Melola Discovery

← Melola Discovery

Akses terbuka Jurnal

Disruption of Socio-Ecological Systems: The Impact of Land Burning Ban Policy on Farmer Community in Mantangai District, Central Kalimantan

Disrupsi Sistem Sosial-Ekologis: Dampak Kebijakan Larangan Pembakaran Lahan Terhadap Komunitas Petani di Kecamatan Mantangai, Kalimantan Tengah

Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian · Vol. 21 No. 1 (2025) · hlm. 1–18

DOI
10.20956/jsep.v21i1.43032
ISSN
2598-5922, 0853-8395
Terbit
2025-04-23
Penerbit
Hasanuddin University
Bahasa
id
Lisensi
creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0

Abstrak

Inggris

This study examines the impact of land burning ban policies on the socio-ecological systems of communities in Mantangai District, Central Kalimantan, focusing on traditional farming systems and their implications for food security, social structures, and ecological sustainability. Using a qualitative approach with case study methods, the research involved 27 informants through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings reveal three major transformations: (1) the shift in human-environment relations from an integrated to a fragmented system, (2) the transformation of socio-economic structures from collective to individual, and (3) a food security crisis due to loss of access to traditional farming systems. Through Environmental Sociology and Environmental Justice perspectives, the research demonstrates how policies based on the Human Exemptionalism Paradigm ignore the complexity of community socio-ecological relations that reflect the New Environmental Paradigm. Modernization programs like food estate have failed due to disregarding local knowledge, while criminalization of traditional practices has created systemic environmental injustice. The study recommends policy reformulation that integrates local wisdom and environmental justice to strengthen community socio-ecological resilience.

Bahasa Indonesia

Penelitian ini menganalisis dampak kebijakan larangan pembakaran lahan terhadap sistem sosial-ekologis masyarakat di Kecamatan Mantangai, Kalimantan Tengah, dengan fokus pada sistem pertanian tradisional dan implikasinya terhadap ketahanan pangan, struktur sosial, dan keberlanjutan ekologis. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian melibatkan 27 informan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumen. Hasil penelitian mengungkap tiga transformasi utama: (1) perubahan relasi manusia-lingkungan dari sistem terintegrasi menjadi terpisah, (2) pergeseran struktur sosial-ekonomi dari kolektif ke individual, dan (3) krisis ketahanan pangan akibat hilangnya akses pada sistem pertanian tradisional. Melalui perspektif Environmental Sociology dan Environmental Justice, penelitian menunjukkan bagaimana kebijakan berbasis Human Exemptionalism Paradigm mengabaikan kompleksitas relasi sosial-ekologis masyarakat yang justru mencerminkan New Environmental Paradigm. Program modernisasi seperti food estate gagal karena mengabaikan pengetahuan lokal, sementara kriminalisasi praktik tradisional menciptakan ketidakadilan lingkungan yang sistemik. Penelitian merekomendasikan reformulasi kebijakan yang mengintegrasikan kearifan lokal dan keadilan lingkungan untuk memperkuat ketahanan sosial-ekologis masyarakat.

Kata kunci

Jaringan kolaborasi para penulis

40 penulis · 86 tautan kepenulisan bersama · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • Universitas Muhammadiyah Parepare
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Rahmadanih RahmadanihAfiliasi tidak diketahui2
M.Saleh S. AliAfiliasi tidak diketahui2
Imam Mujahidin FahmidAfiliasi tidak diketahui2
Abdullah AbdullahAfiliasi tidak diketahui1
Hasnia AramiAfiliasi tidak diketahui1
Muslim TadjuddahAfiliasi tidak diketahui1
Syamsul KamriAfiliasi tidak diketahui1
Melpayanty SinagaAfiliasi tidak diketahui1
Juanda NawawiAfiliasi tidak diketahui1
Sakaria To AnwarAfiliasi tidak diketahui1
Muhammad SabiqAfiliasi tidak diketahui1
Arisnawawi ArisnawawiAfiliasi tidak diketahui1
Andi Rewo Batari WantiAfiliasi tidak diketahui1
Bahtiar .Afiliasi tidak diketahui1
Muhammad AzraiAfiliasi tidak diketahui1
A. TenriraweAfiliasi tidak diketahui1
Putra AstamanAfiliasi tidak diketahui1
Rahmat MuhammadAfiliasi tidak diketahui1
Rahma AminAfiliasi tidak diketahui1
Syaifullah KasimAfiliasi tidak diketahui1
Ramli ATAfiliasi tidak diketahui1
Ratmayani RatmayaniAfiliasi tidak diketahui1
Awalauddin YunusAfiliasi tidak diketahui1
Muhamad Fathun MunierAfiliasi tidak diketahui1
Rahmadani RahmadaniAfiliasi tidak diketahui1
Irvina SafitriAfiliasi tidak diketahui1
Febrianti NurAfiliasi tidak diketahui1
Rafika Dewi PratiwiAfiliasi tidak diketahui1
Thamrin PawalluriAfiliasi tidak diketahui1
Hidayat MarminAfiliasi tidak diketahui1
Arfenti AmirAfiliasi tidak diketahui1
Amruddin Ambo EnreAfiliasi tidak diketahui1
Didi RukmanaAfiliasi tidak diketahui1
Arsyad ArsyadAfiliasi tidak diketahui1
Ilham AlimuddinAfiliasi tidak diketahui1
Tajuddin TajuddinUniversitas Muhammadiyah Parepare1

