Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 2

Analisis Perbandingan Model Bert Dan Xlnet Untuk Klasifikasi Tweet Bully Pada Twitter

Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) · Vol. 11 No. 6 (2024) · pp. 1371–1376

DOI
10.25126/jtiik.2024119096
ISSN
2528-6579, 2355-7699
Published
2024-12-10
Publisher
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
Language
id
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Bahasa Indonesia

Fenomena bullying di media sosial, khususnya di Twitter, telah menjadi isu yang semakin memprihatinkan dengan dampak signifikan terhadap kesehatan mental pengguna. Dalam rangka mengatasi masalah ini, deteksi otomatis tweet yang mengandung konten bullying menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa dua model pemrosesan bahasa alami terbaru, yaitu BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) dan XLNet, dalam klasifikasi tweet yang mengandung bullying. Metodologi penelitian ini melibatkan pengumpulan dataset tweet yang telah dilabeli sebagai bullying atau non-bullying. Proses preprocessing teks dilakukan untuk membersihkan dan menyiapkan data sebelum digunakan dalam pelatihan model. Kedua model, BERT dan XLNet, dilatih dan diuji menggunakan dataset yang sama. Evaluasi performa dilakukan dengan menggunakan metrik akurasi, presisi, recall, dan F1-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi tweet bullying, akan tetapi XLNet menunjukkan performa yang lebih unggul dibandingkan BERT dengan tingkat akurasi sebesar 95%. Dengan nilai presisi = 100%, recall = 0,87%, dan F1-score = 0,88%. XLNet mampu menangkap konteks dan nuansa bahasa yang lebih kompleks dalam tweet, yang berkontribusi pada akurasi klasifikasi yang lebih tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang deteksi bullying di media sosial dengan menunjukkan bahwa penggunaan model XLNet lebih efektif dibandingkan BERT. Temuan ini dapat membantu platform seperti Twitter dalam mengidentifikasi dan mencegah konten bullying, sehingga menciptakan lingkungan online yang lebih aman bagi pengguna, serta dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan sistem deteksi bullying yang lebih canggih dan efisien di masa depan. Abstract The phenomenon of bullying on social media, particularly on Twitter, has become an increasingly concerning issue with significant impacts on users' mental health. In order to address this issue, automatic detection of tweets containing bullying content is crucial. This study aims to compare the performance of two recent natural language processing models, namely BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) and XLNet, in the classification of tweets containing bullying. The research methodology involves collecting a dataset of tweets that have been labelled as bullying or non-bullying. Text preprocessing is done to clean and prepare the data before it is used in model training. Both models, BERT and XLNet, were trained and tested using the same dataset. Performance evaluation was conducted using accuracy, precision, recall, and F1-score metrics. The results show that both models have a good ability to identify bullying tweets, but XLNet shows superior performance compared to BERT with an accuracy rate of 95%. With precision = 100%, recall = 0.87%, and F1-score = 0.88%. XLNet is able to capture more complex context and language nuances in tweets, which contributes to higher classification accuracy. This research makes an important contribution to the field of bullying detection on social media by showing that the use of the XLNet model is more effective than BERT. These findings can help platforms like Twitter identify and prevent bullying content, thereby creating a safer online environment for users, and can be used as a basis for the development of more sophisticated and efficient bullying detection systems in the future.

