Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 2

Analisis Forensik Digital untuk Investigasi Kasus Cyberbullying pada Media Sosial Tiktok

Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) · Vol. 11 No. 5 (2024) · pp. 1113–1124

DOI
10.25126/jtiik.2024118017
ISSN
2528-6579, 2355-7699
Published
2024-10-31
Publisher
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
Language
id
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Bahasa Indonesia

TikTok merupakan media sosial yang populer digunakan pada masa kini. Media sosial TikTok yang populer di kalangan pengguna menjadi salah satu media yang banyak ditemui jenis kejahatan siber cyberbullying. Kasus cyberbullying pada media sosial TikTok dapat ditindak secara hukum yakni dengan dilakukan investigasi forensik digital. Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti digital kasus cyberbullying pada TikTok android dan juga TikTok web dengan melakukan skenario kasus serta menerapkan model investigasi forensik digital yang berfokus pada jejaring sosial. Fase skenario terdiri dari persiapan, perancangan, serta pelaksanaan. Data dari skenario ini kemudian dilakukan forensik digital fase dengan tahapan-tahapan berikut: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, dan presentation. Penelitian ini berhasil mendapatkan bukti-bukti digital untuk membuktikan kasus cyberbullying yang dieksperimenkan dengan skenario serta dengan model investigasi forensik digital yang diterapkan. Didapatkan hasil perbandingan yang signifikan pada perbedaan antara bukti digital TikTok android dan TikTok web. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil memperoleh barang bukti digital dengan persentase sebesar 68,8% dari perbandingan data awal skenario dengan data ditemukan dari hasil forensik digital. Abstract TikTok is currently a widely popular social media platform among users and is also a media where various forms of cyberbullying are encountered. Cases of cyberbullying on TikTok can be subject to legal prosecution through digital forensic investigations. This research aims to collect and analyze digital evidence related to cyberbullying cases on TikTok's Android and Website platforms. It involves the creation of case scenarios and the application of a digital forensic investigative model specifically focused on social networks. The scenario phase encompasses preparation, design, and implementation. Data obtained from these scenarios is subsequently subjected to a digital forensics phase, consisting of these stages: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, and presentation. This research successfully obtained digital evidence that substantiates cases of cyberbullying, as simulated in the scenarios and investigated using the applied digital forensic model. Significant differences were observed in the digital evidence between TikTok on Android and TikTok on the web. In summary, this study achieved a 68.8% match between the initial scenario data and the data retrieved through digital forensics, ultimately obtaining valuable digital evidence.

English

TikTok merupakan media sosial yang populer digunakan pada masa kini. Media sosial TikTok yang populer di kalangan pengguna menjadi salah satu media yang banyak ditemui jenis kejahatan siber cyberbullying. Kasus cyberbullying pada media sosial TikTok dapat ditindak secara hukum yakni dengan dilakukan investigasi forensik digital. Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti digital kasus cyberbullying pada TikTok android dan juga TikTok web dengan melakukan skenario kasus serta menerapkan model investigasi forensik digital yang berfokus pada jejaring sosial. Fase skenario terdiri dari persiapan, perancangan, serta pelaksanaan. Data dari skenario ini kemudian dilakukan forensik digital fase dengan tahapan-tahapan berikut: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, dan presentation. Penelitian ini berhasil mendapatkan bukti-bukti digital untuk membuktikan kasus cyberbullying yang dieksperimenkan dengan skenario serta dengan model investigasi forensik digital yang diterapkan. Didapatkan hasil perbandingan yang signifikan pada perbedaan antara bukti digital TikTok android dan TikTok web. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil memperoleh barang bukti digital dengan persentase sebesar 68,8% dari perbandingan data awal skenario dengan data ditemukan dari hasil forensik digital. Abstract TikTok is currently a widely popular social media platform among users and is also a media where various forms of cyberbullying are encountered. Cases of cyberbullying on TikTok can be subject to legal prosecution through digital forensic investigations. This research aims to collect and analyze digital evidence related to cyberbullying cases on TikTok's Android and Website platforms. It involves the creation of case scenarios and the application of a digital forensic investigative model specifically focused on social networks. The scenario phase encompasses preparation, design, and implementation. Data obtained from these scenarios is subsequently subjected to a digital forensics phase, consisting of these stages: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, and presentation. This research successfully obtained digital evidence that substantiates cases of cyberbullying, as simulated in the scenarios and investigated using the applied digital forensic model. Significant differences were observed in the digital evidence between TikTok on Android and TikTok on the web. In summary, this study achieved a 68.8% match between the initial scenario data and the data retrieved through digital forensics, ultimately obtaining valuable digital evidence.

