Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Identification of Dengue Hemorrhagic Fever Risk Zone in Daerah Istimewa Yogyakarta Province 2021

HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) · Vol. 8 No. 1 (2024) · hlm. 97–110

DOI
10.15294/higeia.v8i1.67935
ISSN
2541-5581, 2541-5603
Terbit
2024-06-14
Penerbit
Universitas Negeri Semarang
Bahasa
eng

Abstrak

Abstrak Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu wilayah endemik Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Pada 2021, Incidence Rate (IR) DIY mencapai 32/100.000 populasi dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 1,01%. Untuk mengurangi jumlah kasus DBD diperlukan suatu tindakan pencegahan. Manajemen penyakit berbasis wilayah dapat menjadi solusi mengurangi kasus DBD, seperti pemetaan risiko penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko penularan DBD di Provinsi DIY tahun 2021. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan pendekatan pemetaan dan ekologis. Variabel faktor risiko yang berkorelasi dengan insiden DBD akan di skoring, kemudian hasilnya dijabarkan menggunakan peta risiko DBD. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober tahun 2022. Berdasarkan analisis bivariat, faktor iklim memiliki hubungan dengan kejadian DBD. Pada Bulan Januari, wilayah Kota Yogyakarta dan Kulon Progo berada dalam risiko tinggi. Pada bulan November, wilayah Gunungkidul berada dalam risiko tinggi. Pada bulan Desember daerah dengan kategori tinggi antara lain Bantul dan Gunungkidul. Distribusi risiko DBD di DIY meningkat selama musim hujan. Pembuat kebijakan diharapkan dapat memprioritaskan daerah berisiko tinggi dalam menciptakan kebijakan. Abstract Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) is one of dengue endemic regions in Indonesia. In 2021, Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Incidence Rate (IR) in DIY was 32/100,000 population with Case Fatality Rate (CFR) reaching 1.01%. Reducing DHF cases is necessary to take preventive actions. Area-based disease management can be a solution to reduce DHF cases, such as mapping analysis of disease risk map. This research aims to determine the DHF transmission risk level in DIY Province during 2021. It is a cross-sectional study with mapping and ecological approach. Risk factors that correlate with DHF incidence will be scored, then the results will described as risk map. This research was conducted in September-October 2022. Based on bivariate analysis, climatic factors have a correlation with DHF. In January, Yogyakarta City and Kulon Progo were in high risk. Gunungkidul was highly vulnerable. in November. In December regions with high category include Bantul and Gunungkidul. DHF risk distribution in DIY was increased during rainy season. Policy makers are expected to prioritize high-risk areas in creating policies.

Jaringan kolaborasi para penulis

40 penulis · 127 tautan kepenulisan bersama · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • State University of Semarang
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Mahalul AzamAfiliasi tidak diketahui6
Widya Hary CahyatiAfiliasi tidak diketahui5
Hanif Pandu SuhitoAfiliasi tidak diketahui4
Oktia Woro Kasmini HandayaniAfiliasi tidak diketahui3
Luqman AlwiAfiliasi tidak diketahui3
Nadiya Arawinda AndarAfiliasi tidak diketahui3
Sholikun SholikunAfiliasi tidak diketahui2
Ari YuniastutiState University of Semarang2
Tandiyo RahayuAfiliasi tidak diketahui2
Intan ZainafreeAfiliasi tidak diketahui2
Usman IqbalAfiliasi tidak diketahui2
Regina Marsha NathanielaAfiliasi tidak diketahui2
Lintang Wening Ing TyasAfiliasi tidak diketahui2
Sri Ratna RahayuAfiliasi tidak diketahui2
Asyifa Rahma TrisnaningsihAfiliasi tidak diketahui2
Azhar Fauzan FadhilAfiliasi tidak diketahui1
Dyah Ayu Shinta RatnasariAfiliasi tidak diketahui1
Syifa Nurisma PutriAfiliasi tidak diketahui1
Amalia An NidhaAfiliasi tidak diketahui1
Qonita Nur QolbyAfiliasi tidak diketahui1
Tyas PurwaningsihAfiliasi tidak diketahui1
Devita Uzlah SibaraniAfiliasi tidak diketahui1
Puji SutarjoAfiliasi tidak diketahui1
Novita KukilowatiAfiliasi tidak diketahui1
Diah Rahmah PermatasariAfiliasi tidak diketahui1
Fania Rizky RamadianiAfiliasi tidak diketahui1
A Made Dea Rona AlmasAfiliasi tidak diketahui1
Silvie Sasria MaharaniAfiliasi tidak diketahui1
Dani MiarsoAfiliasi tidak diketahui1
Mala RizqiyaAfiliasi tidak diketahui1
Annisa Putri SalsabilaAfiliasi tidak diketahui1
Ratna Dewi KusumaningtyasAfiliasi tidak diketahui1
Wandah WibawantoAfiliasi tidak diketahui1
Agtika Yasyfa Nur AzizahAfiliasi tidak diketahui1
Siti Endah WahyuningsihAfiliasi tidak diketahui1
Gisela Habibah AisyahAfiliasi tidak diketahui1
Diyana SalsabilaAfiliasi tidak diketahui1

