Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TARI LARIANGI DI DESA TAMPARA KECAMATAN KALEDUPA SELATAN KABUPATEN WAKATOBI

Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO · Vol. 5 No. 3 (2020) · pp. 180–189

DOI
10.36709/jpps.v5i3.15671
ISSN
2502-6674, 2502-6666
Published
2020-12-25
Publisher
Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo
Language
eng
License
creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0

Abstract

ABSTRAK: Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah: (I) Untuk menjelaskan tahap dan proses pelaksanaa Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi. (2) Untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi. Penelitian termasuk penelitian kualitatif jenis deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, kemudian data yang terkumpul berupa kata-kata yang di analisi dengan tekhnik analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelian menunjukan bahwa: (1) Dalam pelaksanaan Tari Lariangi ada tujuh tahap serta nilai terkandung di setiap tahapnya. Adapun tahap tersebut awali dengan, a). Hebindu (ukiran rambut) yang bermakna Fatimah anak nabi muhammad SAW, b). Tata rias wajah, c). Hepupu (gulungan rambut) bermakna bukit keraton, dan Kamba bermakna benteng Keraton Bau-bau. d) sarung Laka bermakna Ratu Wa kaaka, Lapi dan sarung Boloki bermakna baju kebesaran permaisuri raja Kaledupa. e). Baju Lariangi bermakna baju kebesaran permaisuri raja Kaledupa f). Panto bermakna payung raja Kaledupa dan Toboi bermakna meriam di Keraton. g). Gelang Sokori melambangkan derajat bangsawan. (2) Proses pelaksanaan Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi, dimulai dengan masuknya dua belas gadis remaja secara bersamaan yang berbentuk dua baris ke belakang sambil di iringi musik dan di awali dengan Sombaa’ dan kemudian mulai mengambil kedua atribut yakni Kambero kipas dan Tia-Tia (Lenso) sambil mulai bersenandung bersahut-sahutan dan memeragakan tari yang tampak seolah-olah hendak mempertahankan diri dengan kipas sebagai “tameng”nya. Kata Kunci: Tari Lariangi, Proses dan Tahap ABSTRACT: The research objectives in this study are: (I) To explain the Stage and Process of Lariangi Dance Implementation in Tampara Village, South Kaledupa District, Wakatobi Regency. (2) To Explain the Values contained in the Lariangi Dance in Tampara Village, South Kaledupa District, Wakatobi Regency. The research is descriptive qualitative research, data collection is done by using the method of observation, interviews, documentation, then the data collected in the form of words analyzed with qualitative descriptive analysis techniques. The results of the study show that: (1) In the Lariangi Dance there are seven stages and values contained in each stage. The stage begins with, a). Hebindu (hair carving) which means Fatimah, the son of Prophet Muhammad SAW, b). Facial makeup, c). Hepupu (roll of hair) means the hill of the palace, and Kamba means the fort of the Keraton Bau-bau. d) Laka sarong means Ratu Wa kaaka, Lapi and Boloki sarong mean the great empress of the king of Kaledupa. e). Baju Lariangi means the great dress of the empress of the king of Kaledupa f). Panto means umbrella of the Kaledupa king and Toboi means cannon in the palace. g). The Sokori bracelet symbolizes nobility. (2) The process of implementing Lariangi Dance in Tampara Village, South Kaledupa Subdistrict, Wakatobi Regency, begins with the entry of twelve teenage girls simultaneously in the form of two rows backwards accompanied by music and starting with Sombaa 'and then starting to take on the two attributes namely Kambero fan and Tia-Tia (Lenso) while starting to hum and shout and demonstrate a dance that looks as if it wants to defend itself with the fan as its "shield". Keywords: Lariangi Dance, Process and Stage

