Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Konflik Dalam Relasi Sosial Masyarakat Jawa Dan Lampung Di Wilayah Transmigrasi (Studi Kasus di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur)

Solidarity: Journal of Education, Society and Culture · Vol. 6 No. 2 (2017) · hlm. 189–201

DOI
10.15294/solidarity.v6i2.19562
ISSN
2549-0729, 2252-7133
Terbit
2017-12-05
Penerbit
Universitas Negeri Semarang
Bahasa
eng

Abstrak

Desa Bandar Agung adalah desa transmigrasi di mana ada dua suku yang tinggal di sana yaitu etnis Lampung dan Jawa. Hubungan sosial antara dua suku tidak berjalan dengan baik karena mereka kurang terbuka satu sama lain, di samping kurangnya masyarakat Jawa adaptasi dengan lingkungan baru yang membuat mereka sering bertentangan dengan masyarakat Lampung. Konflik di Desa Bandar Agung disebabkan oleh beberapa aspek seperti aspek sosial yang meliputi kedatangan transmigrasi, stereotip etnis dan juga perebutan kekuasaan antara kepala desa dan sultan. Aspek ekonomi seperti kesenjangan ekonomi yang terjadi antara Jawa dan Lampung serta aspek budaya juga dapat menimbulkan konflik. Masyarakat desa Bandar Agung memiliki cara tersendiri untuk mengelola konflik yakni dengan membatasi pergaulan mereka dengan kelompok etnis yang berbeda, selain itu jika ada konflik mereka akan melakukan musyawarah dan dilanjutkan dengan melakukan kegiatan pasca-konflik yang bertujuan untuk membuat komunikasi antara Jawa dan Lampung dapat ditingkatkan. Bandar Agung is a transmigration village where there are two tribes living there; they are Lampung and Javanese ethnics. Social relations between the two ethnics are not going well because they are less open to each other, besides the lack of adaptation of Javanese community to the new environment frequently brings them into conflict with Lampung community. Conflicts in Bandar Agung village are caused by several aspects such as social aspects including the arrival of transmigrants, ethnic stereotypes and also the power struggle between the headman and sultan. The economic aspects, such as economic gap between Java and Lampung, and cultural aspects can also lead to the conflict. The villagers in Bandar Agung have their own ways in managing the conflicts; that are by limiting their association with different ethnics, besides if there is a conflict they will hold a deliberation then it is continued by holding a post-conflict activity in order to enhance the communication between Javanese and Lampung community.

Jaringan kolaborasi para penulis

40 penulis · 137 tautan kepenulisan bersama · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • Universitas Halu Oleo
  • State University of Semarang
  • Sebelas Maret University
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Elly KisminiAfiliasi tidak diketahui4
Rini IswariAfiliasi tidak diketahui4
Ninuk Sholikhah AkhirohAfiliasi tidak diketahui3
Moh. Solehatul MustofaAfiliasi tidak diketahui3
Thriwaty ArsalAfiliasi tidak diketahui3
Antari Ayuning ArsiAfiliasi tidak diketahui2
Deni KusdiyantoAfiliasi tidak diketahui2
Nurul FatimahUniversitas Halu Oleo2
Hendro WibowoAfiliasi tidak diketahui1
Khudzaifah .Afiliasi tidak diketahui1
Indah Nur KumallasariAfiliasi tidak diketahui1
Alisha QotrunnadaAfiliasi tidak diketahui1
Dewi Liesnoor SetyowatiState University of Semarang1
Hamdan Tri AtmajaAfiliasi tidak diketahui1
Misbahudin AzharAfiliasi tidak diketahui1
Martien Herna SusantiAfiliasi tidak diketahui1
Fulia Aji GustamanAfiliasi tidak diketahui1
Ardiansyah Putra WardanaAfiliasi tidak diketahui1
Gunawan GunawanAfiliasi tidak diketahui1
Harto WicaksonoAfiliasi tidak diketahui1
Dwi Wahyuni KurniawatiAfiliasi tidak diketahui1
Wildan KhunaefiAfiliasi tidak diketahui1
Aji Prasetya Wahyu UtamaAfiliasi tidak diketahui1
Asyif Awaludin RomadhoniAfiliasi tidak diketahui1
Monika Sri YuliartiSebelas Maret University1
Muhammad Wildan KhunaefiAfiliasi tidak diketahui1
Mimi Hanida Abdul MutalibAfiliasi tidak diketahui1
Azlina AbdullahAfiliasi tidak diketahui1
Mansor Mohd NoorAfiliasi tidak diketahui1
Atika WijayaAfiliasi tidak diketahui1
Didi PramonoAfiliasi tidak diketahui1
Fajar FajarAfiliasi tidak diketahui1
Nina WitasariAfiliasi tidak diketahui1
Latif Hendro WibowoAfiliasi tidak diketahui1
Rokhis SaidahAfiliasi tidak diketahui1
Muhammad AsyamAfiliasi tidak diketahui1
Gaby Lasmaria RajagukgukAfiliasi tidak diketahui1

