Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

ADAT PERKAWINAN SUKU MORONENE DI DESA LANGKEMA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO · Vol. 6 No. 1 (2021)

DOI
10.36709/jpps.v6i1.19228
ISSN
2502-6674, 2502-6666
Published
2021-07-26
Publisher
Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo
Language
eng
License
creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah: Untuk menjelaskan proses pelaksanaan, perubahan dan nilai adat perkawinna Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan pendekatan antropologis, metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri atas (heuristik), verifikasi data, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema terdiri dari 3 tahap yaitu: 1) Podioha ninyapi (pelamaran), dalam tahap ini terbagi menjadi 2 bagian yang pertama, modio hartia (menyampaikan maksud) dan kedua mongapi (melamar). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (membawa bahan makanan dan penanyaan). Tahap ini terbagi menjadi 4 bagian, yang pertama waktu pelaksanaan pontangkia, kedua pontangkia (membawa bahan makanan), ketiga pompetukanaiha (penanyaan), keempat totolea (penentuan mahar). Dan terakhir tahap ke 3) Lumanga (penyerahan mahar adat/benda adat), tata cara pelaksanaan lumanga, pertama morongo kompe, kedua mesua bolo raha (masuk dalam rumah pengantin perempuan), ketiga montunu peahu (membakar rokok), keempat tuduako langa (penyerahan benda adat), kelima akad nikah, keenam molangarako (membawa pengantin perempuan kerumah pengantin pria) dan terakhir mohuletako alo (pasangan pengantin kembali kerumah pengantin perempuan). 2). Perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema yaitu: (a) Disepakati adanya Rumpantole (adat dipersingkat) yaitu Pompetukanaiha dan Lumanga dapat dilaksanakan dalam waktu/hari yang sama. Sedangkan sebelumnya antara Pompetukanaiha dan Lumanga jarak waktunya sampai 7 tahun. (b) Pada saat Modio Ninyapi ada bungkusan yang ditampilkan. Bungkusan tersebut memakai kertas putih polos yang ikatannya terbuat dari daun agel yang diberi warna kasumba merah, setelah diadakannya seminar tahun 2006 kesepakatan itu dirubah, bungkusan yang diikat pakai daun agen itu dirubah dengan menggunakan benang wol berwarna merah. 3). Nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema adalah: (1) Nilai religius (agama) adalah suatu nilai yang terkait dengan keberadaan manusia itu sebagia hamba Allah. (2) Nilai kekeluargaan yaitu setiap kegiatan yang melibatkan keluarga melalui kerja sama. (3) Nilai pendidikan yaitu nilai yang dapat meningkatkan kecerdasan dalam meraih sukses. (4) Nilai estetika yaitu dipandang dari segi keindahan. Kata Kunci: Perkawinan, Masyarakat dan Sejarah. ABSTRACT: The objectives of this study are: To explain the process of implementation, change and the customary values of the Moronene tribe of marriage in Langkema Village, Kabaena Selatan District, Bombana Regency from a historical perspective. This type of research is historical research with an anthropological approach, the method used is the historical method consisting of (heuristics), data verification, and historiography. The results showed that: 1) The process of implementing the Moronene tribe's marriage customs in Langkema Village consists of 3 stages, namely: 1) Podioha ninyapi (application), in this stage it is divided into 2 parts, the first, modio hartia (conveying intent) and the second mongapi (apply). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (bring groceries and questions). This stage is divided into 4 parts, the first is the pontangkia implementation, the second is the pontangkia (bringing food ingredients), the third is pompetukanaiha (questions), the fourth is totolea (determining the dowry). And finally the third stage) Lumanga (handover of a customary dowry / customary object), the procedure for implementing the lumanga, first morongo kompe, second mesua bolo raha (entering the house of the bride), third montunu peahu (burning cigarettes), fourth tuduako langa (submission customary objects), the five marriage contracts, the six molangarako (bringing the bride to the groom's house) and finally the mohuletako alo (the bride and groom returning to the bride's house). 2). Changes in the marriage custom of the Moronene Tribe in Langkema Village, namely: (a) It is agreed that a Rumpantole (abbreviated tradition), namely Pompetukanaiha and Lumanga, can be carried out within the same time / day Whereas previously between Pompetukanaiha and Lumanga the time gap was up to 7 years. (b) At the time of Modio Ninyapi a package was displayed. The package used plain white paper tied with agel leaves colored with red kasumba. After the 2006 seminar the agreement was changed, the package tied with agent leaves was changed using red wool yarn. 3). The values contained in the marriage customs of the Moronene Tribe in Langkema Village are: (1) Religious value (religion) is a value related to human existence as a servant of God. (2) Family values, namely any activity that involves the family through cooperation. (3) The value of education is the value that can increase intelligence in achieving success. (4) Aesthetic value, namely in terms of beauty. Keywords: Marriage, Society and History.

