Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 2

Arsitektur Sistem Percakapan Otomatis Berbahasa Indonesia dengan Normalisasi Bahasa Informal Menjadi Baku

Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) · Vol. 11 No. 5 (2024) · pp. 1009–1016

DOI
10.25126/jtiik.2024117984
ISSN
2528-6579, 2355-7699
Published
2024-10-31
Publisher
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
Language
id
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Bahasa Indonesia

Komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang berkomunikasi dengan cara mereka berdasarkan latar belakang serta kedekatan antar pembicara. Oleh karena itu, perkembangan bahasa informal terjadi sangat cepat dan tidak jarang menciptakan kata-kata baru sebagai pengganti bahasa formal. Hal ini menjadi masalah jika dilihat dari perspektif pemrosesan bahasa alami (NLP). NLP umumnya hanya dapat dilakukan dengan bahasa yang formal dan tidak mampu menginterpretasikan makna dari kalimat informal. Maka dari itu, penulis mengusulkan pendekatan untuk memungkinkan mesin memahami bahasa informal dengan melakukan normalisasi bahasa infomal menjadi baku dengan memanfaatkan NLP. Pendekatan yang dilakukan akan melatih model pre-trained GPT-2 berbahasa Indonesia dengan data parallel corpus untuk memahami makna dari bahasa informal dan mampu menerjemahkannya ke dalam bentuk baku. Melalui eksperimen yang dilakukan, pendekatan ini mencapai tingkat akurasi 91% dan dapat menerjemahkan bahasa informal dengan baik. Performa ini dapat diraih dengan konfigurasi hiperparameter yaitu Adam optimizer dengan learning rate 1e-4, batch size sebesar 16 dan dropout rate sebesar 0,5. Abstract Communication is the most essential thing in daily life. Everyone communicates in their own way based on their background and the closeness between speakers. Thus, the development of informal language occurs quickly and it is often to create new words as a substitute for formal language. This is an issue from a natural language processing (NLP) perspective. NLP generally only works with formal language and is unable to interpret the meaning of informal sentences. Therefore, the authors propose an approach to enable machines to understand informal language by normalizing the informal language to standard by utilizing NLP. The approach will train a pre-trained GPT-2 model in Indonesian with parallel corpus data to understand the meaning of informal language and be able to translate it into standardized form. Through experiments, the method achieved 91% accuracy and can translate informal language well. This performance can be achieved with a hyperparameter configuration, namely Adam optimizer with a learning rate of 1e-4, batch size of 16 and dropout rate of 0.5.

English

Komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang berkomunikasi dengan cara mereka berdasarkan latar belakang serta kedekatan antar pembicara. Oleh karena itu, perkembangan bahasa informal terjadi sangat cepat dan tidak jarang menciptakan kata-kata baru sebagai pengganti bahasa formal. Hal ini menjadi masalah jika dilihat dari perspektif pemrosesan bahasa alami (NLP). NLP umumnya hanya dapat dilakukan dengan bahasa yang formal dan tidak mampu menginterpretasikan makna dari kalimat informal. Maka dari itu, penulis mengusulkan pendekatan untuk memungkinkan mesin memahami bahasa informal dengan melakukan normalisasi bahasa infomal menjadi baku dengan memanfaatkan NLP. Pendekatan yang dilakukan akan melatih model pre-trained GPT-2 berbahasa Indonesia dengan data parallel corpus untuk memahami makna dari bahasa informal dan mampu menerjemahkannya ke dalam bentuk baku. Melalui eksperimen yang dilakukan, pendekatan ini mencapai tingkat akurasi 91% dan dapat menerjemahkan bahasa informal dengan baik. Performa ini dapat diraih dengan konfigurasi hiperparameter yaitu Adam optimizer dengan learning rate 1e-4, batch size sebesar 16 dan dropout rate sebesar 0,5. Abstract Communication is the most essential thing in daily life. Everyone communicates in their own way based on their background and the closeness between speakers. Thus, the development of informal language occurs quickly and it is often to create new words as a substitute for formal language. This is an issue from a natural language processing (NLP) perspective. NLP generally only works with formal language and is unable to interpret the meaning of informal sentences. Therefore, the authors propose an approach to enable machines to understand informal language by normalizing the informal language to standard by utilizing NLP. The approach will train a pre-trained GPT-2 model in Indonesian with parallel corpus data to understand the meaning of informal language and be able to translate it into standardized form. Through experiments, the method achieved 91% accuracy and can translate informal language well. This performance can be achieved with a hyperparameter configuration, namely Adam optimizer with a learning rate of 1e-4, batch size of 16 and dropout rate of 0.5.

