Circular Economy Practices and Their Benefits for the Socio-Economic Life of Farmers: A Case Study on the Sugarcane, Corn, and Rubber Committees in Central Lampung Regency
Praktik Ekonomi Sirkular dan Manfaatnya bagi Kehidupan Sosial Ekonomi Petani: Studi Kasus pada Komditas Tebu, Jagung, dan Karet di Kabupaten Lampung Tengah
The sustainable development in Indonesia encourages the development of a green economy and a circular economy as an effort to integrate economic growth with environmental sustainability. This study aims to identify the pattern of circular economy practices along with their socio-economic benefits in Gunung Agung Village and Tanjung Anom Village, Central Lampung Regency, with a focus on sugarcane, corn, and rubber commodities. The data were collected through a purposive sampling method with 30 farmers as respondents. Furthermore, the data were analyzed descriptively using the 9R framework. The results show that agricultural wastes are beneficial as animal feed, organic fertilizers, fuels, and materials for making simple furniture. Socially, this practice has increased labour absorption and farmer knowledge, and economically has given additional income to farmers of about IDR 1.16 million (from sugarcane), IDR 1.52 million (corn), and IDR 1.59 million (rubber) per year. These findings indicate that the implementation of a circular economy has the potential to improve farmer welfare while supporting environmental sustainability.
Bahasa Indonesia
Pembangunan berkelanjutan di Indonesia mendorong pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi sirkular sebagai upaya memadukan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Ekonomi sirkular bertujuan mempertahankan nilai produk dan sumber daya dalam perekonomian, serta meminimalkan kerusakan sosial dan lingkungan. Sektor pertanian, termasuk di Provinsi Lampung, mulai menerapkan prinsip ekonomi sirkular secara bertahap. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola praktik ekonomi sirkular dan manfaat sosial ekonominya di Desa Gunung Agung dan Desa Tanjung Anom, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, dengan fokus pada komoditas tebu, jagung, dan karet. Data dikumpulkan melalui purposive sampling terhadap 30 petani yang menerapkan praktik ekonomi sirkular. Analisis dilakukan secara deskriptif berdasarkan pola 9R (Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, Recycle, Recover) dan kalkulasi manfaat sosial ekonomi langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola sirkular umum meliputi penggunaan limbah daun dan batang sebagai pakan ternak, bibit, pupuk organik, kayu bakar, serta produk mebel sederhana. Manfaat sosial dari praktik ini terutama tampak pada peningkatan ketenagakerjaan dan ilmu pengetahuan petani. Secara ekonomi, praktik sirkular memberikan tambahan pendapatan tahunan sebesar Rp1.160.000 untuk tebu, Rp1.524.000 untuk jagung, dan Rp1.990.000 untuk karet. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan ekonomi sirkular dalam usahatani berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat kesadaran terhadap pentingnya kelestarian lingkungan..
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.