Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal SINTA 2

SENTRIN- Pengembangan Pembagian Beban Kerja Server Cluster Docker Swarm Berbasis Raspberry Dengan Metode Loadbalancer IP HASH Serta Terautomasi Ansible

Pengembangan Pembagian Beban Kerja Server Cluster DockerSwarm Berbasis Raspberry Dengan Metode Loadbalancer IpHash Serta Terautomasi Ansible

Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) · Vol. 12 No. 3 (2025) · pp. 497–504

DOI
10.25126/jtiik.2025129466
ISSN
2528-6579, 2355-7699
Published
2025-06-30
Publisher
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
Language
id
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Abstract

Bahasa Indonesia

Perkembangan teknologi saat ini mempercepat penyebaran informasi, hal ini meningkatkan traffic dan tekanan pada infrastruktur. Menghadapi ini, sistem yang reliable, availability, dan maintainability diperlukan. Dengan container dan Raspberry Pi sebagai server. Memberikan keunggulan selain 3 karakteristik sistem tersebut juga dari sumberdaya yang diperlukan. Raspberry Pi dapat terhubung ke jaringan LAN maupun nirkabel. Fokus penelitian ini pada perancangan dan implementasi sistem berbasis empat Raspberry Pi, tiga sebagai webserver Nginx, dan satu sebagai kontroler. Sistem ini menggunakan teknologi containerization di lingkungan DockerSwarm dan diintegrasikan Ansible untuk otomatisasi tugas. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan sistem yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, memanfaatkan Raspberry Pi untuk efisiensi daya, dan memberikan manfaat dalam hal skalabilitas dan otomatisasi. Sistem ini menggunakan empat Raspberry Pi dengan algoritma IP HASH untuk pembagian beban kerja. Komponen utama mencakup input dari pengguna, pemrosesan beban kerja oleh load balancer, dan output melalui antarmuka web browser. Load balancer bertanggung jawab atas distribusi lalu lintas dan pemantauan status server untuk mengalihkan lalu lintas jika diperlukan. Pengujian menunjukkan system dengan load balancer lebih efisien dalam penggunaan CPU dengan perbandingan CPU 39.1% pada ws1 dengan loadbalancer dan 51.2% tanpa loadbalancer, 38.9% pada ws2 dengan loadbalancer dan 51.7% tanpa loadbalancer, serta 6.3% pada ws3 ketika loadbalancer mengalihkan request saat server 1 atau 2 mati dan efektif dalam mengalihkan request saat server bermasalah dengan persentase kegagalan melayani request sebesar 18% atau 18 request dari 1000 request sedangkan tanpa loadbalancer request tidak dapat dilayani ketika server yang dituju mati. Ini membuktikan reliable, availability, dan maintainability pada sistem ini terpenuhi.

English

Perkembangan teknologi saat ini mempercepat penyebaran informasi, hal ini meningkatkan traffic dan tekanan pada infrastruktur. Menghadapi ini, sistem yang reliable, availability, dan maintainability diperlukan. Dengan container dan Raspberry Pi sebagai server. Memberikan keunggulan selain 3 karakteristik sistem tersebut juga dari sumberdaya yang diperlukan. Raspberry Pi dapat terhubung ke jaringan LAN maupun nirkabel. Fokus penelitian ini pada perancangan dan implementasi sistem berbasis empat Raspberry Pi, tiga sebagai webserver Nginx, dan satu sebagai kontroler. Sistem ini menggunakan teknologi containerization di lingkungan DockerSwarm dan diintegrasikan Ansible untuk otomatisasi tugas. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan sistem yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, memanfaatkan Raspberry Pi untuk efisiensi daya, dan memberikan manfaat dalam hal skalabilitas dan otomatisasi. Sistem ini menggunakan empat Raspberry Pi dengan algoritma IP HASH untuk pembagian beban kerja. Komponen utama mencakup input dari pengguna, pemrosesan beban kerja oleh load balancer, dan output melalui antarmuka web browser. Load balancer bertanggung jawab atas distribusi lalu lintas dan pemantauan status server untuk mengalihkan lalu lintas jika diperlukan. Pengujian menunjukkan system dengan load balancer lebih efisien dalam penggunaan CPU dengan perbandingan CPU 39.1% pada ws1 dengan loadbalancer dan 51.2% tanpa loadbalancer, 38.9% pada ws2 dengan loadbalancer dan 51.7% tanpa loadbalancer, serta 6.3% pada ws3 ketika loadbalancer mengalihkan request saat server 1 atau 2 mati dan efektif dalam mengalihkan request saat server bermasalah dengan persentase kegagalan melayani request sebesar 18% atau 18 request dari 1000 request sedangkan tanpa loadbalancer request tidak dapat dilayani ketika server yang dituju mati. Ini membuktikan reliable, availability, dan maintainability pada sistem ini terpenuhi. Abstract Current technological advancements have accelerated the dissemination of information, increasing traffic and pressure on infrastructure. To handle this, reliable, available, and maintainable systems are required. Utilizing containers and Raspberry Pi as servers offers significant advantages, particularly in resource efficiency. Raspberry Pi can connect to networks via LAN cables or wirelessly. This research focuses on designing and implementing a system based on four Raspberry Pis three as Nginx web servers and one as a controller. The system employs containerization technology within a Docker Swarm environment and integrates Ansible for task automation. The goal is to create an adaptable system that leverages Raspberry Pi for energy efficiency, scalability, and automation benefits. The system uses the IP HASH algorithm for workload distribution, with key components including user input, workload processing by the load balancer, and output via a web browser interface. The load balancer handles traffic distribution and server status monitoring, redirecting traffic as needed. Testing shows that the system with a load balancer is more efficient in CPU usage 39.1% on ws1 with a load balancer and 51.2% without, 38.9% on ws2 with a load balancer and 51.7% without, and 6.3% on ws3 when redirecting requests during server 1 or 2 failures. It effectively redirects requests during server issues, with a failure rate of 18% (18 out of 1000 requests), while requests cannot be served when the targeted server is down without a load balancer. This demonstrates the system's reliability, availability, and maintainability.

