Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 2

Analisis Kinerja Algoritma Klasifikasi Teks Bert dalam Mendeteksi Berita Hoaks

Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) · Vol. 11 No. 3 (2024) · pp. 537–546

DOI
10.25126/jtiik.938093
ISSN
2528-6579, 2355-7699
Published
2024-07-31
Publisher
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
Language
id
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Bahasa Indonesia

Metode BERT dapat digunakan untuk menghasilkan hasil yang akurat dalam klasifikasi berita palsu dan berita benar. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model klasifikasi BERT memiliki akurasi sebesar 76% pada data validasi dalam mengklasifikasikan berita hoaks, yang menunjukkan performa atau kinerja model Machine Learning dalam melakukan klasifikasi berita hoaks. Sedangkan pada model klasifikasi BERT Multilingual memiliki akurasi lebih rendah, yakni 63%. Potensi metode ini dapat membantu dalam memerangi penyebaran berita palsu. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi penting dalam memerangi penyebaran berita palsu di dunia digital yang semakin kompleks. Dengan menggunakan BERT sebagai pendekatan, model ini memungkinkan pengidentifikasian berita palsu yang lebih akurat, serta membantu masyarakat dalam menghindari konsumsi informasi yang salah. Dengan hasil yang positif ini, penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi machine learning dapat digunakan untuk melawan disinformasi dan menjadikan dunia maya menjadi tempat yang lebih terpercaya.

English

Teknologi yang mengalami perkembangan tentu memiliki dampak positif dan negatif. Internet yang menjadi hasil perkembangan teknologi tidak luput dari dampak negatif, yaitu munculnya hoaks. Hoaks merupakan berita palsu yang saat ini menjadi isu penting di masyarakat. Hoaks sengaja disebarkan untuk menimbulkan keresahan dan kegaduhan dalam berbagai bidang, seperti sosial budaya, politik, hingga ekonomi. Penelitian yang dilakukan berikut sangat penting karena dapat memberikan kontribusi penting dalam memerangi penyebaran berita hoaks di dunia digital yang semakin kompleks dengan melakukan klasifikasi berita benar dan berita hoaks. Dalam penelitian ini, data yang digunakan berasal dari tiga dataset publik yang diunduh dari website bernama “onlineacademiccommunity.uvic.ca”, “HuggingFace.co” dan “Kaggle.com”. Data dibagi menjadi tiga bagian: pelatihan (70%), validasi (15%), dan pengujian (15%). Model BERT diinisialisasi, optimizer AdamW digunakan dengan NLLLoss, dan model dilatih selama beberapa epoch. Model dievaluasi menggunakan data validasi untuk menghindari overfitting. Model yang digunakan untuk mengklasifikasikan data uji. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model klasifikasi BERT memiliki akurasi sebesar 76% pada data validasi dalam mengklasifikasikan berita hoaks, yang menunjukkan performa atau kinerja model Machine Learning dalam melakukan klasifikasi berita hoaks. Sedangkan pada model klasifikasi BERT Multilingual memiliki akurasi lebih rendah, yakni 63%. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi penting dalam memerangi penyebaran berita hoaks di dunia digital yang semakin kompleks. Dengan menggunakan BERT sebagai pendekatan, model ini memungkinkan pengidentifikasian berita hoaks yang lebih akurat, serta membantu masyarakat dalam menghindari konsumsi informasi yang salah. Dengan hasil yang positif ini, penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi machine learning dapat digunakan untuk melawan disinformasi dan menjadikan dunia maya menjadi tempat yang lebih terpercaya. Abstract The development of technology certainly has positive and negative impacts. The internet, which is the result of technological development, does not escape the negative impact, namely the emergence of hoaxes. Hoaxes are fake news that is currently an important issue in society. Hoaxes are deliberately spread to cause unrest and uproar in various fields, such as socio-culture, politics, and economics. The following research is very important because it can make an important contribution in combating the spread of hoax news in an increasingly complex digital world by classifying true news and hoax news. In this research, the data used comes from three public datasets downloaded from websites named "onlineacademiccommunity.uvic.ca", "HuggingFace.co" and "Kaggle.com". The data is divided into three parts: training (70%), validation (15%), and testing (15%). The BERT model was initialized, the AdamW optimizer was used with NLLLoss, and the model was trained for several epochs. The model was evaluated using validation data to avoid overfitting. The model was used to classify the test data. The evaluation results show that the BERT classification model has an accuracy of 76% on validation data in classifying hoax news, which shows the performance of the Machine Learning model in classifying hoax news. Meanwhile, the BERT Multilingual classification model has a lower accuracy of 63%. This research has the potential to make an important contribution in combating the spread of hoax news in an increasingly complex digital world. By using BERT as an approach, this model allows for more accurate identification of hoax news, as well as assisting the public in avoiding the consumption of misinformation. With these positive results, this research shows how machine learning technology can be used to fight disinformation and make cyberspace a more trusted place.

