Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Keragaman Tumbuhan Obat Tradisional di Kampung Nansfori Distrik Supiori Utara, Kabupaten Supiori–Papua

JURNAL BIOLOGI PAPUA · Vol. 2 No. 2 (2018) · pp. 39–46

DOI
10.31957/jbp.560
ISSN
2503-0450, 2086-3314
Published
2018-10-20
Publisher
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih
Language
eng

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Juni 2009, pada masyarakat Kampung Nansfori Distrik Supiori Utara Kabupaten Supiori. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan dan cara pengolahannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan pendekatan secara emik dan etik dengan teknik observasi, wawancara, metode kepustakaan dan metode dokumentasi. Hasil yang diperoleh dianalisa secara kualitatif. Jenis tumbuhan obat yang ditemukan sebanyak 48 jenis tumbuhan obat dari 32 famili. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat adalah: daun (52,08 %), buah (6,25 %), biji (2,08%) dan batang (4,17 %), kulit batang (4,17 %), getah (4,17 %), umbi (2,08 %), akar (2,08 %) dan lebih dari satu bagian tumbuhan yang digunakan (22,92 %). Pengolahan tumbuhan obat menggunakan cara yang masih sederhana (direbus dan dirauh), bahkan ada yang tanpa diolah (langsung digunakan), kehigienisan dalam pengolahan juga sangat diperhatikan.namun dalam meramu tumbuhan obat masyarakat tersebut tidak menggunakan takaran.Terdapat 20 jenis tumbuhan obat dari 18 famili yang terbukti secara ilmiah memilki kandungan kimia yang dapat mengobati beberapa jenis penyakit. Kendala-kendala yang ditemukan antara lain tumbuhan yang digunakan sebagai obat belum dibudidayakan dan kurangnya ketertarikan kaum muda pada obat tradisional sehingga penurunan pengetahuan obat tradisional kepada generasi muda tidak berjalan lancar. Key words: medicinal plants, Nansfori Village, Supiori District, Papua.Â

Collaboration network of the authors

40 authors · 93 co-authorship links · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Diponegoro University
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Suharno SuharnoAffiliation unknown9
Hendra K. MauryAffiliation unknown5
Supeni SufaatiAffiliation unknown4
Daniel LantangAffiliation unknown3
Dirk Y.P. RuntuboiAffiliation unknown3
Kalvin PaikiAffiliation unknown3
Suwito SuwitoAffiliation unknown2
Lisye I. ZebuaAffiliation unknown2
Mesak KamareaAffiliation unknown2
Maklon WarpurAffiliation unknown2
Wigati YektiningtyasAffiliation unknown2
Efray WanimboAffiliation unknown2
Marcelino N. YonasAffiliation unknown2
Leonard SiregarAffiliation unknown2
Ervina IndrayaniAffiliation unknown2
John D. KalorAffiliation unknown2
Korinus RejauwAffiliation unknown2
Dewi SulistiowatiAffiliation unknown1
Agnes KabelenAffiliation unknown1
Alfred AntohAffiliation unknown1
Erni UnenorAffiliation unknown1
Henderina J. KeiluhuAffiliation unknown1
Verena AgustiniAffiliation unknown1
Nurtanti HAndonoAffiliation unknown1
Purwanto PurwantoDiponegoro University1
Suriani Br SurbaktiAffiliation unknown1
Marthen L.R. BartholomeusAffiliation unknown1
Jhon D. KalorAffiliation unknown1
Yan P. YepeseAffiliation unknown1
Lucia RunggeariAffiliation unknown1
Helena G. BurokAffiliation unknown1
Fali SemboriAffiliation unknown1
Dwi HaryantoAffiliation unknown1
Konstantina M.B. KameubunAffiliation unknown1
Rini PatandunganAffiliation unknown1
Sipriana DogomoAffiliation unknown1
Yulius SarunguAffiliation unknown1
Meidy J. ImbiriAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JBP/oai, first harvested 1 Nov 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Keragaman Tumbuhan Obat Tradisional di Kampung Nansfori Distrik Supiori Utara, Kabupaten Supiori–Papua</dc:title>
	<dc:creator>Sada, Jane T.</dc:creator>
	<dc:creator>Tanjung, Rosye H.R.</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Juni 2009, pada masyarakat Kampung Nansfori Distrik Supiori Utara Kabupaten Supiori. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan dan cara pengolahannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan pendekatan secara emik dan etik dengan teknik observasi, wawancara, metode kepustakaan dan metode dokumentasi. Hasil yang diperoleh dianalisa secara kualitatif. Jenis tumbuhan obat yang ditemukan sebanyak 48 jenis tumbuhan obat dari 32 famili. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat adalah : daun (52,08 %), buah (6,25 %), biji (2,08%) dan batang (4,17 %), kulit batang (4,17 %), getah (4,17 %), umbi (2,08 %), akar (2,08 %) dan lebih dari satu bagian tumbuhan yang digunakan (22,92 %). Pengolahan tumbuhan obat menggunakan cara yang masih sederhana (direbus dan dirauh), bahkan ada yang tanpa diolah (langsung digunakan), kehigienisan dalam pengolahan juga sangat diperhatikan.namun dalam meramu tumbuhan obat masyarakat tersebut tidak menggunakan takaran.Terdapat 20 jenis tumbuhan obat dari 18 famili yang terbukti secara ilmiah memilki kandungan kimia yang dapat mengobati beberapa jenis penyakit. Kendala-kendala yang ditemukan antara lain tumbuhan yang digunakan sebagai obat belum dibudidayakan dan kurangnya ketertarikan kaum muda pada obat tradisional sehingga penurunan pengetahuan obat tradisional kepada generasi muda tidak berjalan lancar. Key words: medicinal plants, Nansfori Village, Supiori District, Papua. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih</dc:publisher>
	<dc:date>2018-10-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JBP/article/view/560</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31957/jbp.560</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">JURNAL BIOLOGI PAPUA; Vol. 2 No. 2 (2010); 39-46</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Biologi Papua; Vol 2 No 2 (2010); 39-46</dc:source>
	<dc:source>2503-0450</dc:source>
	<dc:source>2086-3314</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JBP/article/view/560/497</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2018 JURNAL BIOLOGI PAPUA</dc:rights>
</oai_dc:dc>