Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

Posisi Aktor Adat Dalam Kebijakan Budaya: Studi Kasus Komunitas Bissu di Bone

Development Policy and Management Review (DPMR) · Vol. ume (2026) · pp. 23–38

DOI
10.61731/dpmr.v6i1.50309
ISSN
2830-5094
Published
2026-07-13
Publisher
Pusat Penelitian Kebijakan Pembangunan, Universitas Hasanuddin
Language
en
License
creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis keterlibatan komunitas Bissu dalam perumusan kebijakan Pemajuan Kebudayaan Daerah di Kabupaten Bone, khususnya pada tahap agenda setting. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan ditentukan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling yang melibatkan pemerintah daerah, DPRD, tokoh Bissu, akademisi, dan aktivis budaya. Analisis data menggunakan teori multiple streams dan konsep policy problem structuring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa marginalisasi komunitas Bissu terjadi sejak tahap awal perumusan kebijakan. Persoalan keterlibatan Bissu belum dikonstruksi sebagai masalah publik yang penting oleh pemerintah daerah dan DPRD. Proses agenda setting didominasi aktor pemerintah, sedangkan komunitas Bissu berada pada posisi subordinat akibat keterbatasan akses politik dan stigma sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa eksklusi kelompok adat dalam kebijakan budaya terjadi melalui kegagalan konstruksi masalah pada tahap agenda setting.

Keywords

Collaboration network of the authors

9 authors · 12 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Haryanto HaryantoAffiliation unknown1
Irdan MangkauAffiliation unknown1
Regina Dwi Putri CahyaniAffiliation unknown1
Arianas YunusAffiliation unknown1
suhartono firmanAffiliation unknown1
Puji QomariahAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/DPMR/oai, first harvested 2 Nov 2026, last seen 2 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">Posisi Aktor Adat Dalam Kebijakan Budaya: Studi Kasus Komunitas Bissu di Bone</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Kamila, Tasyafah</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Tamma, Sukri</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Bailusy, Ummi Suci Fathia</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Komunitas Bissu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Agenda Setting</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kebijakan Publik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kebijakan Budaya</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Bone</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Penelitian ini bertujuan menganalisis keterlibatan komunitas Bissu dalam perumusan kebijakan Pemajuan Kebudayaan Daerah di Kabupaten Bone, khususnya pada tahap agenda setting. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan ditentukan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling yang melibatkan pemerintah daerah, DPRD, tokoh Bissu, akademisi, dan aktivis budaya. Analisis data menggunakan teori multiple streams dan konsep policy problem structuring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa marginalisasi komunitas Bissu terjadi sejak tahap awal perumusan kebijakan. Persoalan keterlibatan Bissu belum dikonstruksi sebagai masalah publik yang penting oleh pemerintah daerah dan DPRD. Proses agenda setting didominasi aktor pemerintah, sedangkan komunitas Bissu berada pada posisi subordinat akibat keterbatasan akses politik dan stigma sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa eksklusi kelompok adat dalam kebijakan budaya terjadi melalui kegagalan konstruksi masalah pada tahap agenda setting.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Pusat Penelitian Kebijakan Pembangunan, Universitas Hasanuddin</dc:publisher>
	<dc:date>2026-07-13</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/DPMR/article/view/50309</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.61731/dpmr.v6i1.50309</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Development Policy and Management Review (DPMR); Volume 6 Issue 1 June 2026; 23-38</dc:source>
	<dc:source>2830-5094</dc:source>
	<dc:source>10.61731/dpmr.v6i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/DPMR/article/view/50309/14726</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2026 Tasyafah Kamila, Sukri Tamma, Ummi Suci Fathia Bailusy</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>