Keywords

Collaboration network of the authors

24 authors · 60 co-authorship links · 4 across different organisations

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • University of Brawijaya
  • Lambung Mangkurat University
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Agung Setia BudiUniversity of Brawijaya3
Muhammad AlkaffLambung Mangkurat University1
Yuslena SariLambung Mangkurat University1
Husnul KhatimiLambung Mangkurat University1
Puja DarmawanLambung Mangkurat University1
Mochammad Hannats Hanafi IchsanUniversity of Brawijaya1
Angga Sukma BahariUniversity of Brawijaya1
Mahardeka Tri AnantaUniversity of Brawijaya1
Giservin Tifira ZainUniversity of Brawijaya1
Barlian Henryranu PrasetioUniversity of Brawijaya1
Arsal Wildan NaviaddinUniversity of Brawijaya1
Agung Setia BudiAffiliation unknown1
Fauzan Ghozi MubarakAffiliation unknown1
Fauzan Ghozi MubarakUniversity of Brawijaya1
Eko SetiawanUniversity of Brawijaya1
Naufal Mohamad GhifaryAffiliation unknown1
Hurriyatul FitriyahUniversity of Brawijaya1
Rizal MaulanaUniversity of Brawijaya1
Eko SetiawanUniversity of Brawijaya1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/en/oai, first harvested 27 Okt 2026, last seen 27 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="id">SENTRIN- Pengembangan Pembagian Beban Kerja Server Cluster Docker Swarm Berbasis Raspberry Dengan Metode Loadbalancer IP HASH Serta Terautomasi Ansible</dc:title>
	<dc:title xml:lang="en">Pengembangan Pembagian Beban Kerja Server Cluster DockerSwarm Berbasis Raspberry Dengan Metode Loadbalancer IpHash Serta Terautomasi Ansible</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Tohari, Fauzan Adzima</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Primananda, Rakhmadhany</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Shaffan, Nur Hazbiy</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Tohari, Fauzan Adzima</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Primananda, Rakhmadhany</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Shaffan, Nur Hazbiy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Container</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Raspberry Pi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Load Balancer</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Nginx</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">IP Hash</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Server</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Ansible</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Docker Swarm</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Container</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Raspberry Pi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Load Balancer</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Nginx</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">IP Hash</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Server</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Ansible</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Docker Swarm</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="id">Perkembangan teknologi saat ini mempercepat penyebaran informasi, hal ini meningkatkan traffic dan tekanan pada infrastruktur. Menghadapi ini, sistem yang reliable, availability, dan maintainability diperlukan. Dengan container dan Raspberry Pi sebagai server. Memberikan keunggulan selain 3 karakteristik sistem tersebut juga dari sumberdaya yang diperlukan. Raspberry Pi dapat terhubung ke jaringan LAN maupun nirkabel. Fokus penelitian ini pada perancangan dan implementasi sistem berbasis empat Raspberry Pi, tiga sebagai webserver Nginx, dan satu sebagai kontroler. Sistem ini menggunakan teknologi containerization di lingkungan DockerSwarm dan diintegrasikan Ansible untuk otomatisasi tugas. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan sistem yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, memanfaatkan Raspberry Pi untuk efisiensi daya, dan memberikan manfaat dalam hal skalabilitas dan otomatisasi. Sistem ini menggunakan empat Raspberry Pi dengan algoritma IP HASH untuk pembagian beban kerja. Komponen utama mencakup input dari pengguna, pemrosesan beban kerja oleh load balancer, dan output melalui antarmuka web browser. Load balancer bertanggung jawab atas distribusi lalu lintas dan pemantauan status server untuk mengalihkan lalu lintas jika diperlukan. Pengujian menunjukkan system dengan load balancer lebih efisien dalam penggunaan CPU dengan perbandingan CPU 39.1% pada ws1 dengan loadbalancer dan 51.2% tanpa loadbalancer, 38.9% pada ws2 dengan loadbalancer dan 51.7% tanpa loadbalancer, serta 6.3% pada ws3 ketika loadbalancer mengalihkan request saat server 1 atau 2 mati dan efektif dalam mengalihkan request saat server bermasalah dengan persentase kegagalan melayani request sebesar 18% atau 18 request dari 1000 request sedangkan tanpa loadbalancer request tidak dapat dilayani ketika server yang dituju mati. Ini membuktikan reliable, availability, dan maintainability pada sistem ini terpenuhi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="en">Perkembangan teknologi saat ini mempercepat penyebaran informasi, hal ini meningkatkan traffic dan tekanan pada infrastruktur. Menghadapi ini, sistem yang reliable, availability, dan maintainability diperlukan. Dengan container dan Raspberry Pi sebagai server. Memberikan keunggulan selain 3 karakteristik sistem tersebut juga dari sumberdaya yang diperlukan. Raspberry Pi dapat terhubung ke jaringan LAN maupun nirkabel. Fokus penelitian ini pada perancangan dan implementasi sistem berbasis empat Raspberry Pi, tiga sebagai webserver Nginx, dan satu sebagai kontroler. Sistem ini menggunakan teknologi containerization di lingkungan DockerSwarm dan diintegrasikan Ansible untuk otomatisasi tugas. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan sistem yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, memanfaatkan Raspberry Pi untuk efisiensi daya, dan memberikan manfaat dalam hal skalabilitas dan otomatisasi. Sistem ini menggunakan empat Raspberry Pi dengan algoritma IP HASH untuk pembagian beban kerja. Komponen utama mencakup input dari pengguna, pemrosesan beban kerja oleh load balancer, dan output melalui antarmuka web browser. Load balancer bertanggung jawab atas distribusi lalu lintas dan pemantauan status server untuk mengalihkan lalu lintas jika diperlukan. Pengujian menunjukkan system dengan load balancer lebih efisien dalam penggunaan CPU dengan perbandingan CPU 39.1% pada ws1 dengan loadbalancer dan 51.2% tanpa loadbalancer, 38.9% pada ws2 dengan loadbalancer dan 51.7% tanpa loadbalancer, serta 6.3% pada ws3 ketika loadbalancer mengalihkan request saat server 1 atau 2 mati dan efektif dalam mengalihkan request saat server bermasalah dengan persentase kegagalan melayani request sebesar 18% atau 18 request dari 1000 request sedangkan tanpa loadbalancer request tidak dapat dilayani ketika server yang dituju mati. Ini membuktikan reliable, availability, dan maintainability pada sistem ini terpenuhi.
 
