Jurnal
Nilai ekonomi dan analisis kebijakan perburuan dan perdagangan satwa liar di Kabupaten Manokwari
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea · Vol. 10 No. 1 (2021) · pp. 63–79
- ISSN
- 2407-7860, 2302-299X
- Published
- 2021-03-31
- Publisher
- Foresty Faculty of Hasanuddin University
- Language
- en
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi satwa liar, teknik perburuan dan pola perdagangan, serta menganalisis kebijakan satwa liar yang diperdagangkan selama Mei–Agustus 2012 di Kabupaten Manokwari. Nilai ekonomi satwa liar dihitung menggunakan pendekatan harga pasar dan dijabarkan secara deskriptif. Terdapat lima kelas satwa liar yang diperdagangkan, yaitu: kakatua koki (Cacatua galerita), nuri bayan (Eclectus roratus), kasturi kepala hitam (Lorius lory), perkici pelangi (Trichoglossus haematodus), nuri kelam (Pseudeos fuscata), nuri cokelat (Chalcopsitta duivenbodei), cenderawasih kecil (Paradisaea minor), jalak (Sturnus contra) dan merpati (Columba sp.). Kelas Mamalia, yaitu rusa (Cervus timorensis), kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus), babi hutan (Sus sp.) dan tikus tanah (Echymipera sp.).Kelas Reptilia, yaitu: kura-kura leher panjang (Chelodina spp.),penyu sisik (Eretmochelys imbricata), belut (Synbranchus marmoratus) dantelur kura-kura/penyu. Kelas Moluska, yaitu kerang kepah (Polymesoda sp.), siput mata bulan (Turbo sparverius) dan triton terompet (Charonia tritonis), dan Kelas Krustasea, yaitu kepiting bakau besar (Scylla sp.) dan udang (Triops cancriformis). Nilai Total Ekonomi perdagangan satwa liar adalah Rp91.925.378/tahun. Teknik perburuan meliputi menembak, menjerat, menangkap anak satwa liar, memungut, memancing dan menyelam. Perdagangan dilakukan secara langsung (Penjualan ke pasar lokal oleh penangkap) dan tidak langsung (Penjualan ke pasar lokal melalui penadah). Aktivitas perburuan dan perdagangan satwa liar didorong oleh faktor ekonomi dan nilai jual satwa liar yang cukup tinggi, serta lemahnya penegakkan hukum. Sosialiasi yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat dan skema kehutanan seperti perhutanan sosial dalam bentuk ekowisata dapat diterapkan pada daerah-daerah yang merupakan habitat satwa burung. Perdagangan dapat didukung dengan implementasi kuota dan penangkaran
Keywords
Collaboration network of the authors
21 authors · 74 co-authorship links
Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.
- Affiliation unknown
- Different organisations
- Same organisation
- Affiliation unknown
- Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
| Co-author | Organisation | Joint articles |
|---|---|---|
| Sepus M. Fatem | Affiliation unknown | 2 |
| Yubelince Y. Runtuboi | Affiliation unknown | 2 |
| Hugo Warami | Affiliation unknown | 1 |
| Dahlia Gladiola Rurina Menufandu | Affiliation unknown | 1 |
| Trigarcia Maleachi Randa | Affiliation unknown | 1 |
| Chrisaria Palungan | Affiliation unknown | 1 |
| Yusuf Willem Sawaki | Affiliation unknown | 1 |
| Yaved Syuf | Affiliation unknown | 1 |
| Josepina Baru | Affiliation unknown | 1 |
| Viktor Tawer | Affiliation unknown | 1 |
| Saur Situmorang | Affiliation unknown | 1 |
| Ferawati R. Runtuboi | Affiliation unknown | 1 |
| San Afri Awang | Affiliation unknown | 1 |
| Bustar Maitar | Affiliation unknown | 1 |
| Antoni Ungirwalu | Affiliation unknown | 1 |
| Mariana Y. Peday | Affiliation unknown | 1 |
| Agustinus Murdjoko | Affiliation unknown | 1 |
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.