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/jsep/oai, pertama di-harvest 5 Nov 2026, terakhir terlihat 5 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">Disruption of Socio-Ecological Systems: The Impact of Land Burning Ban Policy on Farmer Community in Mantangai District, Central Kalimantan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id">Disrupsi Sistem Sosial-Ekologis: Dampak Kebijakan Larangan Pembakaran Lahan Terhadap Komunitas Petani di Kecamatan Mantangai, Kalimantan Tengah</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Meilinda, Salsa Rizkia</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Yusril, Yusril</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Salman, Darmawan</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Muhammad, Sawedi</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Meilinda, Salsa Rizkia</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Yusril, Yusril</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Salman, Darmawan</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Muhammad, Sawedi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">food security</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">local wisdom</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">peatland</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">indigenous farming practices</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">Ketahanan Pangan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">kearifan lokal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">lahan gambut</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id">pertanian lokal</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">This study examines the impact of land burning ban policies on the socio-ecological systems of communities in Mantangai District, Central Kalimantan, focusing on traditional farming systems and their implications for food security, social structures, and ecological sustainability. Using a qualitative approach with case study methods, the research involved 27 informants through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings reveal three major transformations: (1) the shift in human-environment relations from an integrated to a fragmented system, (2) the transformation of socio-economic structures from collective to individual, and (3) a food security crisis due to loss of access to traditional farming systems. Through Environmental Sociology and Environmental Justice perspectives, the research demonstrates how policies based on the Human Exemptionalism Paradigm ignore the complexity of community socio-ecological relations that reflect the New Environmental Paradigm. Modernization programs like food estate have failed due to disregarding local knowledge, while criminalization of traditional practices has created systemic environmental injustice. The study recommends policy reformulation that integrates local wisdom and environmental justice to strengthen community socio-ecological resilience.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id">Penelitian ini menganalisis dampak kebijakan larangan pembakaran lahan terhadap sistem sosial-ekologis masyarakat di Kecamatan Mantangai, Kalimantan Tengah, dengan fokus pada sistem pertanian tradisional dan implikasinya terhadap ketahanan pangan, struktur sosial, dan keberlanjutan ekologis. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian melibatkan 27 informan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumen. Hasil penelitian mengungkap tiga transformasi utama: (1) perubahan relasi manusia-lingkungan dari sistem terintegrasi menjadi terpisah, (2) pergeseran struktur sosial-ekonomi dari kolektif ke individual, dan (3) krisis ketahanan pangan akibat hilangnya akses pada sistem pertanian tradisional. Melalui perspektif Environmental Sociology dan Environmental Justice, penelitian menunjukkan bagaimana kebijakan berbasis Human Exemptionalism Paradigm mengabaikan kompleksitas relasi sosial-ekologis masyarakat yang justru mencerminkan New Environmental Paradigm. Program modernisasi seperti food estate gagal karena mengabaikan pengetahuan lokal, sementara kriminalisasi praktik tradisional menciptakan ketidakadilan lingkungan yang sistemik. Penelitian merekomendasikan reformulasi kebijakan yang mengintegrasikan kearifan lokal dan keadilan lingkungan untuk memperkuat ketahanan sosial-ekologis masyarakat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Hasanuddin University</dc:publisher>
	<dc:date>2025-04-23</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jsep/article/view/43032</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.20956/jsep.v21i1.43032</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian; Vol. 21 No. 1 (2025): February, 2025; 1-18</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian; Vol 21 No 1 (2025): Februari, 2025; 1-18</dc:source>
	<dc:source>2598-5922</dc:source>
	<dc:source>0853-8395</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jsep/article/view/43032/12853</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>