Abstract
Current technological advancements have accelerated the dissemination of information, increasing traffic and pressure on infrastructure. To handle this, reliable, available, and maintainable systems are required. Utilizing containers and Raspberry Pi as servers offers significant advantages, particularly in resource efficiency. Raspberry Pi can connect to networks via LAN cables or wirelessly. This research focuses on designing and implementing a system based on four Raspberry Pis three as Nginx web servers and one as a controller. The system employs containerization technology within a Docker Swarm environment and integrates Ansible for task automation. The goal is to create an adaptable system that leverages Raspberry Pi for energy efficiency, scalability, and automation benefits. The system uses the IP HASH algorithm for workload distribution, with key components including user input, workload processing by the load balancer, and output via a web browser interface. The load balancer handles traffic distribution and server status monitoring, redirecting traffic as needed. Testing shows that the system with a load balancer is more efficient in CPU usage 39.1% on ws1 with a load balancer and 51.2% without, 38.9% on ws2 with a load balancer and 51.7% without, and 6.3% on ws3 when redirecting requests during server 1 or 2 failures. It effectively redirects requests during server issues, with a failure rate of 18% (18 out of 1000 requests), while requests cannot be served when the targeted server is down without a load balancer. This demonstrates the system's reliability, availability, and maintainability.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya</dc:publisher>
	<dc:date>2025-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/9466</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.25126/jtiik.2025129466</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="id">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol 12 No 3: Juni 2025; 497-504</dc:source>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer; Vol. 12 No. 3: Juni 2025; 497-504</dc:source>
	<dc:source>2528-6579</dc:source>
	<dc:source>2355-7699</dc:source>
	<dc:source>10.25126/jtiik.123</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://jtiik.ub.ac.id/index.php/jtiik/article/view/9466/1431</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2025 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>