Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

ZONASI TINGKAT KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI (TNGC) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

Geo-Image Journal · Vol. 3 No. 1 (2014)

DOI
10.15294/geoimage.v3i1.4315
ISSN
2549-0362, 2252-6285
Terbit
2014-11-21
Penerbit
Universitas Negeri Semarang
Bahasa
eng

Abstrak

Kebakaran  hutan merupakan  salah  satu  bentuk  dari  gangguan  terbesar  yang  dapat menciptakan  kerusakan  hutan  di  Indonesia.  Kebakaran  hutan  terjadi  setiap  tahun  dipicu  oleh kondisi  alam,  seperti  adanya  singkapan  batubara,  lahan  gambut  yang  terbakar  dan  kemaraupanjang  akibat  fenomena  El-Nino. Lokasi  pada  penelitian  ini  adalah  Taman  Nasional  Gunung Ciremai  (TNGC)  dengan  luas  keseluruhan  14.529,10  hektar.Penelitian  ini  bertujuan:  1) mengetahui zonasi  tingkat  kerawanan  kebakaran Lokasi  pada  penelitian  ini  adalah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan luas keseluruhan 14.529,10 hektar.hutan di TNGC, 2) mengetahui sebaran  daerah  yang  rawan  kebakaran  hutan, 3)  mengetahui penyebab  kebakaran hutan. Tujuh  Parameter  dalam  penelitian  ini,  yaitu:  sebaran hotspot,  penggunaan  lahan,  curah hujan, topografi, arah lereng, aksesbilitas pemukiman dan aksesbilitas sungai. Pengambilan sampel ini  berdasarkan proporsional  area  sampling. Metode  dalam  penelitian  ini  adalah  metode  analisis tumpang  susun  (overlay),  pengharkatan,  dan deskriptif.  Hasil  penelitian  ini  menunjukkan  bahwa zonasi  tingkat  kerawanan  kebakaran  di  TNGC  terdiri  dari  tiga  kelas  yaitu zona  sangat  rawan seluas  1.217,001  ha  (8,86%),  zona  rawan  seluas  8.378,936  ha  (57,76%),  dan  zona  tidak  rawan seluas  4.842,269  ha  (33,38%). Persebaran  daerah  rawan  kebakaran  hutan  secara  administratif pada  kelas  zona  rawan  terdapat  pada  Resort  Mandirancan,  Cilimus,  Jalaksana,  Cigugur,  dan Argalingga. Kelas zona sangat rawan terdapat pada Resort Pasawahan dan Bantaragung. Untuk kelas zona tidak rawan terdapat pada Resort Darma, Argamukti, Sangiang, dan Gunung Wangi. Penyebab alami kebakaran hutan yaitu letusan gunung berapi (semburan lahar/lava). Sedangkan faktor kelalaian manusia karena masyarakat sekitar TNGC masih melakukan pembakaran dalam mengolah/membersihkan lahan garapannya Forest fires are one of the biggest forms of interference that can create forest destruction in Indonesian. Forest  fires occur every year triggered by environmental conditions, such  as the coal outcrop, peatlands areburned and drought due  to El-Nino phenomenon. Locations in this  study is the  National  Park of  MountCiremai (TNGC) with the  total  area  of 14529.10 hectares. This  study  aims  to:  1)  determine  the  level  of vulnerability zoning on forest fires in TNGC, 2) determine the distribution area of forest fire, 3) determine the causes  of  the forest  fires.  The  seven  parameters in  this  study, namely:  the  distribution  called hotspots,  landusing,  rainfall,  topography,  slope  area,  accessibility  of  people  and  accessibility  of  the  river  settlements.  The sampling of  the  research is based  on  proportional  sampling  area.  The  method of this study  uses an  overlay analysis, numeric and descriptive method. The results of this study indicates that the flammability level zoning in TNGC consists of three classes which are very prone zones covering an area of around 1.217,001 ha (8,86%), prone  zones  covering  around  8.378,936  ha  (57,76%),  and  a  zone  not  prone  area  around  4.842,269  ha (33,38%). In fact, the distributions of forest fire areas that are based on administrative class are in prone zones on  the  Resort  Mandirancan,  Cilimus,  Jalaksana,  Cigugur,  and  Argalingga.  Thus,  for  the  very  prone  zone classes are located on Resort Pasawahan and Bantaragung. Then, for the inprone zone classes are in the Resort Darma, Argamukti, Sangiang, and Fragrant Mountain. The natural causes of forest fires is volcanic eruption (lava bursts/lava), on the other hand, the human error reason of forest fires because of the unawarness of people that usually burn their field carelessly.

