This study explores how socioeconomic characteristics shape climate change adaptation strategies among rice farmers cultivating OPLAH land in West Kalimantan using a quantitative explanatory survey of 95 households analyzed through descriptive statistics and cross-tabulations. Results indicate that farmers are predominantly of productive age, have primary to secondary education, extensive farming experience, moderate dependency ratios, and middle-level incomes—conditions that generally support adaptive capacity. The most widely implemented adaptation strategies incorporate flood-tolerant rice varieties, context-specific cultivation practices for flood-drought conditions, and fertilizer management aligned with recommended guidelines, while adoption of improved water management systems remains limited. Cross-tabulations indicate that higher education, longer farming experience, greater family labor, and higher incomes are consistently associated with greater implementation of climate adaptation technologies, while older, less educated, and poorer farmers lag behind. The coexistence of relatively high adoption rates of varietal and agronomic adaptations alongside low adoption of water management practices suggests that capital intensity, collective action requirements, and institutional support are critical barriers. Policies should prioritize integrated interventions that simultaneously strengthen tertiary irrigation and drainage on farmland within the OPLAH scheme, target extension and subsidies for flood-resistant varieties and climate-smart agronomy to vulnerable groups, and encourage farmer organizations to reduce coordination and investment constraints in swamp-based rice systems.
Bahasa Indonesia
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana karakteristik sosioekonomi membentuk strategi adaptasi perubahan iklim di kalangan petani padi yang mengolah lahan OPLAH di Kalimantan Barat menggunakan survei penjelasan kuantitatif terhadap 95 rumah tangga yang dianalisis melalui statistik deskriptif dan tabulasi silang. Hasil menunjukkan bahwa petani sebagian besar berada pada usia produktif, memiliki pendidikan dasar-menengah, pengalaman bertani yang panjang, rasio ketergantungan yang moderat, dan pendapatan tingkat menengah, kondisi yang secara umum mendukung kapasitas adaptasi. Strategi adaptasi yang paling banyak diterapkan menggabungkan varietas padi tahan banjir, praktik budidaya spesifik konteks untuk kondisi banjir-kekeringan, dan pengelolaan pupuk yang selaras dengan pedoman yang direkomendasikan, sedangkan adopsi sistem pengelolaan air yang lebih baik masih terbatas. Tabulasi silang menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi, pengalaman bertani yang lebih lama, tenaga kerja keluarga yang lebih banyak, dan pendapatan yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan implementasi teknologi adaptasi iklim yang lebih besar, sementara petani yang lebih tua, kurang berpendidikan, dan lebih miskin tertinggal. Keberadaan tingkat adopsi adaptasi varietas dan agronomi yang relatif tinggi bersamaan dengan rendahnya penerapan praktik pengelolaan air menunjukkan bahwa intensitas modal, persyaratan tindakan kolektif, dan dukungan kelembagaan merupakan hambatan kritis. Kebijakan harus memprioritaskan intervensi terpadu yang secara bersamaan memperkuat irigasi tersier dan drainase di lahan pertanian dalam skema OPLAH, menargetkan penyuluhan dan subsidi untuk varietas tahan banjir dan agronomi cerdas iklim kepada kelompok rentan, serta mendorong organisasi petani untuk mengurangi kendala koordinasi dan investasi dalam sistem padi berbasis rawa.
Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.