Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

DISASTER POTENTIAL ANALYSIS OF EXTREME SEA WAVES AND COASTAL ABRASION IN TANJUNG BUNGA AND BAROMBONG BEACH AREA IN MAKASSAR

ANALISIS POTENSI BENCANA GELOMBANG LAUT EKSTRIM DAN ABRASI PANTAI DI KAWASAN TANJUNG BUNGA DAN PANTAI BAROMBONG MAKASSAR

SENSISTEK:Riset Sains dan Teknologi Kelautan · Vol. ume No. mor (2024) · pp. 91–96

DOI
10.62012/sensistek.v7i1.31675
ISSN
2988-2559, 2623-1506
Published
2024-05-31
Publisher
Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Language
id

Abstract

English

Makassar City is a coastal city in Indonesia with a coastline length of 32 km which includes eleven small islands and a total area of 122,370 km or about 1.1% of the area. This is why Makassar City has a unique character as a coastal city. In recent years, coastal areas in various parts of Indonesia have experienced a very alarming decline, according to the report of the Content Study and Management Plan for Coastal Waters and Oceans, Ministry of Regional Development and Regional Development. Makassar City is one of 30 coastal cities in Indonesia. It is estimated that coastal cities in Indonesia can be affected by rising sea levels in coastal areas, among others; Coastal areas are exposed to negative impacts such as sedimentation (deposition), environmental pollution, then changes in the water system due to human activities and building infrastructure on land but also at sea. The Makassar coastal area has experienced a significant decrease in environmental carrying capacity caused by uncontrolled access to building infrastructure and the condition of the earth's surface shape in coastal areas that can cause disasters. If coastal conditions are not repaired/improved and reduced, it will cause damage to coastal environmental areas which also have an impact on the surrounding areas. The development of this coastal area must be managed by developing the concept of disaster reduction. through the right regional system with me

Bahasa Indonesia

Kota Makassar adalah kota yang memiliki pesisir di negara Indonesia dengan panjang garis pantai yaitu sepanjang 32 km yang meliputi sebelas pulau kecil dan luas total 122.370 km atau sekitar 1,1% dari luas daerah. Hal inilah Kota Makassar mempunyai karakter unik sebagai kota pantai pesisir. Pada beberapa tahun terakhir, pesisir pantai di berbagai wilayah Indonesia mendapat penurunan sangat mengkhawatirkan, demikian laporan Kajian Kandungan dan Rencana Pengelolaan Perairan dan Lautan Pesisir, Menteri Pembangunan Daerah dan Pembangunan Daerah. Kota Makassar termasuk salah satu dari 30 kota pesisir di Indonesia. Diperkirakan kota-kota pesisir di Indonesia dapat terdampak oleh naiknya permukaan air laut di wilayah pesisir, antara lain; Wilayah pesisir terkena dampak negatif seperti sedimentasi (pengendapan), pencemaran lingkungan, lalu perubahan sistem perairan akibat ulah manusia dan membangun infastruktur di darat tetapi juga di laut. Wilayah pesisir Makassar mengalami penurunan daya dukung lingkungan secara signifikan yang disebabkan oleh tidak terkendalinya akses membangun infastruktut dan kondisi bentuk permukaan bumi di wilayah pesisir yang dapat menimbulkan bencana. Apabila kondisi pesisir tidak diperbaiki/diperbaiki dan dikurangi maka akan menimbulkan kerusakan kawasan lingkungan pesisir yang juga berdampak pada wilayah disekitarnya. Pembangunan wilayah pesisir ini harus dikelola dengan mengembangkan konsep pengurangan bencana. melalui sistem kawasan yang tepat dengan melihat nilai risiko dan karakteristik wilayah pantai pesisir di kota Makassar. Mengenai hasil analisis sungai Kota Makassar dan tingkat risiko bencana di wilayah penelitian yaitu: nilai bencana di wilayah penelitian mempunyai dua tingkatan yaitu nilai risiko sedang dan nilai tinggi. Persentase nilai risiko bencana besar sebesar 59% atau 1,96 km2 sedangkan nilai kritis sebesar 41% (1,35 km2). Konsep regionalisme yaitu pengurangan bencana diharapkan adalah regionalisme. di banyak kawasan zonasi yaitu: Shelter, Perumahan, Transit Zone, dll. Perencanaan penggunaan lahan di wilayah-wilayah ini mempertimbangkan kendala-kendala ini. Keywords: Mitigasi Bencana,Gelombang Laut Ekstrem, Abrasi, Kawasan Pesisir