Jaringan kolaborasi para penulis

40 penulis · 130 tautan kepenulisan bersama · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • University of August 17, 1945 Banyuwangi
  • State University of Semarang
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Hariyanto HariyantoAfiliasi tidak diketahui5
Erni SuhariniAfiliasi tidak diketahui5
Puji HardatiAfiliasi tidak diketahui5
Juhadi JuhadiAfiliasi tidak diketahui4
Purwadi SuhandiniAfiliasi tidak diketahui3
Sunarko SunarkoUniversity of August 17, 1945 Banyuwangi3
Dewi Liesnoor SetyowatiState University of Semarang3
Apik Budi SantosoAfiliasi tidak diketahui2
Tjaturahono Budi SanjotoAfiliasi tidak diketahui2
Sriyanto SriyantoAfiliasi tidak diketahui2
Muhammad Fauzan RamadhanAfiliasi tidak diketahui2
Ayu Wulansari PramitaAfiliasi tidak diketahui2
Lina Adi WijayantiAfiliasi tidak diketahui2
Eko HandoyoAfiliasi tidak diketahui2
Etty SoesilowatiAfiliasi tidak diketahui2
Rahma HayatiAfiliasi tidak diketahui2
Ananto AjiAfiliasi tidak diketahui2
Anggi Surya DharmaAfiliasi tidak diketahui1
Andi Irwan BenardiAfiliasi tidak diketahui1
Mutmainnah Farida RidwanAfiliasi tidak diketahui1
marlia devi roihanahAfiliasi tidak diketahui1
Netti Liana DewiAfiliasi tidak diketahui1
Shintya Wijayati SetianingsihAfiliasi tidak diketahui1
Sudharmono SudharmonoAfiliasi tidak diketahui1
Ratna Dwi SetyowatiAfiliasi tidak diketahui1
Arif SetiyajiAfiliasi tidak diketahui1
Danang SarjonoAfiliasi tidak diketahui1
Dwi Novi SusantiAfiliasi tidak diketahui1
Sriyono SriyonoAfiliasi tidak diketahui1
Putri Nur FitriaAfiliasi tidak diketahui1
Dedy Hendra PrastiaAfiliasi tidak diketahui1
Cahyo MartantoAfiliasi tidak diketahui1
Ira VidiawatiAfiliasi tidak diketahui1
Muhamad Roudhotul UlumAfiliasi tidak diketahui1
Haryanto HaryantoAfiliasi tidak diketahui1
Salim MaisarohAfiliasi tidak diketahui1
Mugi LestariAfiliasi tidak diketahui1