English

Fenomena bullying di media sosial, khususnya di Twitter, telah menjadi isu yang semakin memprihatinkan dengan dampak signifikan terhadap kesehatan mental pengguna. Dalam rangka mengatasi masalah ini, deteksi otomatis tweet yang mengandung konten bullying menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa dua model pemrosesan bahasa alami terbaru, yaitu BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) dan XLNet, dalam klasifikasi tweet yang mengandung bullying. Metodologi penelitian ini melibatkan pengumpulan dataset tweet yang telah dilabeli sebagai bullying atau non-bullying. Proses preprocessing teks dilakukan untuk membersihkan dan menyiapkan data sebelum digunakan dalam pelatihan model. Kedua model, BERT dan XLNet, dilatih dan diuji menggunakan dataset yang sama. Evaluasi performa dilakukan dengan menggunakan metrik akurasi, presisi, recall, dan F1-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi tweet bullying, akan tetapi XLNet menunjukkan performa yang lebih unggul dibandingkan BERT dengan tingkat akurasi sebesar 95%. Dengan nilai presisi = 100%, recall = 0,87%, dan F1-score = 0,88%. XLNet mampu menangkap konteks dan nuansa bahasa yang lebih kompleks dalam tweet, yang berkontribusi pada akurasi klasifikasi yang lebih tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang deteksi bullying di media sosial dengan menunjukkan bahwa penggunaan model XLNet lebih efektif dibandingkan BERT. Temuan ini dapat membantu platform seperti Twitter dalam mengidentifikasi dan mencegah konten bullying, sehingga menciptakan lingkungan online yang lebih aman bagi pengguna, serta dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan sistem deteksi bullying yang lebih canggih dan efisien di masa depan. Abstract The phenomenon of bullying on social media, particularly on Twitter, has become an increasingly concerning issue with significant impacts on users' mental health. In order to address this issue, automatic detection of tweets containing bullying content is crucial. This study aims to compare the performance of two recent natural language processing models, namely BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) and XLNet, in the classification of tweets containing bullying. The research methodology involves collecting a dataset of tweets that have been labelled as bullying or non-bullying. Text preprocessing is done to clean and prepare the data before it is used in model training. Both models, BERT and XLNet, were trained and tested using the same dataset. Performance evaluation was conducted using accuracy, precision, recall, and F1-score metrics. The results show that both models have a good ability to identify bullying tweets, but XLNet shows superior performance compared to BERT with an accuracy rate of 95%. With precision = 100%, recall = 0.87%, and F1-score = 0.88%. XLNet is able to capture more complex context and language nuances in tweets, which contributes to higher classification accuracy. This research makes an important contribution to the field of bullying detection on social media by showing that the use of the XLNet model is more effective than BERT. These findings can help platforms like Twitter identify and prevent bullying content, thereby creating a safer online environment for users, and can be used as a basis for the development of more sophisticated and efficient bullying detection systems in the future.

Collaboration network of the authors

9 authors · 16 co-authorship links · 9 across different organisations

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Institut Teknologi Mitra Gama
  • Universitas Ibnu Sina
  • Universitas Putra Indonesia "YPTK"
  • Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
  • Universitas Muhammadiyah Riau
  • STMIK Dumai
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Supratman ZakirUniversitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi1
Vitriani VitrianiUniversitas Muhammadiyah Riau1
FauzansyahAffiliation unknown1
Pulla Pandika WidodoSTMIK Dumai1
Hafiz MursalanInstitut Teknologi Mitra Gama1
Budi Permana PutraInstitut Teknologi Mitra Gama1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/en/oai, first harvested 27 Okt 2026, last seen 27 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="id">Analisis Perbandingan Model Bert Dan Xlnet Untuk Klasifikasi Tweet Bully Pada Twitter</dc:title>
	<dc:title xml:lang="en">Analisis Perbandingan Model Bert Dan Xlnet Untuk Klasifikasi Tweet Bully Pada Twitter</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Radillah, Teuku</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Radillah, Teuku</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Veza, Okta </dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Defit, Sarjon</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="id">Fenomena bullying di media sosial, khususnya di Twitter, telah menjadi isu yang semakin memprihatinkan dengan dampak signifikan terhadap kesehatan mental pengguna. Dalam rangka mengatasi masalah ini, deteksi otomatis tweet yang mengandung konten bullying menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa dua model pemrosesan bahasa alami terbaru, yaitu BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) dan XLNet, dalam klasifikasi tweet yang mengandung bullying. Metodologi penelitian ini melibatkan pengumpulan dataset tweet yang telah dilabeli sebagai bullying atau non-bullying. Proses preprocessing teks dilakukan untuk membersihkan dan menyiapkan data sebelum digunakan dalam pelatihan model. Kedua model, BERT dan XLNet, dilatih dan diuji menggunakan dataset yang sama. Evaluasi performa dilakukan dengan menggunakan metrik akurasi, presisi, recall, dan F1-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi tweet bullying, akan tetapi XLNet menunjukkan performa yang lebih unggul dibandingkan BERT dengan tingkat akurasi sebesar 95%. Dengan nilai presisi  = 100%, recall  = 0,87%, dan F1-score = 0,88%. XLNet mampu menangkap konteks dan nuansa bahasa yang lebih kompleks dalam tweet, yang berkontribusi pada akurasi klasifikasi yang lebih tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang deteksi bullying di media sosial dengan menunjukkan bahwa penggunaan model XLNet lebih efektif dibandingkan BERT. Temuan ini dapat membantu platform seperti Twitter dalam mengidentifikasi dan mencegah konten bullying, sehingga menciptakan lingkungan online yang lebih aman bagi pengguna, serta dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan sistem deteksi bullying yang lebih canggih dan efisien di masa depan.
 
