Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Dimensi Serat dan Nilai Turunan Serat Kayu Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) dan Waru (Hibiscus tiliaceus L.)

Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan · Vol. 17 No. 2 (2026)

DOI
10.70561/fw12ft30
ISSN
2549-8819, 2086-4604
Published
2026-08-29
Publisher
Universitas Hasanuddin
Language
en

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi serat dan nilai turunan serat kayu gmelina (Gmelina arborea Roxb.) dan waru (Hibiscus tiliaceus L.) serta membandingkan karakteristik anatomi serat kedua jenis kayu tersebut. Sampel kayu dimaserasi menggunakan metode Schultze dan diamati secara mikroskopis pada pembesaran 40× dan 100×. Parameter yang diukur meliputi panjang serat, diameter serat, diameter lumen, dan tebal dinding sel. Data dimensi serat digunakan untuk menghitung nilai turunan serat berupa Runkel ratio, flexibility ratio, felting power, Muhlsteph ratio, dan coefficient of rigidity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu gmelina memiliki panjang serat 1251,65 µm, diameter serat 31,10 µm, diameter lumen 18,26 µm, dan tebal dinding sel 6,42 µm, sedangkan kayu waru memiliki panjang serat 1083,96 µm, diameter serat 22,69 µm, diameter lumen 15,72 µm, dan tebal dinding sel 3,48 µm. Nilai turunan serat kayu gmelina berturut-turut adalah Runkel ratio 0,70, flexibility ratio 0,59, felting power 40,24, Muhlsteph ratio 31,10, dan coefficient of rigidity 0,21, sedangkan kayu waru memiliki nilai Runkel ratio 0,44, flexibility ratio 0,69, felting power 47,77, Muhlsteph ratio 51,97, dan coefficient of rigidity 0,15. Berdasarkan total nilai turunan dimensi serat, kayu waru memperoleh skor 250 dan termasuk kelas kualitas II, sedangkan kayu gmelina memperoleh skor 200 dan termasuk kelas kualitas III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu waru memiliki serat yang lebih fleksibel dengan lumen relatif lebih besar dan dinding sel lebih tipis, sedangkan kayu gmelina memiliki serat yang lebih besar namun lebih kaku akibat dinding sel yang lebih tebal.

Collaboration network of the authors

35 authors · 92 co-authorship links

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Perbanas Institute
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Sucahyo SadiyoAffiliation unknown2
Dodi NandikaAffiliation unknown2
ArinanaAffiliation unknown2
Irma WahyuningtiasAffiliation unknown2
Fitria Cita DirnaAffiliation unknown2
Irma WahyuningtyasAffiliation unknown2
Naresworo NugrohoAffiliation unknown1
Surjono SurjokusumoAffiliation unknown1
Apri Heri IswantoAffiliation unknown1
Fauzi FebriantoAffiliation unknown1
Nurhasanah .Affiliation unknown1
Fengky Satria YorestaAffiliation unknown1
Muhammad SholihinAffiliation unknown1
Astuti ArifAffiliation unknown1
Musrizal MuinAffiliation unknown1
Nur Maulida SariAffiliation unknown1
Lowisesi AndaniAffiliation unknown1
Heriad Daud SalusuAffiliation unknown1
YusdiansyahAffiliation unknown1
WartomoAffiliation unknown1
Farida AryaniAffiliation unknown1
Sari Delviana MarbunAffiliation unknown1
Jajang SuryanaAffiliation unknown1
Deded Sarip NawawiAffiliation unknown1
Damayanti RatihAffiliation unknown1
Rosalia SilabanAffiliation unknown1
Risna NonaAffiliation unknown1
Eva NurmariniAffiliation unknown1
Ferdi Alim FadillaAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/jai2/oai, first harvested 5 Nov 2026, last seen 5 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">Dimensi Serat dan Nilai Turunan Serat Kayu Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) dan Waru (Hibiscus tiliaceus L.)</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Kutana, Agung Nugrawan</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Prayogo, Yanico Hadi</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Wahyudi, Imam</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Hanifah, Nisrina Putri</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Pangestu, Kidung Tirtayasa Putra</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Prayitno, Joko</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi serat dan nilai turunan serat kayu gmelina (Gmelina arborea Roxb.) dan waru (Hibiscus tiliaceus L.) serta membandingkan karakteristik anatomi serat kedua jenis kayu tersebut. Sampel kayu dimaserasi menggunakan metode Schultze dan diamati secara mikroskopis pada pembesaran 40× dan 100×. Parameter yang diukur meliputi panjang serat, diameter serat, diameter lumen, dan tebal dinding sel. Data dimensi serat digunakan untuk menghitung nilai turunan serat berupa Runkel ratio, flexibility ratio, felting power, Muhlsteph ratio, dan coefficient of rigidity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu gmelina memiliki panjang serat 1251,65 µm, diameter serat 31,10 µm, diameter lumen 18,26 µm, dan tebal dinding sel 6,42 µm, sedangkan kayu waru memiliki panjang serat 1083,96 µm, diameter serat 22,69 µm, diameter lumen 15,72 µm, dan tebal dinding sel 3,48 µm. Nilai turunan serat kayu gmelina berturut-turut adalah Runkel ratio 0,70, flexibility ratio 0,59, felting power 40,24, Muhlsteph ratio 31,10, dan coefficient of rigidity 0,21, sedangkan kayu waru memiliki nilai Runkel ratio 0,44, flexibility ratio 0,69, felting power 47,77, Muhlsteph ratio 51,97, dan coefficient of rigidity 0,15. Berdasarkan total nilai turunan dimensi serat, kayu waru memperoleh skor 250 dan termasuk kelas kualitas II, sedangkan kayu gmelina memperoleh skor 200 dan termasuk kelas kualitas III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu waru memiliki serat yang lebih fleksibel dengan lumen relatif lebih besar dan dinding sel lebih tipis, sedangkan kayu gmelina memiliki serat yang lebih besar namun lebih kaku akibat dinding sel yang lebih tebal.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Universitas Hasanuddin</dc:publisher>
	<dc:date>2026-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jai2/article/view/51934</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.70561/fw12ft30</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan; Vol. 17 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan</dc:source>
	<dc:source>2549-8819</dc:source>
	<dc:source>2086-4604</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/jai2/article/view/51934/14942</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan</dc:rights>
</oai_dc:dc>