Melola Discovery

← Melola Discovery

Open access Jurnal

INTONASI TUTURAN DEKLARATIF DAN INTEROGATIF BAHASA INDONESIA OLEH PEMELAJAR KOREA

JURNAL ILMU BUDAYA · Vol. 9 No. 2 (2021) · pp. 43–62

DOI
10.34050/jib.v9i2.14391
ISSN
2621-5101, 2354-7294
Published
2021-08-07
Publisher
Universitas Hasanuddin
Language
en
License
creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0

Abstract

Intonasi merupakan aspek yang perlu dikuasai pemelajar bahasa asing karena jika intonasi tidak dituturkan secara tepat, hal itu akan berakibat pada kesalahpahaman (Ur, 1999). Begitu pula pemelajar Korea yang memiliki karakterisasi prosodik tersendiri saat belajar bahasa Indonesia. Penelitian ini menginvestigasi intonasi tuturan deklaratif dan interogatif bahasa Indonesia oleh pemelajar BIPA dari Korea pada tingkat pemula, madya, dan tinggi. Data penelitian berupa tuturan tiga kalimat bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan Praat untuk melihat pola intonasi dan ciri akustik ujaran. Kajian ini menunjukkan bahwa ciri akustik yang menandai ketiga tingkat pemelajar adalah kontur intonasinya. Tinggi nada hanya menandai kontras tuturan deklaratif dan interogatif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pola intonasi dan ciri akustik tuturan tingkat pemula dan madya cenderung sama dengan bahasa Korea, sementara ciri akustik tuturan tinggi cenderung sama dengan bahasa Indonesia meskipun pola intonasinya berbeda dengan bahasa Indonesia. Hal itu berkaitan dengan kurangnya porsi pengajaran intonasi di dalam kelas BIPA.

Collaboration network of the authors

9 authors · 8 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Nokiamy Sesena TambaAffiliation unknown1
Fastira DwiputriAffiliation unknown1
Glenn Arnold YobelAffiliation unknown1
Anisa Mutiara QulbyAffiliation unknown1
Ima NurhasanahAffiliation unknown1
Nadya FadilahAffiliation unknown1
Izha Siti Chodizah1Affiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/oai, first harvested 5 Nov 2026, last seen 5 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">INTONASI TUTURAN DEKLARATIF DAN INTEROGATIF BAHASA INDONESIA OLEH PEMELAJAR KOREA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Laksman-Huntley, Myrna</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Mubin, Ilham Saiful </dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en">Intonasi merupakan aspek yang perlu dikuasai pemelajar bahasa asing karena jika intonasi tidak dituturkan secara tepat, hal itu akan berakibat pada kesalahpahaman (Ur, 1999). Begitu pula pemelajar Korea yang memiliki karakterisasi prosodik tersendiri saat belajar bahasa Indonesia. Penelitian ini menginvestigasi intonasi tuturan deklaratif dan interogatif bahasa Indonesia oleh pemelajar BIPA dari Korea pada tingkat pemula, madya, dan tinggi. Data penelitian berupa tuturan tiga kalimat bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan Praat untuk melihat pola intonasi dan ciri akustik ujaran. Kajian ini menunjukkan bahwa ciri akustik yang menandai ketiga tingkat pemelajar adalah kontur intonasinya. Tinggi nada hanya menandai kontras tuturan deklaratif dan interogatif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pola intonasi dan ciri akustik tuturan tingkat pemula dan madya cenderung sama dengan bahasa Korea, sementara ciri akustik tuturan tinggi cenderung sama dengan bahasa Indonesia meskipun pola intonasinya berbeda dengan bahasa Indonesia. Hal itu berkaitan dengan kurangnya porsi pengajaran intonasi di dalam kelas BIPA.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Universitas Hasanuddin</dc:publisher>
	<dc:date>2021-08-07</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/14391</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.34050/jib.v9i2.14391</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">JURNAL ILMU BUDAYA; Vol. 9 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Budaya; 43-62</dc:source>
	<dc:source>2621-5101</dc:source>
	<dc:source>2354-7294</dc:source>
	<dc:source>10.34050/jib.v9i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/14391/7213</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>