Collaboration network of the authors

24 authors · 33 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Muhammadiyah Parepare
  • Universitas Halu Oleo
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Dadaswati DadaswatiAffiliation unknown2
h. Abd Rauf SulaimanAffiliation unknown2
hayari hayariAffiliation unknown1
indah SafitriAffiliation unknown1
Lisna LisnaAffiliation unknown1
Andi FirmanAffiliation unknown1
Nining SaputriAffiliation unknown1
Jumsir JumsirUniversitas Muhammadiyah Parepare1
Asyana BiruAffiliation unknown1
Aswati MAffiliation unknown1
La EdiAffiliation unknown1
Irawaty IrawatyUniversitas Halu Oleo1
Ali Muh. NaimAffiliation unknown1
La Ode BaenawiAffiliation unknown1
Asmira AsmaraAffiliation unknown1
Wa RinaAffiliation unknown1
Pendais HaqAffiliation unknown1
Aulia RamayantiAffiliation unknown1
Wd. Nur ArdiantiAffiliation unknown1
Nurhayarni NuhayaniAffiliation unknown1
H. HayariAffiliation unknown1
Tri Rahayu BintarumAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/oai, first harvested 31 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TARI LARIANGI DI DESA TAMPARA KECAMATAN KALEDUPA SELATAN KABUPATEN WAKATOBI</dc:title>
	<dc:creator>Agreni, Agreni</dc:creator>
	<dc:creator>Hadara, Ali</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRAK: Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah: (I) Untuk menjelaskan tahap dan proses pelaksanaa Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi. (2) Untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi. Penelitian termasuk penelitian kualitatif jenis deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, kemudian data yang terkumpul berupa kata-kata yang di analisi dengan tekhnik analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelian menunjukan bahwa: (1) Dalam pelaksanaan Tari Lariangi ada tujuh tahap serta nilai terkandung di setiap tahapnya. Adapun tahap tersebut awali dengan, a). Hebindu (ukiran rambut) yang bermakna Fatimah anak nabi muhammad SAW, b). Tata rias wajah, c). Hepupu (gulungan rambut) bermakna bukit keraton, dan Kamba bermakna benteng Keraton Bau-bau. d) sarung Laka bermakna Ratu Wa kaaka, Lapi dan sarung Boloki bermakna baju kebesaran permaisuri raja Kaledupa. e). Baju Lariangi bermakna baju kebesaran permaisuri raja Kaledupa f). Panto bermakna payung raja Kaledupa dan Toboi bermakna meriam di Keraton. g). Gelang Sokori melambangkan derajat bangsawan. (2) Proses pelaksanaan Tari Lariangi di Desa Tampara Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi, dimulai dengan masuknya dua belas gadis remaja secara bersamaan yang berbentuk dua baris ke belakang sambil di iringi musik dan di awali dengan Sombaa’ dan kemudian mulai mengambil kedua atribut yakni Kambero kipas dan Tia-Tia (Lenso) sambil mulai bersenandung bersahut-sahutan dan memeragakan tari yang tampak seolah-olah hendak mempertahankan diri dengan kipas sebagai “tameng”nya. Kata Kunci: Tari Lariangi, Proses dan Tahap ABSTRACT: The research objectives in this study are: (I) To explain the Stage and Process of Lariangi Dance Implementation in Tampara Village, South Kaledupa District, Wakatobi Regency. (2) To Explain the Values contained in the Lariangi Dance in Tampara Village, South Kaledupa District, Wakatobi Regency. The research is descriptive qualitative research, data collection is done by using the method of observation, interviews, documentation, then the data collected in the form of words analyzed with qualitative descriptive analysis techniques. The results of the study show that: (1) In the Lariangi Dance there are seven stages and values contained in each stage. The stage begins with, a). Hebindu (hair carving) which means Fatimah, the son of Prophet Muhammad SAW, b). Facial makeup, c). Hepupu (roll of hair) means the hill of the palace, and Kamba means the fort of the Keraton Bau-bau. d) Laka sarong means Ratu Wa kaaka, Lapi and Boloki sarong mean the great empress of the king of Kaledupa. e). Baju Lariangi means the great dress of the empress of the king of Kaledupa f). Panto means umbrella of the Kaledupa king and Toboi means cannon in the palace. g). The Sokori bracelet symbolizes nobility. (2) The process of implementing Lariangi Dance in Tampara Village, South Kaledupa Subdistrict, Wakatobi Regency, begins with the entry of twelve teenage girls simultaneously in the form of two rows backwards accompanied by music and starting with Sombaa 'and then starting to take on the two attributes namely Kambero fan and Tia-Tia (Lenso) while starting to hum and shout and demonstrate a dance that looks as if it wants to defend itself with the fan as its "shield". Keywords: Lariangi Dance, Process and Stage</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-25</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/article/view/15671</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.36709/jpps.v5i3.15671</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO; Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO; 180-189</dc:source>
	<dc:source>2502-6674</dc:source>
	<dc:source>2502-6666</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/article/view/15671/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>