Abstract
The phenomenon of bullying on social media, particularly on Twitter, has become an increasingly concerning issue with significant impacts on users' mental health. In order to address this issue, automatic detection of tweets containing bullying content is crucial. This study aims to compare the performance of two recent natural language processing models, namely BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) and XLNet, in the classification of tweets containing bullying. The research methodology involves collecting a dataset of tweets that have been labelled as bullying or non-bullying. Text preprocessing is done to clean and prepare the data before it is used in model training. Both models, BERT and XLNet, were trained and tested using the same dataset. Performance evaluation was conducted using accuracy, precision, recall, and F1-score metrics. The results show that both models have a good ability to identify bullying tweets, but XLNet shows superior performance compared to BERT with an accuracy rate of 95%. With precision = 100%, recall = 0.87%, and F1-score = 0.88%. XLNet is able to capture more complex context and language nuances in tweets, which contributes to higher classification accuracy. This research makes an important contribution to the field of bullying detection on social media by showing that the use of the XLNet model is more effective than BERT. These findings can help platforms like Twitter identify and prevent bullying content, thereby creating a safer online environment for users, and can be used as a basis for the development of more sophisticated and efficient bullying detection systems in the future.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="en">Fenomena bullying di media sosial, khususnya di Twitter, telah menjadi isu yang semakin memprihatinkan dengan dampak signifikan terhadap kesehatan mental pengguna. Dalam rangka mengatasi masalah ini, deteksi otomatis tweet yang mengandung konten bullying menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa dua model pemrosesan bahasa alami terbaru, yaitu BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) dan XLNet, dalam klasifikasi tweet yang mengandung bullying. Metodologi penelitian ini melibatkan pengumpulan dataset tweet yang telah dilabeli sebagai bullying atau non-bullying. Proses preprocessing teks dilakukan untuk membersihkan dan menyiapkan data sebelum digunakan dalam pelatihan model. Kedua model, BERT dan XLNet, dilatih dan diuji menggunakan dataset yang sama. Evaluasi performa dilakukan dengan menggunakan metrik akurasi, presisi, recall, dan F1-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi tweet bullying, akan tetapi XLNet menunjukkan performa yang lebih unggul dibandingkan BERT dengan tingkat akurasi sebesar 95%. Dengan nilai presisi  = 100%, recall  = 0,87%, dan F1-score = 0,88%. XLNet mampu menangkap konteks dan nuansa bahasa yang lebih kompleks dalam tweet, yang berkontribusi pada akurasi klasifikasi yang lebih tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang deteksi bullying di media sosial dengan menunjukkan bahwa penggunaan model XLNet lebih efektif dibandingkan BERT. Temuan ini dapat membantu platform seperti Twitter dalam mengidentifikasi dan mencegah konten bullying, sehingga menciptakan lingkungan online yang lebih aman bagi pengguna, serta dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan sistem deteksi bullying yang lebih canggih dan efisien di masa depan.
 
Abstract
The phenomenon of bullying on social media, particularly on Twitter, has become an increasingly concerning issue with significant impacts on users' mental health. In order to address this issue, automatic detection of tweets containing bullying content is crucial. This study aims to compare the performance of two recent natural language processing models, namely BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers) and XLNet, in the classification of tweets containing bullying. The research methodology involves collecting a dataset of tweets that have been labelled as bullying or non-bullying. Text preprocessing is done to clean and prepare the data before it is used in model training. Both models, BERT and XLNet, were trained and tested using the same dataset. Performance evaluation was conducted using accuracy, precision, recall, and F1-score metrics. The results show that both models have a good ability to identify bullying tweets, but XLNet shows superior performance compared to BERT with an accuracy rate of 95%. With precision = 100%, recall = 0.87%, and F1-score = 0.88%. XLNet is able to capture more complex context and language nuances in tweets, which contributes to higher classification accuracy. This research makes an important contribution to the field of bullying detection on social media by showing that the use of the XLNet model is more effective than BERT. These findings can help platforms like Twitter identify and prevent bullying content, thereby creating a safer online environment for users, and can be used as a basis for the development of more sophisticated and efficient bullying detection systems in the future.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-10</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/9096</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.25126/jtiik.2024119096</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="id">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol 11 No 6: Desember 2024; 1371-1376</dc:source>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol. 11 No. 6: Desember 2024; 1371-1376</dc:source>
	<dc:source>2528-6579</dc:source>
	<dc:source>2355-7699</dc:source>
	<dc:source>10.25126/jtiik.116</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/9096/1373</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2024 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>