Keywords

Collaboration network of the authors

40 authors · 110 co-authorship links · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • University of Brawijaya
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Fitra Abdurrachman BachtiarUniversity of Brawijaya2
Achmad RidokUniversity of Brawijaya2
Yuita Arum SariUniversity of Brawijaya1
Fadhil Yusuf RahadikaUniversity of Brawijaya1
Agus Wahyu WidodoUniversity of Brawijaya1
Bayu RahayudiUniversity of Brawijaya1
M. Sofyan IrwantoUniversity of Brawijaya1
Candra DewiUniversity of Brawijaya1
Nurfatima SelleUniversity of Brawijaya1
Zainal ArifienUniversity of Brawijaya1
Fitra Abdurrahman BachtiarAffiliation unknown1
Alvin Tarisa AkbarUniversity of Brawijaya1
Michael Stephen LuiUniversity of Brawijaya1
Daniel Geoffrey ManurungUniversity of Brawijaya1
Mohammad Ryan PinasthikaUniversity of Brawijaya1
Muhammad Azka Obila VasyaUniversity of Brawijaya1
Rania Aprilia Dwi Setya PutriUniversity of Brawijaya1
Agustinus Parasian TampubolonUniversity of Brawijaya1
Rakan Fadhil PrayataUniversity of Brawijaya1
Septia Khoirin NisaUniversity of Brawijaya1
Mohammad Alfiano Rizky MahardikaUniversity of Brawijaya1
Yehezkiel Stephanus AustinUniversity of Brawijaya1
Haikal IrfanoUniversity of Brawijaya1
Juan Young ChristopherUniversity of Brawijaya1
Lintang Cahyaning SukmaUniversity of Brawijaya1
Octo Perdana PutraUniversity of Brawijaya1
Riyadh Ilham ArdhantoUniversity of Brawijaya1
Sulthan Abiyyu HakimUniversity of Brawijaya1
Muhammad UbaidillahUniversity of Brawijaya1
Aditya RamadhanUniversity of Brawijaya1
Rahmada Zulvia Azzahra HawariUniversity of Brawijaya1
Audhinata Bebytama RizkyUniversity of Brawijaya1
Lailil MuflikhahUniversity of Brawijaya1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/en/oai, first harvested 27 Okt 2026, last seen 27 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="id">Analisis Kinerja Algoritma Klasifikasi Teks Bert dalam Mendeteksi Berita Hoaks</dc:title>
	<dc:title xml:lang="en">Analisis Kinerja Algoritma Klasifikasi Teks Bert dalam Mendeteksi Berita Hoaks</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="id">Hanum, Assyfa Rasida</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Zetha, Ivykaeyla Adriana </dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Putri, Salwa Cahyani</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Wulandari, Rafifah Ayud</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Andina, Sherla Puspa</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Fajrina, Julia Nur</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Yudistira, Novanto</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="id">penyebaran berita palsu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id"> BERT</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id"> akurasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">F1-Score</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">presisi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">recall</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="id">Metode BERT dapat digunakan untuk menghasilkan hasil yang akurat dalam klasifikasi berita palsu dan berita benar. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model klasifikasi BERT memiliki akurasi sebesar 76% pada data validasi dalam mengklasifikasikan berita hoaks, yang menunjukkan performa atau kinerja model Machine Learning dalam melakukan klasifikasi berita hoaks. Sedangkan pada model klasifikasi  BERT Multilingual memiliki akurasi lebih rendah, yakni 63%. Potensi metode ini dapat membantu dalam memerangi penyebaran berita palsu. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi penting dalam memerangi penyebaran berita palsu di dunia digital yang semakin kompleks. Dengan menggunakan BERT sebagai pendekatan, model ini memungkinkan pengidentifikasian berita palsu yang lebih akurat, serta membantu masyarakat dalam menghindari konsumsi informasi yang salah. Dengan hasil yang positif ini, penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi machine learning dapat digunakan untuk melawan disinformasi dan menjadikan dunia maya menjadi tempat yang lebih terpercaya.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="en">Teknologi yang mengalami perkembangan tentu memiliki dampak positif dan negatif. Internet yang menjadi hasil perkembangan teknologi tidak luput dari dampak negatif, yaitu munculnya hoaks. Hoaks merupakan berita palsu yang saat ini menjadi isu penting di masyarakat. Hoaks sengaja disebarkan untuk menimbulkan keresahan dan kegaduhan dalam berbagai bidang, seperti sosial budaya, politik, hingga ekonomi. Penelitian yang dilakukan berikut sangat penting karena dapat memberikan kontribusi penting dalam memerangi penyebaran berita hoaks di dunia digital yang semakin kompleks dengan melakukan klasifikasi berita benar dan berita hoaks. Dalam penelitian ini, data yang digunakan berasal dari tiga dataset publik yang diunduh dari website bernama “onlineacademiccommunity.uvic.ca”, “HuggingFace.co” dan “Kaggle.com”. Data dibagi menjadi tiga bagian: pelatihan (70%), validasi (15%), dan pengujian (15%). Model BERT diinisialisasi, optimizer AdamW digunakan dengan NLLLoss, dan model dilatih selama beberapa epoch. Model dievaluasi menggunakan data validasi untuk menghindari overfitting. Model yang digunakan untuk mengklasifikasikan data uji. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model klasifikasi BERT memiliki akurasi sebesar 76% pada data validasi dalam mengklasifikasikan berita hoaks, yang menunjukkan performa atau kinerja model Machine Learning dalam melakukan klasifikasi berita hoaks. Sedangkan pada model klasifikasi  BERT Multilingual memiliki akurasi lebih rendah, yakni 63%. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi penting dalam memerangi penyebaran berita hoaks di dunia digital yang semakin kompleks. Dengan menggunakan BERT sebagai pendekatan, model ini memungkinkan pengidentifikasian berita hoaks yang lebih akurat, serta membantu masyarakat dalam menghindari konsumsi informasi yang salah. Dengan hasil yang positif ini, penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi machine learning dapat digunakan untuk melawan disinformasi dan menjadikan dunia maya menjadi tempat yang lebih terpercaya.
 