Keywords

Collaboration network of the authors

26 authors · 49 co-authorship links · 4 across different organisations

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • University of Brawijaya
  • Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Putra Pandu AdikaraUniversity of Brawijaya2
Tri Hadiah MuliawatiInstitut Teknologi Sepuluh Nopember1
Reddy AlexandroInstitut Teknologi Sepuluh Nopember1
Fitra Abdurrachman BachtiarUniversity of Brawijaya1
Nathanael Victor DarenohUniversity of Brawijaya1
Chastine FatichahInstitut Teknologi Sepuluh Nopember1
Diana PurwitasariInstitut Teknologi Sepuluh Nopember1
Satrio Agung WicaksonoUniversity of Brawijaya1
Rochmat SetiyawanUniversity of Brawijaya1
Budi Darma SetiyawanUniversity of Brawijaya1
Ari HernawanUniversity of Brawijaya1
Wayan Firdaus MahmudyUniversity of Brawijaya1
Ghenniy RachmansyahUniversity of Brawijaya1
Indriati .Affiliation unknown1
Anshar ZulhilmiUniversity of Brawijaya1
Zahra Asma AnnisaUniversity of Brawijaya1
Faiz Aulia Al FarisiUniversity of Brawijaya1
Aryo PinanditoUniversity of Brawijaya1
Multohadi HamzaturrazakUniversity of Brawijaya1
Abdul JabbarUniversity of Brawijaya1
Candra DewiUniversity of Brawijaya1
Firman AfrialdyAffiliation unknown1
Firman AfrialdyAffiliation unknown1
Candra DewiAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/en/oai, first harvested 27 Okt 2026, last seen 27 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="id">Arsitektur Sistem Percakapan Otomatis Berbahasa Indonesia dengan Normalisasi Bahasa Informal Menjadi Baku</dc:title>
	<dc:title xml:lang="en">Arsitektur Sistem Percakapan Otomatis Berbahasa Indonesia dengan Normalisasi Bahasa Informal Menjadi Baku</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="id">Khairul, Muhammad Fathur Rahman</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Perdana, Rizal Setya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="id">NLP </dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">finetuning</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">gpt2</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">normalization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">machine translation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">deep learning</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="id">Komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang berkomunikasi dengan cara mereka berdasarkan latar belakang serta kedekatan antar pembicara. Oleh karena itu, perkembangan bahasa informal terjadi sangat cepat dan tidak jarang menciptakan kata-kata baru sebagai pengganti bahasa formal. Hal ini menjadi masalah jika dilihat dari perspektif pemrosesan bahasa alami (NLP). NLP umumnya hanya dapat dilakukan dengan bahasa yang formal dan tidak mampu menginterpretasikan makna dari kalimat informal. Maka dari itu, penulis mengusulkan pendekatan untuk memungkinkan mesin memahami bahasa informal dengan melakukan normalisasi bahasa infomal menjadi baku dengan memanfaatkan NLP. Pendekatan yang dilakukan akan melatih model pre-trained GPT-2 berbahasa Indonesia dengan data parallel corpus untuk memahami makna dari bahasa informal dan mampu menerjemahkannya ke dalam bentuk baku. Melalui eksperimen yang dilakukan, pendekatan ini mencapai tingkat akurasi 91% dan dapat menerjemahkan bahasa informal dengan baik. Performa ini dapat diraih dengan konfigurasi hiperparameter yaitu Adam optimizer dengan learning rate 1e-4, batch size sebesar 16 dan dropout rate sebesar 0,5.
 
Abstract 
 
Communication is the most essential thing in daily life. Everyone communicates in their own way based on their background and the closeness between speakers. Thus, the development of informal language occurs quickly and it is often to create new words as a substitute for formal language. This is an issue from a natural language processing (NLP) perspective. NLP generally only works with formal language and is unable to interpret the meaning of informal sentences. Therefore, the authors propose an approach to enable machines to understand informal language by normalizing the informal language to standard by utilizing NLP. The approach will train a pre-trained GPT-2 model in Indonesian with parallel corpus data to understand the meaning of informal language and be able to translate it into standardized form. Through experiments, the method achieved 91% accuracy and can translate informal language well. This performance can be achieved with a hyperparameter configuration, namely Adam optimizer with a learning rate of 1e-4, batch size of 16 and dropout rate of 0.5.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="en">Komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang berkomunikasi dengan cara mereka berdasarkan latar belakang serta kedekatan antar pembicara. Oleh karena itu, perkembangan bahasa informal terjadi sangat cepat dan tidak jarang menciptakan kata-kata baru sebagai pengganti bahasa formal. Hal ini menjadi masalah jika dilihat dari perspektif pemrosesan bahasa alami (NLP). NLP umumnya hanya dapat dilakukan dengan bahasa yang formal dan tidak mampu menginterpretasikan makna dari kalimat informal. Maka dari itu, penulis mengusulkan pendekatan untuk memungkinkan mesin memahami bahasa informal dengan melakukan normalisasi bahasa infomal menjadi baku dengan memanfaatkan NLP. Pendekatan yang dilakukan akan melatih model pre-trained GPT-2 berbahasa Indonesia dengan data parallel corpus untuk memahami makna dari bahasa informal dan mampu menerjemahkannya ke dalam bentuk baku. Melalui eksperimen yang dilakukan, pendekatan ini mencapai tingkat akurasi 91% dan dapat menerjemahkan bahasa informal dengan baik. Performa ini dapat diraih dengan konfigurasi hiperparameter yaitu Adam optimizer dengan learning rate 1e-4, batch size sebesar 16 dan dropout rate sebesar 0,5.
 
Abstract 
 
Communication is the most essential thing in daily life. Everyone communicates in their own way based on their background and the closeness between speakers. Thus, the development of informal language occurs quickly and it is often to create new words as a substitute for formal language. This is an issue from a natural language processing (NLP) perspective. NLP generally only works with formal language and is unable to interpret the meaning of informal sentences. Therefore, the authors propose an approach to enable machines to understand informal language by normalizing the informal language to standard by utilizing NLP. The approach will train a pre-trained GPT-2 model in Indonesian with parallel corpus data to understand the meaning of informal language and be able to translate it into standardized form. Through experiments, the method achieved 91% accuracy and can translate informal language well. This performance can be achieved with a hyperparameter configuration, namely Adam optimizer with a learning rate of 1e-4, batch size of 16 and dropout rate of 0.5.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya</dc:publisher>
	<dc:date>2024-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/7984</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.25126/jtiik.2024117984</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="id">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol 11 No 5: Oktober 2024; 1009-1016</dc:source>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol. 11 No. 5: Oktober 2024; 1009-1016</dc:source>
	<dc:source>2528-6579</dc:source>
	<dc:source>2355-7699</dc:source>
	<dc:source>10.25126/jtiik.115</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/7984/1226</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2024 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>