Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Kekuatan Hukum Klausula Jaminan dalam Perjanjian Utang Piutang yang Tidak Dituangkan dalam Akta Tersendiri

Papua Law Journal · Vol. UME (2021) · pp. 1–17

DOI
10.31957/plj.v6i1.1811
ISSN
2540-9166, 2540-7716
Published
2021-10-19
Publisher
Faculty of Law Cenderawasih University
Language
eng

Abstract

Setiap perjanjian utang piutang atau perjanjian kredit yang menyaratkan adanya jaminan di dalamnya sebaiknya dibuatkan pula akta pembebanan sebagai accesoir dari perjanjian utang piutang atau perjanjian kredit tersebut. Bahkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah dan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menyaratkan bahwa pembebanan hak tanggungan dan fidusia dilakukan dengan akta otentik. Dalam perbuatan hukum utang piutang yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan menyaratkan adanya jaminan, maka perjanjian terkait benda jaminan hendaknya dibuat terpisah. Jika klausula jaminan hanya disebut dalam perjanjian utang piutang dan tidak dituangkan dalam akta tersendiri, maka tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi para pihak terhadap benda jaminan. Kondisi yang demikian menempatkan kreditor sebagai kreditor konkuren yang mana dalam pemenuhannya haknya tidak memiliki keistimewaan dan tidak diutamakan.Â

Keywords

Collaboration network of the authors

6 authors · 7 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Hasanuddin University
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Mohammad Amri GedeHasanuddin University1
Muhammad Ilham ArisaputraHasanuddin University1
Muh. Fadly Muthalib MuthalibAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/PLJ/oai, first harvested 1 Nov 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kekuatan Hukum Klausula Jaminan dalam Perjanjian Utang Piutang yang Tidak Dituangkan dalam Akta Tersendiri</dc:title>
	<dc:creator>Said, Nurfaidah</dc:creator>
	<dc:creator>Miru, Ahmadi</dc:creator>
	<dc:creator>Ridwan, Nurul Fauziah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Akta</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Jaminan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kekuatan Hukum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Perjanjian</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Utang Piutang</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Setiap perjanjian utang piutang atau perjanjian kredit yang menyaratkan adanya jaminan di dalamnya sebaiknya dibuatkan pula akta pembebanan sebagai accesoir dari perjanjian utang piutang atau perjanjian kredit tersebut. Bahkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah dan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menyaratkan bahwa pembebanan hak tanggungan dan fidusia dilakukan dengan akta otentik. Dalam perbuatan hukum utang piutang yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan menyaratkan adanya jaminan, maka perjanjian terkait benda jaminan hendaknya dibuat terpisah. Jika klausula jaminan hanya disebut dalam perjanjian utang piutang dan tidak dituangkan dalam akta tersendiri, maka tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi para pihak terhadap benda jaminan. Kondisi yang demikian menempatkan kreditor sebagai kreditor konkuren yang mana dalam pemenuhannya haknya tidak memiliki keistimewaan dan tidak diutamakan. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Law Cenderawasih University</dc:publisher>
	<dc:date>2021-10-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/PLJ/article/view/1811</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31957/plj.v6i1.1811</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Papua Law Journal; VOLUME 6 ISSUE 1, 2021; 1-17</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Papua Law Journal; VOLUME 6 ISSUE 1, 2021; 1-17</dc:source>
	<dc:source>2540-9166</dc:source>
	<dc:source>2540-7716</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/PLJ/article/view/1811/1397</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Papua Law Journal</dc:rights>
</oai_dc:dc>