Abstract
 
The development of technology certainly has positive and negative impacts. The internet, which is the result of technological development, does not escape the negative impact, namely the emergence of hoaxes. Hoaxes are fake news that is currently an important issue in society. Hoaxes are deliberately spread to cause unrest and uproar in various fields, such as socio-culture, politics, and economics. The following research is very important because it can make an important contribution in combating the spread of hoax news in an increasingly complex digital world by classifying true news and hoax news. In this research, the data used comes from three public datasets downloaded from websites named "onlineacademiccommunity.uvic.ca", "HuggingFace.co" and "Kaggle.com". The data is divided into three parts: training (70%), validation (15%), and testing (15%). The BERT model was initialized, the AdamW optimizer was used with NLLLoss, and the model was trained for several epochs. The model was evaluated using validation data to avoid overfitting. The model was used to classify the test data. The evaluation results show that the BERT classification model has an accuracy of 76% on validation data in classifying hoax news, which shows the performance of the Machine Learning model in classifying hoax news. Meanwhile, the BERT Multilingual classification model has a lower accuracy of 63%. This research has the potential to make an important contribution in combating the spread of hoax news in an increasingly complex digital world. By using BERT as an approach, this model allows for more accurate identification of hoax news, as well as assisting the public in avoiding the consumption of misinformation. With these positive results, this research shows how machine learning technology can be used to fight disinformation and make cyberspace a more trusted place.
 </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya</dc:publisher>
	<dc:date>2024-07-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/8093</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.25126/jtiik.938093</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="id">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol 11 No 3: Juni 2024; 537-546</dc:source>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol. 11 No. 3: Juni 2024; 537-546</dc:source>
	<dc:source>2528-6579</dc:source>
	<dc:source>2355-7699</dc:source>
	<dc:source>10.25126/jtiik.113</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/8093/1312</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2024 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>