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia/oai, pertama di-harvest 5 Nov 2026, terakhir terlihat 5 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Identification of Dengue Hemorrhagic Fever Risk Zone in Daerah Istimewa Yogyakarta Province 2021</dc:title>
	<dc:creator>Rahmat, Sultan Aulia</dc:creator>
	<dc:creator>Ningrum, Dina Nur Anggraini</dc:creator>
	<dc:creator>Suharna, Suharna</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Abstrak
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu wilayah endemik Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Pada 2021, Incidence Rate (IR) DIY mencapai 32/100.000 populasi dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 1,01%. Untuk mengurangi jumlah kasus DBD diperlukan suatu tindakan pencegahan. Manajemen penyakit berbasis wilayah dapat menjadi solusi mengurangi kasus DBD, seperti pemetaan risiko penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko penularan DBD di Provinsi DIY tahun 2021. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan pendekatan pemetaan dan ekologis. Variabel faktor risiko yang berkorelasi dengan insiden DBD akan di skoring, kemudian hasilnya dijabarkan menggunakan peta risiko DBD. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober tahun 2022. Berdasarkan analisis bivariat, faktor iklim memiliki hubungan dengan kejadian DBD. Pada Bulan Januari, wilayah Kota Yogyakarta dan Kulon Progo berada dalam risiko tinggi. Pada bulan November, wilayah Gunungkidul berada dalam risiko tinggi. Pada bulan Desember daerah dengan kategori tinggi antara lain Bantul dan Gunungkidul. Distribusi risiko DBD di DIY meningkat selama musim hujan. Pembuat kebijakan diharapkan dapat memprioritaskan daerah berisiko tinggi dalam menciptakan kebijakan.
&amp;nbsp;
Abstract
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) is one of dengue endemic regions in Indonesia. In 2021, Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)&amp;nbsp;Incidence Rate (IR) in DIY was 32/100,000 population with&amp;nbsp;Case Fatality Rate (CFR) reaching 1.01%. Reducing DHF cases is necessary to take preventive actions. Area-based disease management can be a solution to reduce DHF cases, such as mapping analysis of disease risk map. This research aims to determine the DHF transmission risk level in DIY Province during 2021. It is a cross-sectional study with mapping and ecological approach. Risk factors that correlate with DHF incidence will be scored, then the results will described as risk map. This research was conducted in September-October 2022. Based on bivariate analysis, climatic factors have a correlation with DHF. In January, Yogyakarta City and Kulon Progo were in high risk. Gunungkidul was highly vulnerable. in November. In December regions with high category include Bantul and Gunungkidul. DHF risk distribution in DIY was increased during rainy season. Policy makers are expected to prioritize high-risk areas in creating policies.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Universitas Negeri Semarang</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unnes.ac.id/sju/higeia/article/view/67935</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15294/higeia.v8i1.67935</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development); Vol 8 No 1 (2024): January 2024; 97-110</dc:source>
	<dc:source>2541-5581</dc:source>
	<dc:source>2541-5603</dc:source>
	<dc:source>10.15294/higeia.v8i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unnes.ac.id/sju/higeia/article/view/67935/26805</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development)</dc:rights>
</oai_dc:dc>