Collaboration network of the authors

18 authors · 25 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Institut Agama Islam Negeri Parepare
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Muh. AbasAffiliation unknown2
Mursidin T Mursidin TAffiliation unknown2
Rahmania RahmaniaAffiliation unknown1
Aswati MAffiliation unknown1
Muchlis MuchlisAffiliation unknown1
Darnawati DarnawatiAffiliation unknown1
Fitriani FitrianiAffiliation unknown1
Anwar AnwarAffiliation unknown1
Harnita HarnitaAffiliation unknown1
Murtia MurtiaAffiliation unknown1
Aas Putri ApriliaAffiliation unknown1
La Ode MarhiniAffiliation unknown1
siti RohaniAffiliation unknown1
Nurfardila IndomananAffiliation unknown1
Noni IndrianiAffiliation unknown1
Munawir MunawirInstitut Agama Islam Negeri Parepare1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/oai, first harvested 31 Okt 2026, last seen 31 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">ADAT PERKAWINAN SUKU MORONENE DI DESA LANGKEMA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH</dc:title>
	<dc:creator>Darmayanti, Dila</dc:creator>
	<dc:creator>Hak, Pendais</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Tujuan dalam penelitian ini adalah: Untuk menjelaskan proses pelaksanaan, perubahan dan nilai adat perkawinna Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan pendekatan antropologis, metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri atas (heuristik), verifikasi data, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema terdiri dari 3 tahap yaitu: 1) Podioha ninyapi (pelamaran), dalam tahap ini terbagi menjadi 2 bagian yang pertama, modio hartia (menyampaikan maksud) dan kedua mongapi (melamar). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (membawa bahan makanan dan penanyaan). Tahap ini terbagi menjadi 4 bagian, yang pertama waktu pelaksanaan pontangkia, kedua pontangkia (membawa bahan makanan), ketiga pompetukanaiha (penanyaan), keempat totolea (penentuan mahar). Dan terakhir tahap ke 3) Lumanga (penyerahan mahar adat/benda adat), tata cara pelaksanaan lumanga, pertama morongo kompe, kedua mesua bolo raha (masuk dalam rumah pengantin perempuan), ketiga montunu peahu (membakar rokok), keempat tuduako langa (penyerahan benda adat), kelima akad nikah, keenam molangarako (membawa pengantin perempuan kerumah pengantin pria) dan terakhir mohuletako alo (pasangan pengantin kembali kerumah pengantin perempuan).  2). Perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema yaitu: (a) Disepakati adanya Rumpantole (adat dipersingkat) yaitu Pompetukanaiha dan Lumanga dapat dilaksanakan dalam waktu/hari yang sama. Sedangkan sebelumnya antara Pompetukanaiha dan Lumanga jarak waktunya sampai 7 tahun. (b) Pada saat Modio Ninyapi ada bungkusan yang ditampilkan. Bungkusan tersebut memakai kertas putih polos yang ikatannya terbuat dari daun agel yang diberi warna kasumba merah, setelah diadakannya seminar tahun 2006 kesepakatan itu dirubah, bungkusan yang diikat pakai daun agen itu dirubah dengan menggunakan benang wol berwarna merah.  3). Nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema adalah: (1) Nilai religius (agama) adalah suatu nilai yang terkait dengan keberadaan manusia itu sebagia hamba Allah. (2) Nilai kekeluargaan yaitu setiap kegiatan yang melibatkan keluarga melalui kerja sama. (3) Nilai pendidikan yaitu nilai yang dapat meningkatkan kecerdasan dalam meraih sukses. (4) Nilai estetika yaitu dipandang dari segi keindahan. Kata Kunci: Perkawinan, Masyarakat dan Sejarah. ABSTRACT: The objectives of this study are: To explain the process of implementation, change and the customary values of the Moronene tribe of marriage in Langkema Village, Kabaena Selatan District, Bombana Regency from a historical perspective. This type of research is historical research with an anthropological approach, the method used is the historical method consisting of (heuristics), data verification, and historiography. The results showed that: 1) The process of implementing the Moronene tribe's marriage customs in Langkema Village consists of 3 stages, namely: 1) Podioha ninyapi (application), in this stage it is divided into 2 parts, the first, modio hartia (conveying intent) and the second mongapi (apply). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (bring groceries and questions). This stage is divided into 4 parts, the first is the pontangkia implementation, the second is the pontangkia (bringing food ingredients), the third is pompetukanaiha (questions), the fourth is totolea (determining the dowry). And finally the third stage) Lumanga (handover of a customary dowry / customary object), the procedure for implementing the lumanga, first morongo kompe, second mesua bolo raha (entering the house of the bride), third montunu peahu (burning cigarettes), fourth tuduako langa (submission customary objects), the five marriage contracts, the six molangarako (bringing the bride to the groom's house) and finally the mohuletako alo (the bride and groom returning to the bride's house). 2). Changes in the marriage custom of the Moronene Tribe in Langkema Village, namely: (a) It is agreed that a Rumpantole (abbreviated tradition), namely Pompetukanaiha and Lumanga, can be carried out within the same time / day Whereas previously between Pompetukanaiha and Lumanga the time gap was up to 7 years. (b) At the time of Modio Ninyapi a package was displayed. The package used plain white paper tied with agel leaves colored with red kasumba. After the 2006 seminar the agreement was changed, the package tied with agent leaves was changed using red wool yarn. 3). The values contained in the marriage customs of the Moronene Tribe in Langkema Village are: (1) Religious value (religion) is a value related to human existence as a servant of God. (2) Family values, namely any activity that involves the family through cooperation. (3) The value of education is the value that can increase intelligence in achieving success. (4) Aesthetic value, namely in terms of beauty.  Keywords: Marriage, Society and History.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-07-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/article/view/19228</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.36709/jpps.v6i1.19228</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO; Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO</dc:source>
	<dc:source>2502-6674</dc:source>
	<dc:source>2502-6666</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/p_sejarah_uho/article/view/19228/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>