Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

TINGKAT KERENTANAN DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM BERBASIS EKOSISTEM PADI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

Jurnal Dinamika Pengabdian · Vol. 5 No. 1 (2019) · pp. 71–82

DOI
10.20956/jdp.v5i1.8125
ISSN
2528-3219, 2460-8173
Published
2019-10-31
Publisher
Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS
Language
en

Abstract

ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk menilai kerentanan, resiliensi dan adaptasi petani terhadap perubahan iklim berbasis ekosistem padi. Informasi kerentanan dan adaptasi perubahan iklim pada ekosistem padi yang diperoleh diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengambilan kebijakan untuk mendukung kegiatan pertanian di daerah-daerah di Indonesia, khusunya pada ekosistem padi. Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan yaitu bulan Mei – Oktober 2018. Penilaian kerentanan petani terhadap perubahan iklim pada ekosistem padi menggunakan tiga elemen kerentanan, yaitu: singkapan, kepekaan dan kemampuan adaptasi petani. Sampel penelitian di ambil dari sentra produksi padi di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Sidrap, Pinrang dan Wajo. Hasil studi menunjukkan Kabupaten Sidrap, Pinrang dan Wajo dapat dibagi menjadi delapan zona hujan utama. Hanya sebagian kecil masyarakat ekosistem padi yang menyatakan tidak tahu tentang perubahan iklim. Dampak perubahan iklim yang yang dirasakan responden antara lain: penurunan produksi (tanaman pangan, dan perkebunan), gagalnya panen (puso) karena banjir dan kekeringan, kerusakan materi harta benda terkena banjir/longsor dan intensitas penyakit ISPA dan diare meningkat dan penurunan produksi merupakan dampak yang paling dirasakan masyarakat ekosistem padi. Indeks kumulatif kepekaan Kabupaten Sidrap, Pinrang dan Wajo berbeda dengan kategori berturut-turut adalah kelas agak rendah, kelas agak rendah dan kelas sedang, yang disebabkan nilai bobot dan skor dari tiap indiaktor kepekaan berbeda. Berdasarkan nilai indeks kumulatif kerentanan dan indeks kapasitas adaptasi maka ketiga kabupaten studi menunjukkan dari rentan sampai sangat rentan. Kabupaten Wajo memiliki nilai indeks kerentanan tertinggi (sangat rentan), dibandingkan dengan kedua kabupaten studi lainnya, sehingga perlu mendapat perhatian utama.Kata kunci: perubahan iklim, kerentanan, sensitivitas, kapasitas adaptasi, resilensi. ABSTRACTThis study aims to assess the vulnerability, resilience and adaptation of farmers to climate change based on rice ecosystems. Information on the vulnerability and adaptation to climate change obtained from rice ecosystems is expected to be useful and provide input for local governments and other stakeholders in making policies to support agricultural activities in regions in Indonesia, especially in rice ecosystems. This research was carried out for six months, from May to October 2018. Assessment of farmers' vulnerability to climate change in rice ecosystems uses three elements of vulnerability, namely: outcrop, sensitivity and adaptability of farmers. The research sample was taken from rice production centers in South Sulawesi, namely the districts of Sidrap, Pinrang and Wajo. The study results show that the districts of Sidrap, Pinrang and Wajo can be divided into eight main rain zones. Only a small part of the rice ecosystem community said they did not know about climate change. The impacts of climate change felt by respondents include: a decrease in production (food crops and plantations), failure of harvest (puso) due to flooding and drought, damage to material property affected by floods / landslides and the intensity of ARI and diarrhea increases and decreases in production are impacts the most felt rice ecosystem community. The cumulative index sensitivity of Sidrap, Pinrang and Wajo regencies differ from successive categories, which is a rather low class, a rather low class and a moderate class, which is due to the weight and score values of each different sensitivity indicator. Based on the cumulative index value of vulnerability and adaptation capacity index, the three study districts show from vulnerable to very vulnerable. Wajo District has the highest (very vulnerable) vulnerability index value, compared to the other two study districts, so it needs to be given major attention.Keywords: climate change, vulnerability, sensitivity, adaptive capacity, resilience.

