Melola Discovery

← Melola Discovery

Prosiding

Heritage Building as a Third Place: Sebuah Strategi Keberlanjutan Arsitektur Kolonial di Era Modern

Seminar Nasional Teknologi Terapan Berbasis Kearifan Lokal · Vol. 1 No. 1 (2018)

Published
2018-12-27
Publisher
Seminar Nasional Teknologi Terapan Berbasis Kearifan Lokal
Language
eng

Abstract

ABSTRAK Bandung memiliki banyak bangunan peninggalan era kolonial. Sebagai langkah mempertahankan nilai sejarah,pemerintah kota Bandung telah menetapkan bangunan heritage sebagai aset kota dan sebagian ditetapkan sebagaibangunan cagar budaya. Seiring berkembangnya arsitektur dan perekonomian di era modern, bangunan heritagesemakin terancam eksistensinya. Tulisan ini akan menganalisis bangunan heritage yang dimanfaatkan fungsinyasebagai tempat nongkrong atau third place, yaitu kafe atau restoran, sebagai bentuk resiliensi bangunan heritage diera modern. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan pengelola maupunpengunjung kafe atau restoran. Fokus tulisan ini adalah menganalisis peran third place bagi pengelola maupunpengunjung akan maknanya pada bangunan heritage. Pada akhir tulisan ini disimpulkan bahwa strategimenerapkan fungsi third place dapat menghidupkan kembali bangunan heritage di era modern. Ini disebabkan olehkebutuhan masyarakat kota Bandung akan tempat nongkrong atau third place sebagai tren yang sedangberkembang, sehingga menguntungkan untuk segi ekonomi maupun untuk keberlanjutan arsitektur kolonial. Tulisanini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi dunia arsitektur untuk memahami tren dan kebutuhan masyarakat akanfungsi bangunan heritage di era modern. Kata Kunci: bangunan heritage, strategi, resiliensi, arsitektur kolonial, modern

Collaboration network of the authors

13 authors · 30 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Fathia Ayunia MaulaniAffiliation unknown1
Shofura TsabitaAffiliation unknown1
Syifa Anggita Nur YudantiAffiliation unknown1
Nissa Aulia ArdianAffiliation unknown1
Mutia A. CahyaningtyasAffiliation unknown1
Anna M. TazkiaAffiliation unknown1
Tania FitrianiAffiliation unknown1
Nissa A. ArdianiAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/snt2bkl/oai, first harvested 31 Okt 2026, last seen 31 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Heritage Building as a Third Place: Sebuah Strategi Keberlanjutan Arsitektur Kolonial di Era Modern</dc:title>
	<dc:creator>Claudia, Tifany</dc:creator>
	<dc:creator>Agung, Kristina Andre</dc:creator>
	<dc:creator>Nathania, Grace</dc:creator>
	<dc:creator>Ekomadyo, Agus s</dc:creator>
	<dc:creator>Ardia, Nissa A.</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRAK  Bandung memiliki banyak bangunan peninggalan era kolonial. Sebagai langkah mempertahankan nilai sejarah,pemerintah kota Bandung telah menetapkan bangunan heritage sebagai aset kota dan sebagian ditetapkan sebagaibangunan cagar budaya. Seiring berkembangnya arsitektur dan perekonomian di era modern, bangunan heritagesemakin terancam eksistensinya. Tulisan ini akan menganalisis bangunan heritage yang dimanfaatkan fungsinyasebagai tempat nongkrong atau third place, yaitu kafe atau restoran, sebagai bentuk resiliensi bangunan heritage diera modern. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan pengelola maupunpengunjung kafe atau restoran. Fokus tulisan ini adalah menganalisis peran third place bagi pengelola maupunpengunjung akan maknanya pada bangunan heritage. Pada akhir tulisan ini disimpulkan bahwa strategimenerapkan fungsi third place dapat menghidupkan kembali bangunan heritage di era modern. Ini disebabkan olehkebutuhan masyarakat kota Bandung akan tempat nongkrong atau third place sebagai tren yang sedangberkembang, sehingga menguntungkan untuk segi ekonomi maupun untuk keberlanjutan arsitektur kolonial. Tulisanini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi dunia arsitektur untuk memahami tren dan kebutuhan masyarakat akanfungsi bangunan heritage di era modern.  Kata Kunci: bangunan heritage, strategi, resiliensi, arsitektur kolonial, modern </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Seminar Nasional Teknologi Terapan Berbasis Kearifan Lokal</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US">ITB</dc:contributor>
	<dc:date>2018-12-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/snt2bkl/article/view/5238</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Seminar Nasional Teknologi Terapan Berbasis Kearifan Lokal; Vol 1, No 1 (2018): Seminar Nasional Teknologi Terapan Berbasis Kearifan Lokal (SNT2BKL)</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/snt2bkl/article/view/5238/3901</dc:relation>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/snt2bkl/article/downloadSuppFile/5238/289</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2018 Seminar Nasional Teknologi Terapan Berbasis Kearifan Lokal</dc:rights>
</oai_dc:dc>