Dominasi kekuasaan dalam komunikasi vertikal menciptakan kesenjangan sosial yang memperlemah posisi kelompok tidak dominan, sering kali mengakibatkan diskriminasi dan marginalisasi. Dalam konteks ini, film dapat berfungsi sebagai media untuk menyuarakan ketidakadilan dan memperjuangkan hak asasi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dominasi kekuasaan dalam film pendek "Please Be Quiet" karya William Adiguna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) dari Ruth Wodak. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan analisis isi terhadap film, yang mencakup dialog dan representasi visual. Teknik analisis wacana historis digunakan untuk mengkaji konteks historis, teknik diskursif, dan realisasi makna linguistik dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialog yang kuat dan penuh emosi memperlihatkan bagaimana kekuasaan digunakan untuk menekan dan mengendalikan korban serta saksi pelecehan seksual. Temuan ini juga mengungkapkan adanya dominasi budaya patriarki di lingkungan kerja. Kesimpulannya, film "Please Be Quiet" mampu membangkitkan kesadaran penonton terhadap realitas ketidakadilan yang dihadapi oleh korban pelecehan seksual dan mendorong perubahan dalam sistem dan budaya perusahaan untuk lebih melindungi hak-hak korban.
Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.
Affiliation unknown
Different organisations
Same organisation
Affiliation unknown
Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-author
Organisation
Joint articles
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.