Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

ADAT PERKAWINAN SUKU MORONENE DI DESA LANGKEMA KECAMATAN KABAENA SELATAN KABUPATEN BOMBANA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO · Vol. 5 No. 3 (2020) · pp. 213–226

DOI
10.36709/jpps.v5i3.15675
ISSN
2502-6674, 2502-6666
Published
2020-12-25
Publisher
Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo
Language
eng
License
creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0

Abstract

ABSTRAK: Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk menjelaskan proses pelaksanaan adat perkawinna Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. (2) Untuk menjelaskan perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. (3) Untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. Jenis dan pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin yang terdiri atas pengumpulan data (heuristik), kritik data (verifikasi data), dan penulisan sejarah (historiografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana terdiri dari 3 tahap yaitu: 1) Podioha ninyapi (pelamaran), dalam tahap ini terbagi menjadi 2 bagian yang pertama, modio hartia (menyampaikan maksud) dan kedua mongapi (melamar). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (membawa bahan makanan dan penanyaan). Tahap ini terbagi menjadi 4 bagian, yang pertama waktu pelaksanaan pontangkia, kedua pontangkia (membawa bahan makanan), ketiga pompetukanaiha (penanyaan), keempat totolea (penentuan mahar). Dan terakhir tahap ke 3) Lumanga (penyerahan mahar adat/benda adat), tata cara pelaksanaan lumanga, pertama morongo kompe, kedua mesua bolo raha (masuk dalam rumah pengantin perempuan), ketiga montunu peahu (membakar rokok), keempat tuduako langa (penyerahan benda adat), kelima akad nikah, keenam molangarako (membawa pengantin perempuan kerumah pengantin pria) dan terakhir mohuletako alo (pasangan pengantin kembali kerumah pengantin perempuan). 2). Perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema yaitu: (a) Disepakati adanya Rumpantole (adat dipersingkat) yaitu Pompetukanaiha dan Lumanga dapat dilaksanakan dalam waktu/hari yang sama. Sedangkan sebelumnya antara Pompetukanaiha dan Lumanga jarak waktunya sampai 7 tahun. (b) Pada saat Modio Ninyapi ada bungkusan yang ditampilkan. Bungkusan tersebut memakai kertas putih polos yang ikatannya terbuat dari daun agel yang diberi warna kasumba merah, setelah diadakannya seminar tahun 2006 kesepakatan itu dirubah, bungkusan yang diikat pakai daun agen itu dirubah dengan menggunakan benang wol berwarna merah. 3). Nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema adalah: (1) Nilai religius (agama) adalah suatu nilai yang terkait dengan keberadaan manusia itu sebagia hamba Allah. (2) Nilai kekeluargaan yaitu setiap kegiatan yang melibatkan keluarga melalui kerja sama. (3) Nilai pendidikan yaitu nilai yang dapat meningkatkan kecerdasan dalam meraih sukses. (4) Nilai estetika yaitu dipandang dari segi keindahan. Kata Kunci: Perkawinan, Masyarakat dan Sejarah. ABSTRACT: The objectives of this study are: 1) To describe the process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 2) To explain the symbolic meaning in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 3) To explain the value -values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency. The method used in this research is the historical research method according to Helius Sjamsuddin with the following steps: 1) Source collection (heuristics), 2) Source criticism (verification), 3) Historical writing (historiography). The results of this study indicate that: 1) The process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consists of; a) The preparation stage, namely the tools used in the implementation of the chamomose tradition are: (1) Gendang (double dhawa), made of goat or cow skin, (2) Mbilolo (gong), made of brass used to accompany chamomose events, (3) Dhawa-dhawa, is a traditional musical instrument installed near the mbilolo, (4) Ndengu-ndengu, a traditional musical instrument made of brass consisting of three pieces. b) The implementation stage, namely; (1) When the chamomose tradition starts at 8:00 p.m. until finished, (2) Kalampi is the clothes worn by the chamomose participants, (3) Pu'uno lambu is the organizer of the chamomose tradition, 4) Fopangano is a participant who sits in the chamomose and sower event drum. 2) The symbolic meaning contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, which is as a unifying tool to foster a close relationship in Gu Timur Village. 3) The values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consist of; a) Spiritual value, which is implemented according to religious rules, b) Ethical values, namely a form of good attitude so that they always live side by side and help each other and, c) Aesthetic values, namely giving beauty to all participants who follow the kamomose tradition Keywords: Tradition, Chamomose, Finding a Match, Gu Timur Village

