Seminar Nasional Teknologi Terapan Berbasis Kearifan Lokal
Language
eng
Abstract
ABSTRAK Bandung memiliki banyak bangunan peninggalan era kolonial. Sebagai langkah mempertahankan nilai sejarah,pemerintah kota Bandung telah menetapkan bangunan heritage sebagai aset kota dan sebagian ditetapkan sebagaibangunan cagar budaya. Seiring berkembangnya arsitektur dan perekonomian di era modern, bangunan heritagesemakin terancam eksistensinya. Tulisan ini akan menganalisis bangunan heritage yang dimanfaatkan fungsinyasebagai tempat nongkrong atau third place, yaitu kafe atau restoran, sebagai bentuk resiliensi bangunan heritage diera modern. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan pengelola maupunpengunjung kafe atau restoran. Fokus tulisan ini adalah menganalisis peran third place bagi pengelola maupunpengunjung akan maknanya pada bangunan heritage. Pada akhir tulisan ini disimpulkan bahwa strategimenerapkan fungsi third place dapat menghidupkan kembali bangunan heritage di era modern. Ini disebabkan olehkebutuhan masyarakat kota Bandung akan tempat nongkrong atau third place sebagai tren yang sedangberkembang, sehingga menguntungkan untuk segi ekonomi maupun untuk keberlanjutan arsitektur kolonial. Tulisanini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi dunia arsitektur untuk memahami tren dan kebutuhan masyarakat akanfungsi bangunan heritage di era modern. Kata Kunci: bangunan heritage, strategi, resiliensi, arsitektur kolonial, modern
Collaboration network of the authors
13 authors ·
30 co-authorship links
Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.
Affiliation unknown
Different organisations
Same organisation
Affiliation unknown
Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.