Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA (0– 59 BULAN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKKABATA KABUPATEN POLEWALI MANDAR

Hasanuddin Journal of Public Health (HJPH) · Vol. 5 No. 2 (2024) · pp. 217–228

DOI
10.30597/hjph.v5i2.35491
ISSN
2721-2408
Published
2024-06-30
Publisher
Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar
Language
en
License
creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

Abstract

Latar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata.

Keywords

Collaboration network of the authors

31 authors · 59 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Rismayanti RismayantiUniversitas Halu Oleo5
A. Arsunan ArsinAffiliation unknown2
Yahya ThamrinAffiliation unknown1
Furqaan NaiemAffiliation unknown1
Lalu M SalehAffiliation unknown1
Fajaruddin NatsirAffiliation unknown1
Nurul MuflishaAffiliation unknown1
FirmanUniversitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong1
Ridwan AmiruddinAffiliation unknown1
M Mario HikmatAffiliation unknown1
Ida Leida M ThahaAffiliation unknown1
Sri HartinaAffiliation unknown1
Nurkhalisah HarisAffiliation unknown1
Muh. Arman NyombaAffiliation unknown1
Fitrie Ramadhani ReskiAffiliation unknown1
Kirana Syafa RamadhaniAffiliation unknown1
RismayantiAffiliation unknown1
Lilmawati LilmawatiAffiliation unknown1
Putri Apriyanti IlmanAffiliation unknown1
Andi Selvi Yusnita SariAffiliation unknown1
Ruri Khallaj Al-FarabiAffiliation unknown1
Auliah KhoirunnisaAffiliation unknown1
Anastasya Elma PanggoAffiliation unknown1
Ryza Jazid Baharuddin NurAffiliation unknown1
Arsunan ArsinAffiliation unknown1
Zakya Nur HalizhahAffiliation unknown1
Aryunita AryunitaAffiliation unknown1
Nahda Fatin AlifahAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/hjph/oai, first harvested 2 Nov 2026, last seen 2 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA (0– 59 BULAN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKKABATA KABUPATEN POLEWALI MANDAR</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Mongan, Gabryella Laura</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Wahiduddin, Wahiduddin</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Dwinata, Indra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Stunting</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pendidikan ibu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Usia ibu saat hamil</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Berat badan lahir anak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">KEK</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Latar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/hjph/article/view/35491</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.30597/hjph.v5i2.35491</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Hasanuddin Journal of Public Health (HJPH); Vol. 5 No. 2: JUNE 2024; 217-228</dc:source>
	<dc:source>2721-2408</dc:source>
	<dc:source>10.30597/hjph.v5i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/hjph/article/view/35491/13869</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2024 by author</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>