Keywords

Collaboration network of the authors

26 authors · 49 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • University of Brawijaya
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Rakhmadhanny PrimanandaUniversity of Brawijaya2
Fariz Andri BakhtiarUniversity of Brawijaya2
Reza Andria SiregarUniversity of Brawijaya2
BaihaqsaniUniversity of Brawijaya2
Munjin Nasyih AnnaisaburiAffiliation unknown2
Munjin Nasyih AnnaisaburiAffiliation unknown2
Amry YahyaAffiliation unknown2
Avis SugiantoAffiliation unknown2
Avis SugiantoAffiliation unknown2
Dimas Tri MustakimAffiliation unknown2
Dimas Tri MustakimAffiliation unknown2
Eko Sakti P.Affiliation unknown1
Raden Arief SetyawanUniversity of Brawijaya1
Indri - AtiUniversity of Brawijaya1
Adhitya BhawiyugaUniversity of Brawijaya1
Yohanna Fransiska AladinaUniversity of Brawijaya1
Kasyful AmronUniversity of Brawijaya1
Achmad BasukiUniversity of Brawijaya1
Muhammad Fadhli ImanUniversity of Brawijaya1
Amelia Dwi RochaniUniversity of Brawijaya1
Diah Ratih DestyoriniUniversity of Brawijaya1
Fariz Abid DarmawanUniversity of Brawijaya1
I Putu Agrahita WigunaUniversity of Brawijaya1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/en/oai, first harvested 27 Okt 2026, last seen 27 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="id">Analisis Forensik Digital untuk Investigasi Kasus Cyberbullying pada Media Sosial Tiktok</dc:title>
	<dc:title xml:lang="en">Analisis Forensik Digital untuk Investigasi Kasus Cyberbullying pada Media Sosial Tiktok</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="id">Mikayla, Halimah Septya </dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Kusyanti, Ari</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Trisnawan, Primantara Hari</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Kusyanti, Ari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="id">forensik digital</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">cyberbullying</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">TikTok</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">bukti digital</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="id">TikTok merupakan media sosial yang populer digunakan pada masa kini. Media sosial TikTok yang populer di kalangan pengguna menjadi salah satu media yang banyak ditemui jenis kejahatan siber cyberbullying. Kasus cyberbullying pada media sosial TikTok dapat ditindak secara hukum yakni dengan dilakukan investigasi forensik digital. Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti digital kasus cyberbullying pada TikTok android dan juga TikTok web dengan melakukan skenario kasus serta menerapkan model investigasi forensik digital yang berfokus pada jejaring sosial. Fase skenario terdiri dari persiapan, perancangan, serta pelaksanaan. Data dari skenario ini kemudian dilakukan forensik digital fase dengan tahapan-tahapan berikut: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, dan presentation. Penelitian ini berhasil mendapatkan bukti-bukti digital untuk membuktikan kasus cyberbullying yang dieksperimenkan dengan skenario serta dengan model investigasi forensik digital yang diterapkan. Didapatkan hasil perbandingan yang signifikan pada perbedaan antara bukti digital TikTok android dan TikTok web. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil memperoleh barang bukti digital dengan persentase sebesar 68,8% dari perbandingan data awal skenario dengan data ditemukan dari hasil forensik digital.
 
Abstract
TikTok is currently a widely popular social media platform among users and is also a media where various forms of cyberbullying are encountered. Cases of cyberbullying on TikTok can be subject to legal prosecution through digital forensic investigations. This research aims to collect and analyze digital evidence related to cyberbullying cases on TikTok's Android and Website platforms. It involves the creation of case scenarios and the application of a digital forensic investigative model specifically focused on social networks. The scenario phase encompasses preparation, design, and implementation. Data obtained from these scenarios is subsequently subjected to a digital forensics phase, consisting of these stages: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, and presentation. This research successfully obtained digital evidence that substantiates cases of cyberbullying, as simulated in the scenarios and investigated using the applied digital forensic model. Significant differences were observed in the digital evidence between TikTok on Android and TikTok on the web. In summary, this study achieved a 68.8% match between the initial scenario data and the data retrieved through digital forensics, ultimately obtaining valuable digital evidence.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="en">TikTok merupakan media sosial yang populer digunakan pada masa kini. Media sosial TikTok yang populer di kalangan pengguna menjadi salah satu media yang banyak ditemui jenis kejahatan siber cyberbullying. Kasus cyberbullying pada media sosial TikTok dapat ditindak secara hukum yakni dengan dilakukan investigasi forensik digital. Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti digital kasus cyberbullying pada TikTok android dan juga TikTok web dengan melakukan skenario kasus serta menerapkan model investigasi forensik digital yang berfokus pada jejaring sosial. Fase skenario terdiri dari persiapan, perancangan, serta pelaksanaan. Data dari skenario ini kemudian dilakukan forensik digital fase dengan tahapan-tahapan berikut: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, dan presentation. Penelitian ini berhasil mendapatkan bukti-bukti digital untuk membuktikan kasus cyberbullying yang dieksperimenkan dengan skenario serta dengan model investigasi forensik digital yang diterapkan. Didapatkan hasil perbandingan yang signifikan pada perbedaan antara bukti digital TikTok android dan TikTok web. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil memperoleh barang bukti digital dengan persentase sebesar 68,8% dari perbandingan data awal skenario dengan data ditemukan dari hasil forensik digital.
 
Abstract
TikTok is currently a widely popular social media platform among users and is also a media where various forms of cyberbullying are encountered. Cases of cyberbullying on TikTok can be subject to legal prosecution through digital forensic investigations. This research aims to collect and analyze digital evidence related to cyberbullying cases on TikTok's Android and Website platforms. It involves the creation of case scenarios and the application of a digital forensic investigative model specifically focused on social networks. The scenario phase encompasses preparation, design, and implementation. Data obtained from these scenarios is subsequently subjected to a digital forensics phase, consisting of these stages: planning, reconnaissance, collection, transport, examination, identification, analysis, classification, reporting, and presentation. This research successfully obtained digital evidence that substantiates cases of cyberbullying, as simulated in the scenarios and investigated using the applied digital forensic model. Significant differences were observed in the digital evidence between TikTok on Android and TikTok on the web. In summary, this study achieved a 68.8% match between the initial scenario data and the data retrieved through digital forensics, ultimately obtaining valuable digital evidence.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya</dc:publisher>
	<dc:date>2024-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/8017</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.25126/jtiik.2024118017</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="id">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol 11 No 5: Oktober 2024; 1113-1124</dc:source>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol. 11 No. 5: Oktober 2024; 1113-1124</dc:source>
	<dc:source>2528-6579</dc:source>
	<dc:source>2355-7699</dc:source>
	<dc:source>10.25126/jtiik.115</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/8017/1238</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2024 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>