Collaboration network of the authors

13 authors · 16 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Sulawesi Tenggara
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Pendais HakAffiliation unknown2
HASWATI HASWATIAffiliation unknown1
Abdul Halim MomoAffiliation unknown1
hayari hayariAffiliation unknown1
Kiki ZaskiaAffiliation unknown1
Febriyanti FebriyantiAffiliation unknown1
Ashar AsharUniversitas Sulawesi Tenggara1
Nurfardila IndomananAffiliation unknown1
Ramadan UgaAffiliation unknown1
Oman TasripAffiliation unknown1
MIFTAHUL KHOIRUN NISAAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/oai, first harvested 31 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">ADAT PERKAWINAN SUKU MORONENE DI DESA LANGKEMA KECAMATAN KABAENA SELATAN KABUPATEN BOMBANA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH</dc:title>
	<dc:creator>Darmayanti, Dila</dc:creator>
	<dc:creator>Mursidin T, Mursidin T</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRAK: Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk menjelaskan proses pelaksanaan adat perkawinna Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. (2) Untuk menjelaskan perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. (3) Untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. Jenis dan pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin yang terdiri atas pengumpulan data (heuristik), kritik data (verifikasi data), dan penulisan sejarah (historiografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana terdiri dari 3 tahap yaitu: 1) Podioha ninyapi (pelamaran), dalam tahap ini terbagi menjadi 2 bagian yang pertama, modio hartia (menyampaikan maksud) dan kedua mongapi (melamar). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (membawa bahan makanan dan penanyaan). Tahap ini terbagi menjadi 4 bagian, yang pertama waktu pelaksanaan pontangkia, kedua pontangkia (membawa bahan makanan), ketiga pompetukanaiha (penanyaan), keempat totolea (penentuan mahar). Dan terakhir tahap ke 3) Lumanga (penyerahan mahar adat/benda adat), tata cara pelaksanaan lumanga, pertama morongo kompe, kedua mesua bolo raha (masuk dalam rumah pengantin perempuan), ketiga montunu peahu (membakar rokok), keempat tuduako langa (penyerahan benda adat), kelima akad nikah, keenam molangarako (membawa pengantin perempuan kerumah pengantin pria) dan terakhir mohuletako alo (pasangan pengantin kembali kerumah pengantin perempuan). 2). Perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema yaitu: (a) Disepakati adanya Rumpantole (adat dipersingkat) yaitu Pompetukanaiha dan Lumanga dapat dilaksanakan dalam waktu/hari yang sama. Sedangkan sebelumnya antara Pompetukanaiha dan Lumanga jarak waktunya sampai 7 tahun. (b) Pada saat Modio Ninyapi ada bungkusan yang ditampilkan. Bungkusan tersebut memakai kertas putih polos yang ikatannya terbuat dari daun agel yang diberi warna kasumba merah, setelah diadakannya seminar tahun 2006 kesepakatan itu dirubah, bungkusan yang diikat pakai daun agen itu dirubah dengan menggunakan benang wol berwarna merah.  3). Nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema adalah: (1) Nilai religius (agama) adalah suatu nilai yang terkait dengan keberadaan manusia itu sebagia hamba Allah. (2) Nilai kekeluargaan yaitu setiap kegiatan yang melibatkan keluarga melalui kerja sama. (3) Nilai pendidikan yaitu nilai yang dapat meningkatkan kecerdasan dalam meraih sukses. (4) Nilai estetika yaitu dipandang dari segi keindahan. Kata Kunci: Perkawinan, Masyarakat dan Sejarah.      ABSTRACT: The objectives of this study are: 1) To describe the process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 2) To explain the symbolic meaning in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 3) To explain the value -values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency. The method used in this research is the historical research method according to Helius Sjamsuddin with the following steps: 1) Source collection (heuristics), 2) Source criticism (verification), 3) Historical writing (historiography). The results of this study indicate that: 1) The process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consists of; a) The preparation stage, namely the tools used in the implementation of the chamomose tradition are: (1) Gendang (double dhawa), made of goat or cow skin, (2) Mbilolo (gong), made of brass used to accompany chamomose events, (3) Dhawa-dhawa, is a traditional musical instrument installed near the mbilolo, (4) Ndengu-ndengu, a traditional musical instrument made of brass consisting of three pieces. b) The implementation stage, namely; (1) When the chamomose tradition starts at 8:00 p.m. until finished, (2) Kalampi is the clothes worn by the chamomose participants, (3) Pu'uno lambu is the organizer of the chamomose tradition, 4) Fopangano is a participant who sits in the chamomose and sower event drum. 2) The symbolic meaning contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, which is as a unifying tool to foster a close relationship in Gu Timur Village. 3) The values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consist of; a) Spiritual value, which is implemented according to religious rules, b) Ethical values, namely a form of good attitude so that they always live side by side and help each other and, c) Aesthetic values, namely giving beauty to all participants who follow the kamomose tradition  Keywords: Tradition, Chamomose, Finding a Match, Gu Timur Village</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-25</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/article/view/15675</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.36709/jpps.v5i3.15675</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO; Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO; 213-226</dc:source>
	<dc:source>2502-6674</dc:source>
	<dc:source>2502-6666</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/article/view/15675/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>