Kecamatan Watopute Kabupaten Muna)

Gemeinschaft · Vol. 4 No. 2 (2022) · pp. 212–218

DOI
10.52423/gjmpp.v4i2.21177
ISSN
2714-8904
Published
2022-10-12
Publisher
Jurusan Sosiologi FISIP UHO
Language
eng

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Proses Adat pernikahan masyarakat Suku Muna Desa Labaha, Kecamatan Watopute, Kabupaten Muna, serta untuk mengtahui alasan masyarakat Desa Labaha Kecamatan Watopute Kabuten Muna masih mempertahankan Adat pernikahan Suku Muna. Metode dalam penelitian ini adalah Penelitian deskriptif Kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya yaitu studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menujukan bahwa proses pernikahan adat Muna di Desa Labaha, Kecamatan Watopute Kabupaten Muna, terdapat empat belas proses Adat pernikahan yang harus dilalui sebelum dan sesudah akad nikah yaitu, (1) Dempali-pali, (memperkenalkan diri) (2) Fenano Tungguno karete, (Mempertanyakan status sekaligus melamar), (3) Tindaki, (kepastian jawaban), (4) De to, (penentuan waktu pelaksanaan pernikahan dan uang dimakan api), sedangkan (5) Kafiena (Pertanyaan secara tersirat dalam bentuk penyerahan cicin dan uang adat) ini juga merupakan rangkain proses adat yang dilakukan pada saat hari pernikahan yang didalamnya ada enam proses yaitu, Kantaburi, Paniwi, Adhati bhalanao/Sandino Adhati, Lalino Ghawi, kaokanuha, Kakawi/Katangka, (6) Kafoatoha (Proses pengantaran saat Kafelesao dan kafosulino katulu). Terdapat tiga alasan masyarakat Muna di desa Labaha, Kecamatan Watopute, kabupaten Muna masih mempertahankan adat pernikahan suku Muna yaitu, adanya kepercayaan leluhur, sebagai fondasi dasar pemahaman tentang pernikahan yang sakral, dan merupakan proses tata krama untuk mewujudkan suatu pernikahan yang sakral bagi masyarakat Muna.

Collaboration network of the authors

40 authors · 253 co-authorship links · 2 across different organisations · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Universitas Muhammadiyah Parepare
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Ratna SupiyahUniversitas Halu Oleo9
Bakri YusufUniversitas Halu Oleo8
Syaifudin Suhri KasimUniversitas Halu Oleo6
Ambo UpeUniversitas Halu Oleo4
Masrul MasrulUniversitas Halu Oleo4
Megawati Asrul TawuloUniversitas Halu Oleo4
Suharty RoslanUniversitas Halu Oleo4
Peribadi PeribadiUniversitas Halu Oleo3
Sulsalman MoitaUniversitas Halu Oleo3
Megawati A. TawuloAffiliation unknown3
Amin TundaUniversitas Halu Oleo3
Aryuni Salpiana JabarUniversitas Halu Oleo3
Damsid DamsidAffiliation unknown3
Bahtiar BahtiarUniversitas Halu Oleo3
Sarpin SarpinUniversitas Halu Oleo2
Darmin TuwuUniversitas Halu Oleo2
Muhammad ArsyadUniversitas Halu Oleo2
Syaifuddin S. KasimAffiliation unknown2
Sarmadan SarmadanUniversitas Halu Oleo2
Dewi AnggrainiAffiliation unknown2
La Ode Monto BautoUniversitas Halu Oleo2
Yoenita JayadisastraUniversitas Halu Oleo2
Harnina RidwanUniversitas Halu Oleo2
Sirajuddin SirajuddinUniversitas Halu Oleo2
Tanzil TanzilUniversitas Halu Oleo2
Jamaluddin HosUniversitas Halu Oleo2
Hj Ratna SupiahAffiliation unknown2
Samsul SamsulUniversitas Halu Oleo1
Muhammad Rizal ArsyadUniversitas Halu Oleo1
La Ode MontasirAffiliation unknown1
Harnianti HarniantiAffiliation unknown1
Harita HaritaAffiliation unknown1
Akfan AkfanUniversitas Halu Oleo1
Hasmi HasmiUniversitas Muhammadiyah Parepare1
Adrian TawaiUniversitas Halu Oleo1
Megawati Asrul TawuloAffiliation unknown1
La IbaAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/gemeinschaft/oai, first harvested 30 Okt 2026, last seen 30 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Proses Adat Dalam Pernikahan Masyarakat Muna (Studi di Desa Labaha Kecamatan Watopute Kabupaten Muna)</dc:title>
	<dc:creator>Musrifal, Musrifal</dc:creator>
	<dc:creator>Juhaepa, Juhaepa</dc:creator>
	<dc:creator>Sarmadan, Sarmadan</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Proses Adat pernikahan masyarakat Suku Muna Desa Labaha, Kecamatan Watopute, Kabupaten Muna, serta untuk  mengtahui  alasan  masyarakat  Desa  Labaha  Kecamatan  Watopute  Kabuten Muna masih mempertahankan Adat pernikahan Suku Muna. Metode dalam penelitian ini adalah Penelitian deskriptif Kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya yaitu studi   pustaka,   observasi,   wawancara,   dan   dokumentasi.   Hasil   penelitian   ini menujukan  bahwa  proses  pernikahan  adat  Muna  di  Desa  Labaha,  Kecamatan Watopute Kabupaten Muna, terdapat empat belas proses Adat pernikahan yang harus dilalui sebelum dan sesudah akad nikah yaitu, (1) Dempali-pali, (memperkenalkan diri) (2) Fenano Tungguno karete, (Mempertanyakan status sekaligus melamar), (3) Tindaki, (kepastian jawaban), (4) De to, (penentuan waktu pelaksanaan pernikahan dan uang dimakan api), sedangkan (5) Kafiena (Pertanyaan secara tersirat dalam bentuk penyerahan cicin dan uang adat) ini juga merupakan rangkain proses adat yang dilakukan pada saat hari pernikahan yang didalamnya ada enam proses yaitu, Kantaburi, Paniwi, Adhati bhalanao/Sandino Adhati, Lalino Ghawi, kaokanuha, Kakawi/Katangka, (6) Kafoatoha (Proses pengantaran saat Kafelesao dan kafosulino katulu). Terdapat tiga alasan masyarakat Muna di desa Labaha, Kecamatan Watopute, kabupaten Muna masih mempertahankan adat pernikahan suku Muna yaitu, adanya kepercayaan leluhur, sebagai fondasi dasar pemahaman tentang pernikahan yang sakral, dan merupakan proses tata krama untuk mewujudkan suatu pernikahan yang sakral bagi masyarakat Muna.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Sosiologi FISIP UHO</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-10-12</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/gemeinschaft/article/view/21177</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.52423/gjmpp.v4i2.21177</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Gemeinschaft; Vol 4, No 2 (2022): Edisi Oktober; 212-218</dc:source>
	<dc:source>2714-8904</dc:source>
	<dc:source>10.52423/gjmpp.v4i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/gemeinschaft/article/view/21177/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Gemeinschaft</dc:rights>
</oai_dc:dc>