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/solidarity/oai, pertama di-harvest 6 Nov 2026, terakhir terlihat 6 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Konflik Dalam Relasi Sosial Masyarakat Jawa Dan Lampung Di Wilayah Transmigrasi (Studi Kasus di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur)</dc:title>
	<dc:creator>Miyanti, Cyrli Yunita</dc:creator>
	<dc:creator>Rini, Hartati Sulistyo</dc:creator>
	<dc:creator>Luthfi, Asma</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Desa Bandar Agung adalah desa transmigrasi di mana ada dua suku yang tinggal di sana yaitu etnis Lampung dan Jawa. Hubungan sosial antara dua suku tidak berjalan dengan baik karena mereka kurang terbuka satu sama lain, di samping kurangnya masyarakat Jawa adaptasi dengan lingkungan baru yang membuat mereka sering bertentangan&amp;nbsp; dengan masyarakat Lampung. Konflik di Desa Bandar Agung disebabkan oleh beberapa aspek seperti aspek sosial yang meliputi kedatangan transmigrasi, stereotip etnis dan juga perebutan kekuasaan antara kepala desa dan sultan. Aspek ekonomi seperti kesenjangan ekonomi yang terjadi antara Jawa dan Lampung serta aspek budaya juga dapat menimbulkan konflik. Masyarakat desa Bandar Agung memiliki cara tersendiri untuk mengelola konflik yakni dengan membatasi pergaulan mereka dengan kelompok etnis yang berbeda, selain itu jika ada konflik mereka akan melakukan musyawarah dan dilanjutkan dengan melakukan kegiatan pasca-konflik yang bertujuan untuk membuat komunikasi antara Jawa dan Lampung dapat ditingkatkan.
&amp;nbsp;
Bandar Agung is a transmigration village where there are two tribes living there; they are Lampung and Javanese ethnics. Social relations between the two ethnics are not going well because they are less open to each other, besides the lack of adaptation of Javanese community to the new environment frequently brings them into conflict with Lampung community. Conflicts in Bandar Agung village are caused by several aspects such as social aspects including the arrival of transmigrants, ethnic stereotypes and also the power struggle between the headman and sultan. The economic aspects, such as economic gap between Java and Lampung, and cultural aspects can also lead to the conflict. The villagers in Bandar Agung have their own ways in managing the conflicts; that are by limiting their association with different ethnics, besides if there is a conflict they will hold a deliberation then it is continued by holding a post-conflict activity in order to enhance the communication between Javanese and Lampung community.
&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Universitas Negeri Semarang</dc:publisher>
	<dc:date>2017-12-05</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unnes.ac.id/sju/solidarity/article/view/19562</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15294/solidarity.v6i2.19562</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Solidarity: Journal of Education, Society and Culture; Vol 6 No 2 (2017): SOLIDARITY; 189 - 201</dc:source>
	<dc:source>2549-0729</dc:source>
	<dc:source>2252-7133</dc:source>
	<dc:source>10.15294/solidarity.v6i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unnes.ac.id/sju/solidarity/article/view/19562/9283</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2017 Solidarity: Journal of Education, Society and Culture</dc:rights>
</oai_dc:dc>