Melola Discovery

← Melola Discovery

Prosiding

JURNALISME MARITIM SEBAGAI MEDIUM TRANSFORMASI SOSIAL: PRAKTIK, TANTANGAN, DAN NARASI KULTURAL DI WILAYAH KEPULAUAN INDONESIA

Proceeding of The 5th ASPIKOM International Communication Conference (AICCON 2025) · Vol. 1 No. 1 (2025) · hlm. 547–554

DOI
10.31947/aiccon2025.v1i1.47739
ISSN
3032-6966
Terbit
2025-10-20
Penerbit
Department of Communication Studies, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Hasanuddin
Bahasa
id

Abstrak

Inggris

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan sosial dan budaya maritim yang beragam, namun belum sepenuhnya terepresentasi dalam narasi media arus utama. Jurnalisme maritim hadir sebagai pendekatan alternatif yang menempatkan wilayah pesisir sebagai episentrum pemberitaan, bukan sekadar pinggiran geografis. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran jurnalisme maritim dalam membentuk narasi budaya, memperkuat ketahanan sosial, dan mendorong transformasi di komunitas pesisir. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada tiga media local yang konsisten mengangkat isu-isu kelautan di wilayah Indonesia Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jurnalisme maritim berfungsi sebagai katalisator perubahan sosial melalui praktik peliputan berbasis komunitas, penguatan identitas lokal, dan advokasi terhadap isu lingkungan dan ekonomi. Tantangan utama meliputi keterbatasan akses sumber daya, dominasi narasi pembangunan pusat, serta minimnya dukungan kebijakan media. Studi ini merekomendasikan penguatan kapasitas jurnalis lokal, pembentukan jejaring jurnalisme maritim, serta dukungan kebijakan untuk memperluas ruang narasi kepulauan dalam lanskap media nasional. Temuan ini menegaskan pentingnya jurnalisme maritim sebagai strategi komunikasi transformatif dalam konteks pembangunan sosial budaya berbasis wilayah maritim.

Bahasa Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan sosial dan budaya maritim yang beragam, namun belum sepenuhnya terepresentasi dalam narasi media arus utama. Jurnalisme maritim hadir sebagai pendekatan alternatif yang menempatkan wilayah pesisir sebagai episentrum pemberitaan, bukan sekadar pinggiran geografis. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran jurnalisme maritim dalam membentuk narasi budaya, memperkuat ketahanan sosial, dan mendorong transformasi di komunitas pesisir. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada tiga media local yang konsisten mengangkat isu-isu kelautan di wilayah Indonesia Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jurnalisme maritim berfungsi sebagai katalisator perubahan sosial melalui praktik peliputan berbasis komunitas, penguatan identitas lokal, dan advokasi terhadap isu lingkungan dan ekonomi. Tantangan utama meliputi keterbatasan akses sumber daya, dominasi narasi pembangunan pusat, serta minimnya dukungan kebijakan media. Studi ini merekomendasikan penguatan kapasitas jurnalis lokal, pembentukan jejaring jurnalisme maritim, serta dukungan kebijakan untuk memperluas ruang narasi kepulauan dalam lanskap media nasional. Temuan ini menegaskan pentingnya jurnalisme maritim sebagai strategi komunikasi transformatif dalam konteks pembangunan sosial budaya berbasis wilayah maritim.

Kata kunci

Jaringan kolaborasi para penulis

2 penulis · 1 tautan kepenulisan bersama

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Andry PriyadharmadAfiliasi tidak diketahui1

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unhas.ac.id/index.php/aiccon/oai, pertama di-harvest 5 Nov 2026, terakhir terlihat 5 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">JURNALISME MARITIM SEBAGAI MEDIUM TRANSFORMASI SOSIAL: PRAKTIK, TANTANGAN, DAN NARASI KULTURAL DI WILAYAH KEPULAUAN INDONESIA</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id">JURNALISME MARITIM SEBAGAI MEDIUM TRANSFORMASI SOSIAL: PRAKTIK, TANTANGAN, DAN NARASI KULTURAL DI WILAYAH KEPULAUAN INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Moehammad Iqbal Sultan</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="id">Moehammad Iqbal Sultan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">jurnalisme maritim</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">transformasi sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">narasi budaya</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">wilayah kepulauan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Media Lokal</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan sosial dan budaya maritim yang beragam, namun belum sepenuhnya terepresentasi dalam narasi media arus utama. Jurnalisme maritim hadir sebagai pendekatan alternatif yang menempatkan wilayah pesisir sebagai episentrum pemberitaan, bukan sekadar pinggiran geografis. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran jurnalisme maritim dalam membentuk narasi budaya, memperkuat ketahanan sosial, dan mendorong transformasi di komunitas pesisir. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada tiga media local yang konsisten mengangkat isu-isu kelautan di wilayah Indonesia Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jurnalisme maritim berfungsi sebagai katalisator perubahan sosial melalui praktik peliputan berbasis komunitas, penguatan identitas lokal, dan advokasi terhadap isu lingkungan dan ekonomi. Tantangan utama meliputi keterbatasan akses sumber daya, dominasi narasi pembangunan pusat, serta minimnya dukungan kebijakan media. Studi ini merekomendasikan penguatan kapasitas jurnalis lokal, pembentukan jejaring jurnalisme maritim, serta dukungan kebijakan untuk memperluas ruang narasi kepulauan dalam lanskap media nasional. Temuan ini menegaskan pentingnya jurnalisme maritim sebagai strategi komunikasi transformatif dalam konteks pembangunan sosial budaya berbasis wilayah maritim.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id">Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan sosial dan budaya maritim yang beragam, namun belum sepenuhnya terepresentasi dalam narasi media arus utama. Jurnalisme maritim hadir sebagai pendekatan alternatif yang menempatkan wilayah pesisir sebagai episentrum pemberitaan, bukan sekadar pinggiran geografis. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran jurnalisme maritim dalam membentuk narasi budaya, memperkuat ketahanan sosial, dan mendorong transformasi di komunitas pesisir. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada tiga media local yang konsisten mengangkat isu-isu kelautan di wilayah Indonesia Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jurnalisme maritim berfungsi sebagai katalisator perubahan sosial melalui praktik peliputan berbasis komunitas, penguatan identitas lokal, dan advokasi terhadap isu lingkungan dan ekonomi. Tantangan utama meliputi keterbatasan akses sumber daya, dominasi narasi pembangunan pusat, serta minimnya dukungan kebijakan media. Studi ini merekomendasikan penguatan kapasitas jurnalis lokal, pembentukan jejaring jurnalisme maritim, serta dukungan kebijakan untuk memperluas ruang narasi kepulauan dalam lanskap media nasional. Temuan ini menegaskan pentingnya jurnalisme maritim sebagai strategi komunikasi transformatif dalam konteks pembangunan sosial budaya berbasis wilayah maritim.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Department of Communication Studies, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Hasanuddin</dc:publisher>
	<dc:date>2025-10-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unhas.ac.id/index.php/aiccon/article/view/47739</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31947/aiccon2025.v1i1.47739</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Proceeding of The 5th ASPIKOM  International  Communication Conference (AICCON 2025); Vol. 1 No. 1 (2025): Proceeding of The 5th ASPIKOM International Communication Conference (AICCON 2025); 547-554</dc:source>
	<dc:source>3032-6966</dc:source>
	<dc:source>10.31947/aiccon2025.v1i1</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unhas.ac.id/index.php/aiccon/article/view/47739/13557</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2025 Proceeding of The 5th ASPIKOM  International  CommunicationConference (AICCON 2025)</dc:rights>
</oai_dc:dc>