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/geoimage/oai, pertama di-harvest 5 Nov 2026, terakhir terlihat 5 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">ZONASI TINGKAT KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DI TAMAN  NASIONAL GUNUNG CIREMAI (TNGC) BERBASIS SISTEM INFORMASI  GEOGRAFIS (SIG)</dc:title>
	<dc:creator>Nursoleha, Puji</dc:creator>
	<dc:creator>Banowati, Eva</dc:creator>
	<dc:creator>Parman, Satyanta</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kebakaran  hutan merupakan  salah  satu  bentuk  dari  gangguan  terbesar  yang  dapat menciptakan  kerusakan  hutan  di  Indonesia.  Kebakaran  hutan  terjadi  setiap  tahun  dipicu  oleh kondisi  alam,  seperti  adanya  singkapan  batubara,  lahan  gambut  yang  terbakar  dan  kemaraupanjang  akibat  fenomena  El-Nino. Lokasi  pada  penelitian  ini  adalah  Taman  Nasional  Gunung Ciremai  (TNGC)  dengan  luas  keseluruhan  14.529,10  hektar.Penelitian  ini  bertujuan:  1) mengetahui zonasi  tingkat  kerawanan  kebakaran Lokasi  pada  penelitian  ini  adalah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan luas keseluruhan 14.529,10 hektar.hutan di TNGC, 2) mengetahui sebaran  daerah  yang  rawan  kebakaran  hutan, 3)  mengetahui penyebab  kebakaran hutan. Tujuh  Parameter  dalam  penelitian  ini,  yaitu:  sebaran hotspot,  penggunaan  lahan,  curah hujan, topografi, arah lereng, aksesbilitas pemukiman dan aksesbilitas sungai. Pengambilan sampel ini  berdasarkan proporsional  area  sampling. Metode  dalam  penelitian  ini  adalah  metode  analisis tumpang  susun  (overlay),  pengharkatan,  dan deskriptif.  Hasil  penelitian  ini  menunjukkan  bahwa zonasi  tingkat  kerawanan  kebakaran  di  TNGC  terdiri  dari  tiga  kelas  yaitu zona  sangat  rawan seluas  1.217,001  ha  (8,86%),  zona  rawan  seluas  8.378,936  ha  (57,76%),  dan  zona  tidak  rawan seluas  4.842,269  ha   (33,38%). Persebaran  daerah  rawan  kebakaran  hutan  secara  administratif pada  kelas  zona  rawan  terdapat  pada  Resort  Mandirancan,  Cilimus,  Jalaksana,  Cigugur,  dan Argalingga. Kelas zona sangat rawan terdapat pada Resort Pasawahan dan Bantaragung. Untuk kelas zona tidak rawan terdapat pada Resort Darma, Argamukti, Sangiang, dan Gunung Wangi. Penyebab alami kebakaran hutan yaitu letusan gunung berapi (semburan lahar/lava). Sedangkan faktor kelalaian manusia karena masyarakat sekitar TNGC masih melakukan pembakaran dalam mengolah/membersihkan lahan garapannya Forest fires are one of the biggest forms of interference that can create forest destruction in Indonesian. Forest  fires occur every year triggered by environmental conditions, such  as the coal outcrop, peatlands areburned and drought due  to El-Nino phenomenon. Locations in this  study is the  National  Park of  MountCiremai (TNGC) with the  total  area  of 14529.10 hectares. This  study  aims  to:  1)  determine  the  level  of vulnerability zoning on forest fires in TNGC, 2) determine the distribution area of forest fire, 3) determine the causes  of  the forest  fires.  The  seven  parameters in  this  study, namely:  the  distribution  called hotspots,  landusing,  rainfall,  topography,  slope  area,  accessibility  of  people  and  accessibility  of  the  river  settlements.  The sampling of  the  research is based  on  proportional  sampling  area.  The  method of this study  uses an  overlay analysis, numeric and descriptive method. The results of this study indicates that the flammability level zoning in TNGC consists of three classes which are very prone zones covering an area of around 1.217,001 ha (8,86%), prone  zones  covering  around  8.378,936  ha  (57,76%),  and  a  zone  not  prone  area  around  4.842,269  ha (33,38%). In fact, the distributions of forest fire areas that are based on administrative class are in prone zones on  the  Resort  Mandirancan,  Cilimus,  Jalaksana,  Cigugur,  and  Argalingga.  Thus,  for  the  very  prone  zone classes are located on Resort Pasawahan and Bantaragung. Then, for the inprone zone classes are in the Resort Darma, Argamukti, Sangiang, and Fragrant Mountain. The natural causes of forest fires is volcanic eruption (lava bursts/lava), on the other hand, the human error reason of forest fires because of the unawarness of people that usually burn their field carelessly.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Universitas Negeri Semarang</dc:publisher>
	<dc:date>2014-11-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unnes.ac.id/sju/geoimage/article/view/4315</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15294/geoimage.v3i1.4315</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Geo-Image Journal; Vol 3 No 1 (2014)</dc:source>
	<dc:source>2549-0362</dc:source>
	<dc:source>2252-6285</dc:source>
	<dc:source>10.15294/geoimage.v3i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unnes.ac.id/sju/geoimage/article/view/4315/3977</dc:relation>
</oai_dc:dc>