Keywords

Collaboration network of the authors

14 authors · 35 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Nasional University
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Salsa FitrahAffiliation unknown2
Bulan PurnamaAffiliation unknown1
Muhammad Rif’atAffiliation unknown1
Muhammad Rahmat RamadhanaAffiliation unknown1
Farrel RisaiAffiliation unknown1
Hutabri Setiyoputra SuhartoAffiliation unknown1
Taufiqur RachmanAffiliation unknown1
Siti Arifaini SulemanAffiliation unknown1
Agus SalimNasional University1
Dimas FitrawanAffiliation unknown1
Rachmat Hidayat PerdanaAffiliation unknown1
Sri WantiAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/SENSISTEK/oai, first harvested 2 Nov 2026, last seen 2 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DISASTER POTENTIAL ANALYSIS OF EXTREME SEA WAVES AND COASTAL ABRASION IN TANJUNG BUNGA AND BAROMBONG BEACH AREA IN MAKASSAR</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id">ANALISIS POTENSI BENCANA GELOMBANG LAUT EKSTRIM DAN ABRASI PANTAI DI KAWASAN TANJUNG BUNGA DAN PANTAI BAROMBONG MAKASSAR</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Nur, Fitrahwati</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Herman, Alifia Pratiwi</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Nur, Fitrahwati</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Herman, Alifia Pratiwi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="id">Mitigasi Bencana,Gelombang Laut Ekstrem , Abrasi, Kawasan Pesisir</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Mitigasi Bencana,Gelombang Laut Ekstrem , Abrasi, Kawasan Pesisir</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en"> 
Makassar City is a coastal city in Indonesia with a coastline length of 32 km which includes eleven small islands and a total area of 122,370 km or about 1.1% of the area. This is why Makassar City has a unique character as a coastal city. In recent years, coastal areas in various parts of Indonesia have experienced a very alarming decline, according to the report of the Content Study and Management Plan for Coastal Waters and Oceans, Ministry of Regional Development and Regional Development. Makassar City is one of 30 coastal cities in Indonesia. It is estimated that coastal cities in Indonesia can be affected by rising sea levels in coastal areas, among others; Coastal areas are exposed to negative impacts such as sedimentation (deposition), environmental pollution, then changes in the water system due to human activities and building infrastructure on land but also at sea. The Makassar coastal area has experienced a significant decrease in environmental carrying capacity caused by uncontrolled access to building infrastructure and the condition of the earth's surface shape in coastal areas that can cause disasters. If coastal conditions are not repaired/improved and reduced, it will cause damage to coastal environmental areas which also have an impact on the surrounding areas. The development of this coastal area must be managed by developing the concept of disaster reduction. through the right regional system with me</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id"> 
Kota Makassar adalah kota yang memiliki pesisir di negara Indonesia dengan panjang garis pantai yaitu sepanjang 32 km yang meliputi sebelas pulau kecil dan luas total 122.370 km atau sekitar 1,1% dari luas daerah . Hal inilah Kota Makassar mempunyai karakter unik sebagai kota pantai pesisir. Pada beberapa tahun terakhir, pesisir pantai di berbagai wilayah Indonesia mendapat penurunan sangat mengkhawatirkan, demikian laporan Kajian Kandungan dan Rencana Pengelolaan Perairan dan Lautan Pesisir, Menteri Pembangunan Daerah dan Pembangunan Daerah. Kota Makassar termasuk salah satu dari 30 kota pesisir di Indonesia. Diperkirakan kota-kota pesisir di Indonesia dapat terdampak oleh naiknya permukaan air laut di wilayah pesisir, antara lain; Wilayah pesisir terkena dampak negatif seperti sedimentasi (pengendapan), pencemaran lingkungan, lalu perubahan sistem perairan akibat ulah manusia dan membangun infastruktur di darat tetapi juga di laut. Wilayah pesisir Makassar mengalami penurunan daya dukung lingkungan secara signifikan yang disebabkan oleh tidak terkendalinya akses membangun infastruktut dan kondisi bentuk permukaan bumi di wilayah pesisir yang dapat menimbulkan bencana. Apabila kondisi pesisir tidak diperbaiki/diperbaiki dan dikurangi maka akan menimbulkan kerusakan kawasan lingkungan pesisir yang juga berdampak pada wilayah disekitarnya. Pembangunan wilayah pesisir ini harus dikelola dengan mengembangkan konsep pengurangan bencana. melalui sistem kawasan yang tepat dengan melihat nilai risiko dan karakteristik wilayah pantai pesisir di kota Makassar. Mengenai hasil analisis sungai Kota Makassar dan tingkat risiko bencana di wilayah penelitian yaitu: nilai bencana di wilayah penelitian mempunyai dua tingkatan yaitu nilai risiko sedang dan nilai tinggi. Persentase nilai risiko bencana besar sebesar 59% atau 1,96 km2 sedangkan nilai kritis sebesar 41% (1,35 km2). Konsep regionalisme yaitu pengurangan bencana diharapkan adalah regionalisme. di banyak kawasan zonasi yaitu: Shelter, Perumahan, Transit Zone, dll. Perencanaan penggunaan lahan di wilayah-wilayah ini mempertimbangkan kendala-kendala ini.
Keywords: Mitigasi Bencana,Gelombang Laut Ekstrem , Abrasi, Kawasan Pesisir
 </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin</dc:publisher>
	<dc:date>2024-05-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/SENSISTEK/article/view/31675</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.62012/sensistek.v7i1.31675</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">SENSISTEK:Riset Sains dan Teknologi Kelautan; Volume 7, Nomor 1, Tahun 2024; 91-96</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">Riset Sains dan Teknologi Kelautan; Volume 7, Nomor 1, Tahun 2024; 91-96</dc:source>
	<dc:source>2988-2559</dc:source>
	<dc:source>2623-1506</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/SENSISTEK/article/view/31675/11574</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2026 SENSISTEK:Riset Sains dan Teknologi Kelautan</dc:rights>
</oai_dc:dc>