Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

Farmer Modernity: Levels of Modernity and Structural and Cultural Barriers in Rice Agribusiness

Modernitas Petani: Tingkat Modernitas Serta Hambatan Struktural Dan Budaya dalam Agribisnis Padi

Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian · Vol. 20 No. 1 (2023) · pp. 51–64

DOI
10.20956/jsep.v20i1.22620
ISSN
2598-5922, 0853-8395
Published
2023-12-19
Publisher
Hasanuddin University
Language
en
License
creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0

Abstract

English

This study aims to determine the level of modernity of rice farmers, identify agricultural modernization processes that encourage the modernity of rice farmers, and identify obstacles (structural and cultural) that hinder the modernity of rice farmers. This research was conducted in Timusu Village, Liliriaja District, Soppeng Regency, South Sulawesi. This research approach is a quantitative approach using survey methods through direct interviews with rice farmers and filling out questionnaires. The measurement of modernity uses the Likert scale and the data analysis used is descriptive statistical analysis. Based on the results of the Likert scale analysis on the level of modernity of rice farmers measured through fourteen indicators, an average total score of 147 and an average index of 69.95% were obtained, meaning that the level of modernity of rice farmers is in the high category. Agricultural modernization occurs when rice farming communities see farmers in other regions using modern agricultural technology. The presence of the use of modern agricultural technology can facilitate and speed up the completion of work. This encourages the modernity of rice farmers who are always interested in trying new things, as well as accepting change. The social relations and way of life of farmers began to change and adapt to today's connections and way of life. The barriers to modernity of rice farmers are divided into two parts: structural barriers and cultural barriers. Structural obstacles are caused by the narrow area of arable land and the institutional role of farmer groups is lacking in the management of alsintan use. Meanwhile, cultural barriers are caused by low farmer education and aging of farmers.

Bahasa Indonesia

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat modernitas petani padi, mengidentifikasi proses modernisasi pertanian yang mendorong modernitas petani padi, dan mengidentifikasi hambatan-hambatan (struktural dan budaya) yang menghambat modernitas petani padi. Penelitian ini dilakukan di Desa Timusu Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei melalui wawancara langsung kepada petani padi dan pengisian kuesioner. Pengukuran modernitas menggunakan skala likert dan analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis skala likers pada tingkat modernitas petani padi yang diukur melalui empat belas indikator diperoleh rata-rata total skor 147 dan rata-rata indeks 69,95%, artinya tingkat modernitas petani padi berada pada kategori tinggi. Modernisasi pertanian terjadi ketika masyarakat petani padi melihat petani di daerah lain menggunakan teknologi pertanian modern. Hadirnya penggunaan teknologi pertanian modern dapat mempermudah dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Hal ini mendorong modernitas petani padi yang selalu tertarik mencoba hal-hal baru, serta menerima perubahan. Hubungan sosial dan cara hidup petani mulai berubah dan disesuaikan dengan koneksi dan cara hidup saat ini. Hambatan modernitas petani padi terbagi menjadi dua bagian diantaran hambatan struktural dan hambatan budaya. Hambatan struktural disebabkan karena luas lahan garapan tergolong sempit dan peran kelembagaan kelompok tani kurang dalam manajemen penggunaan alsintan. sedangkan hambatan budaya disebabkan karena pendidikan petani rendah dan penuaan umur petani.