Collaboration network of the authors

21 authors · 65 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Hari IswoyoAffiliation unknown2
Rahmansyah DermawanAffiliation unknown2
Aminuddin Mane KandariUniversitas Halu Oleo1
Sumbangan BajaAffiliation unknown1
Ambo AlaAffiliation unknown1
Cri Wahyuni Brahmi YantiAffiliation unknown1
Chaerani Nur AzizahAffiliation unknown1
Asmiaty SahurAffiliation unknown1
A. Nur Afni RamadhaniAffiliation unknown1
Nuniek WidiayaniAffiliation unknown1
Ummi Nur Hasanah KamaruddinAffiliation unknown1
Ifayanti RidwanAffiliation unknown1
Rusdayani AminAffiliation unknown1
Nasaruddin .Affiliation unknown1
Katriani MantjaAffiliation unknown1
Abdul Mollah JayaAffiliation unknown1
Muh. Farid BDRAffiliation unknown1
RafiuddinAffiliation unknown1
Yunus MusaAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/jdp/oai, first harvested 5 Nov 2026, last seen 5 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">TINGKAT KERENTANAN DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM BERBASIS EKOSISTEM PADI  DI PROVINSI SULAWESI SELATAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Kamaluddin, Apiaty</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Kaimuddin, .</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en">ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk menilai kerentanan, resiliensi dan adaptasi petani terhadap perubahan iklim berbasis ekosistem padi. Informasi kerentanan dan adaptasi perubahan iklim pada ekosistem padi yang diperoleh diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengambilan kebijakan untuk mendukung kegiatan pertanian di daerah-daerah di Indonesia, khusunya pada ekosistem padi. Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan yaitu bulan Mei – Oktober 2018. Penilaian kerentanan petani terhadap perubahan iklim pada ekosistem padi menggunakan tiga elemen kerentanan, yaitu: singkapan, kepekaan dan kemampuan adaptasi petani. Sampel penelitian di ambil dari sentra produksi padi di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Sidrap, Pinrang dan Wajo. Hasil studi menunjukkan Kabupaten Sidrap, Pinrang dan Wajo dapat dibagi menjadi delapan zona hujan utama. Hanya sebagian kecil masyarakat ekosistem padi yang menyatakan tidak tahu tentang perubahan iklim. Dampak perubahan iklim yang yang dirasakan responden antara lain: penurunan produksi (tanaman pangan, dan  perkebunan), gagalnya panen (puso) karena banjir dan kekeringan, kerusakan materi harta benda terkena banjir/longsor dan intensitas penyakit ISPA dan diare meningkat dan penurunan produksi merupakan dampak yang paling dirasakan masyarakat ekosistem padi. Indeks kumulatif kepekaan Kabupaten Sidrap, Pinrang dan Wajo berbeda dengan kategori berturut-turut adalah kelas agak rendah, kelas agak rendah dan kelas sedang, yang disebabkan nilai bobot dan skor dari tiap indiaktor kepekaan berbeda. Berdasarkan nilai indeks kumulatif kerentanan  dan indeks kapasitas adaptasi maka ketiga kabupaten studi menunjukkan dari rentan sampai sangat rentan. Kabupaten Wajo memiliki nilai indeks kerentanan tertinggi (sangat rentan), dibandingkan dengan kedua kabupaten studi lainnya, sehingga perlu mendapat perhatian utama.Kata kunci: perubahan iklim, kerentanan, sensitivitas, kapasitas adaptasi, resilensi. ABSTRACTThis study aims to assess the vulnerability, resilience and adaptation of farmers to climate change based on rice ecosystems. Information on the vulnerability and adaptation to climate change obtained from rice ecosystems is expected to be useful and provide input for local governments and other stakeholders in making policies to support agricultural activities in regions in Indonesia, especially in rice ecosystems. This research was carried out for six months, from May to October 2018. Assessment of farmers' vulnerability to climate change in rice ecosystems uses three elements of vulnerability, namely: outcrop, sensitivity and adaptability of farmers. The research sample was taken from rice production centers in South Sulawesi, namely the districts of Sidrap, Pinrang and Wajo. The study results show that the districts of Sidrap, Pinrang and Wajo can be divided into eight main rain zones. Only a small part of the rice ecosystem community said they did not know about climate change. The impacts of climate change felt by respondents include: a decrease in production (food crops and plantations), failure of harvest (puso) due to flooding and drought, damage to material property affected by floods / landslides and the intensity of ARI and diarrhea increases and decreases in production are impacts the most felt rice ecosystem community. The cumulative index sensitivity of Sidrap, Pinrang and Wajo regencies differ from successive categories, which is a rather low class, a rather low class and a moderate class, which is due to the weight and score values of each different sensitivity indicator. Based on the cumulative index value of vulnerability and adaptation capacity index, the three study districts show from vulnerable to very vulnerable. Wajo District has the highest (very vulnerable) vulnerability index value, compared to the other two study districts, so it needs to be given major attention.Keywords: climate change, vulnerability, sensitivity, adaptive capacity, resilience. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS</dc:publisher>
	<dc:date>2019-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jdp/article/view/8125</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.20956/jdp.v5i1.8125</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Dinamika Pengabdian; Vol. 5 No. 1 (2019): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 5 NO. 1 OKTOBER 2019; 71-82</dc:source>
	<dc:source>2528-3219</dc:source>
	<dc:source>2460-8173</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jdp/article/view/8125/4331</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2019 Jurnal Dinamika Pengabdian (JDP)</dc:rights>
</oai_dc:dc>