Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Era Digital: Influencer Dalam Sistem Politik Indonesia

JURNAL EKOLOGI BIROKRASI · Vol. 10 No. 1 (2022) · pp. 69–80

DOI
10.31957/jeb.v10i1.2317
ISSN
2654-7864, 2338-705X
Published
2022-07-26
Publisher
Program Doktor Ilmu Sosial Universitas Cenderawasih
Language
eng

Abstract

Kajian ini terfokus membahas tentang peran influencer dalam sistem politik Indonesia di era digitalisasi. Mengingat dewasa ini, para influencer semakin meluas ranah keterlibatannya hingga merambah ke dunia politik. Kajian ini memanfaatkan jenis penelitian kepustakaan, dimana data dikumpulkan dari pelbagai sumber literatur dengan melakukan analisis teks dan wacana. Selanjutnya dilakukan cross check dengan tujuan menguji validitas data. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa terdapat pola segitiga kekuatan dalam sistem politik, masing-masing; government, private sector dan civil society yang berperan penting dalam memotori proses pengambilan kebijakan. Pada konteks ini, influencer kemudian dikategorikan sebagai bagian dari civil society yang bertindak sebagai pemberi input dan feedback dalam proses pengambilan kebijakan. Di ranah Pemilihan Umum [Pemilu], pelibatan influencer dari kalangan selebritis bertujuan untuk membentuk opini publik, mendapatkan dukungan masyarakat, bahkan memenangkan kompetisi. Aura positif yang dimiliki oleh influencer juga dimanfaatkan oleh penyelenggara pemilu [KPU] dalam peningkatan partisipasi pemilih. Realita ini, banyak ditemui dalam penghelatan Pilkada di sejumlah daerah di Indonesia. Sebagai catatan penutup, perkembangan media sosial lambat laun mengalami pergeseran menjadi alat propaganda politik, terlebih di masa Pemilihan Kepala Daerah [Pilkada] di Indonesia, maka perlu dilakukan pendewasaan diri oleh masyarakat dalam bermedia sosial yang dimulai dari langkah sederhana seperti dengan melakukan cross check terlebih dahulu terhadap beragam informasi atau berita disajikan.

Keywords

Collaboration network of the authors

26 authors · 72 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Hiskia C.M. SapioperAffiliation unknown3
Simon Abdi K. FrankAffiliation unknown2
Septinus SaaAffiliation unknown2
Muhammad AnasAffiliation unknown1
Marlina FlassyAffiliation unknown1
Diego Romario De FretesAffiliation unknown1
Christine O. I. SanggenafaAffiliation unknown1
Sy Sultan HamdiAffiliation unknown1
Mahmud TangAffiliation unknown1
Yahya YahyaAffiliation unknown1
Andi Muhammad YusufAffiliation unknown1
Akhmad KadirAffiliation unknown1
Eka PatmasariAffiliation unknown1
Ilham IlhamAffiliation unknown1
Maspawati TokangAffiliation unknown1
Nur AedahAffiliation unknown1
Untung MuhdiartaAffiliation unknown1
Yosephina OhoiwutunAffiliation unknown1
Rifai Nur SyabanaAffiliation unknown1
Yusuf Gabriel ManiagasiAffiliation unknown1
Beatus TambaipAffiliation unknown1
Yantho MuraferAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JEB/oai, first harvested 1 Nov 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Era Digital : Influencer Dalam Sistem Politik Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Ilham, Ilham</dc:creator>
	<dc:creator>Muttaqin, M Zaenul</dc:creator>
	<dc:creator>Idris, Usman</dc:creator>
	<dc:creator>Renyaan, Dorthea</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Influencer</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sistem Politik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Media sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Digitalisasi.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kajian ini terfokus membahas tentang peran influencer dalam sistem politik Indonesia di era digitalisasi. Mengingat dewasa ini, para influencer semakin meluas ranah keterlibatannya hingga merambah ke dunia politik. Kajian ini memanfaatkan jenis penelitian kepustakaan, dimana data dikumpulkan dari pelbagai sumber literatur dengan melakukan analisis teks dan wacana. Selanjutnya dilakukan cross check  dengan tujuan menguji validitas data. Hasil kajian ini  menunjukkan bahwa terdapat pola segitiga kekuatan dalam sistem politik, masing-masing; government, private sector dan civil society yang berperan penting dalam memotori proses pengambilan kebijakan. Pada konteks ini, influencer kemudian dikategorikan sebagai bagian dari civil society yang bertindak sebagai pemberi input dan feedback dalam proses pengambilan kebijakan. Di ranah Pemilihan Umum [Pemilu], pelibatan influencer dari kalangan selebritis  bertujuan untuk membentuk opini publik, mendapatkan dukungan masyarakat, bahkan memenangkan kompetisi. Aura positif yang dimiliki oleh influencer juga dimanfaatkan oleh penyelenggara pemilu [KPU] dalam peningkatan partisipasi pemilih. Realita ini, banyak ditemui dalam penghelatan Pilkada di sejumlah daerah di Indonesia. Sebagai catatan penutup, perkembangan media sosial lambat laun mengalami pergeseran menjadi alat propaganda politik, terlebih di masa Pemilihan Kepala Daerah [Pilkada] di Indonesia, maka perlu dilakukan pendewasaan diri oleh masyarakat dalam bermedia sosial yang dimulai dari langkah sederhana seperti dengan melakukan cross check terlebih dahulu terhadap beragam informasi atau berita disajikan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Doktor Ilmu Sosial Universitas Cenderawasih</dc:publisher>
	<dc:date>2022-07-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JEB/article/view/2317</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31957/jeb.v10i1.2317</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">JURNAL EKOLOGI BIROKRASI; Vol. 10 No. 1 (2022): April 2022; 69-80</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">JURNAL EKOLOGI BIROKRASI; Vol 10 No 1 (2022): April 2022; 69-80</dc:source>
	<dc:source>2654-7864</dc:source>
	<dc:source>2338-705X</dc:source>
	<dc:source>10.31957/jeb.v10i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JEB/article/view/2317/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>10.31957/jeb.v10i1.2317.g1863</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 JURNAL EKOLOGI BIROKRASI</dc:rights>
</oai_dc:dc>