Keywords

Collaboration network of the authors

38 authors · 84 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Sembilanbelas November Kolaka
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Nurbaya BusthanulAffiliation unknown3
Didi RukmanaAffiliation unknown2
A. Nixia TenriawaruAffiliation unknown2
Rahim DarmaAffiliation unknown2
Saadah SaadahAffiliation unknown2
Galib Suwito CoraAffiliation unknown1
Yulfirah YusufAffiliation unknown1
Andi FadhilahAffiliation unknown1
Rizky PutrianiAffiliation unknown1
A. TenriawaruAffiliation unknown1
Ferawati FerawatiAffiliation unknown1
Hastika HastikaAffiliation unknown1
Arin SaputriAffiliation unknown1
Nurdin LanuhuAffiliation unknown1
Rahmawaty NadjaAffiliation unknown1
Rahmadani RahmadaniAffiliation unknown1
Muslim SalamAffiliation unknown1
Ros MitaAffiliation unknown1
Jumarni LatifAffiliation unknown1
Marina MarinaUniversitas Sembilanbelas November Kolaka1
Pipi DiansariAffiliation unknown1
Letty FudjajaAffiliation unknown1
Rahmadanih RahmadanihAffiliation unknown1
Risma Yana RisalAffiliation unknown1
Rusli M. RukkaAffiliation unknown1
Ayu MarshyaAffiliation unknown1
Andi Trisnaidar DahringAffiliation unknown1
Ni Made ViantikaAffiliation unknown1
Irmayani ArasAffiliation unknown1
Ni Made Viantika SAffiliation unknown1
Putri Amelia S.Affiliation unknown1
Aidil FikramAffiliation unknown1
Eymal B DemmallinoAffiliation unknown1
Rasyidah BakriAffiliation unknown1
Pira YuniarAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/jsep/oai, first harvested 5 Nov 2026, last seen 5 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">Farmer Modernity: Levels of Modernity and Structural and Cultural Barriers in Rice Agribusiness </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id">Modernitas Petani: Tingkat Modernitas Serta Hambatan Struktural Dan Budaya dalam Agribisnis Padi </dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">A, Sasmita</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">S. Ali, Saleh</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Amrullah, A. </dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">A, Sasmita</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">S. Ali, Saleh</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Amrullah, A. </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Modernity; Farmer; Paddy; Agribusiness.</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Modernitas; Petani; Padi; Agribisnis.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">This study aims to determine the level of modernity of rice farmers, identify agricultural modernization processes that encourage the modernity of rice farmers, and identify obstacles (structural and cultural) that hinder the modernity of rice farmers. This research was conducted in Timusu Village, Liliriaja District, Soppeng Regency, South Sulawesi. This research approach is a quantitative approach using survey methods through direct interviews with rice farmers and filling out questionnaires. The measurement of modernity uses the Likert scale and the data analysis used is descriptive statistical analysis.  Based on the results of the Likert scale analysis on the level of modernity of rice farmers measured through fourteen indicators, an average total score of 147 and an average index of 69.95% were obtained, meaning that the level of modernity of rice farmers is in the high category. Agricultural modernization occurs when rice farming communities see farmers in other regions using modern agricultural technology. The presence of the use of modern agricultural technology can facilitate and speed up the completion of work. This encourages the modernity of rice farmers who are always interested in trying new things, as well as accepting change. The social relations and way of life of farmers began to change and adapt to today's connections and way of life.  The barriers to modernity of rice farmers are divided into two parts: structural barriers and cultural barriers. Structural obstacles are caused by the narrow area of arable land and the institutional role of farmer groups is lacking in the management of alsintan use. Meanwhile, cultural barriers are caused by low farmer education and aging of farmers.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id">Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat modernitas petani padi, mengidentifikasi proses modernisasi pertanian yang mendorong modernitas petani padi, dan mengidentifikasi hambatan-hambatan (struktural dan budaya) yang menghambat modernitas petani padi. Penelitian ini dilakukan di Desa Timusu Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei melalui wawancara langsung kepada petani padi dan pengisian kuesioner. Pengukuran modernitas menggunakan skala likert dan analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis skala likers pada tingkat modernitas petani padi yang diukur melalui empat belas indikator diperoleh rata-rata total skor 147 dan rata-rata indeks 69,95%, artinya tingkat modernitas petani padi berada pada kategori tinggi. Modernisasi pertanian terjadi ketika masyarakat petani padi melihat petani di daerah lain menggunakan teknologi pertanian modern. Hadirnya penggunaan teknologi pertanian modern dapat mempermudah dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Hal ini mendorong modernitas petani padi yang selalu tertarik mencoba hal-hal baru, serta menerima perubahan. Hubungan sosial dan cara hidup petani mulai berubah dan disesuaikan dengan koneksi dan cara hidup saat ini. Hambatan modernitas petani padi terbagi menjadi dua bagian diantaran hambatan struktural dan hambatan budaya. Hambatan struktural disebabkan karena luas lahan garapan tergolong sempit dan peran kelembagaan kelompok tani kurang dalam manajemen penggunaan alsintan. sedangkan hambatan budaya disebabkan karena pendidikan petani rendah dan penuaan umur petani.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Hasanuddin University</dc:publisher>
	<dc:date>2023-12-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jsep/article/view/22620</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.20956/jsep.v20i1.22620</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian; Vol. 20 No. 1 (2024): February, 2024; 51-64</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian; Vol 20 No 1 (2024): Februari, 2024; 51-64</dc:source>
	<dc:source>2598-5922</dc:source>
	<dc:source>0853-8395</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jsep/article/view/22620/10676</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>