Melola Discovery

← Melola Discovery

Akses terbuka Jurnal

Penerapan Pidana Denda terhadap Pelaku Tindak Pidana Memperniagakan Satwa Dilindungi di Pengadilan Negeri Jambi

PAMPAS: Journal of Criminal Law · Vol. 5 No. 1 (2024) · hlm. 25–37

DOI
10.22437/pampas.v5i1.31809
ISSN
2721-8325, 2721-7205
Terbit
2024-03-05
Penerbit
Faculty of Law, Universitas Jambi
Bahasa
en
Lisensi
creativecommons.org/licenses/by/4.0

Abstrak

The use of fine categories is intended to provide a clear pattern for the highest sanctions set for various offenses, in this case offenses against protected animals. Protected animals are animals that are protected by the government. The decision of Jambi District Court Judge is considered to have exceeded the maximum penalty provided for in Article 40 (2) Law Number 5 of 1990 concerning Conservation of Natural Resources and Ecosystems, so that it becomes Article 65 (2) KUHP. The problem discussed in this work is how the judge uses legal considerations in imposing a fine exceeding the maximum limit the amount of the verdict and the judge's consideration in imposing a fine exceeding the maximum pada Putusan Nomor: 401/Pid.Sus.LH/2021/PN Jmb. The research was conducted using a prescriptive legal approach. Data collection was carried out by means of literatures study. This research resulted in conclusions. That is, the judge's decision is considered to exceed the maximum criminal limit of Article 40 (2) Law Number 5 of 1990. Based on the conclusions, it’s recommended that prosecutors be more careful in determining the punishment and be more specific in preparing the prosecution. The need to change the criminal provisions in the judge's decision. Abstrak Tujuan penggunaan kategori denda adalah untuk memiliki pedoman yang jelas mengenai jumlah denda maksimal yang dapat dikenakan untuk berbagai jenis tindak pidana, seperti dalam kasus tindak pidana terhadap satwa yang dilindungi. Satwa yang dilindungi adalah satwa yang mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Putusan hakim dari Pengadilan Negeri Jambi dianggap melampaui batas maksimum pidana denda yang ditetapkan dalam Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sehingga bertentangan dengan Pasal 65 ayat (2) KUHP. Fokus dari skripsi ini adalah untuk menganalisis pertimbangan hukum yang digunakan oleh hakim dalam menjatuhkan pidana denda yang melebihi batas maksimum, serta melakukan analisis hukum terhadap pertimbangan hakim dalam kasus Putusan Nomor: 401/Pid.Sus.LH/2021/PN Jmb. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan yuridis normatif dan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Putusan hakim tersebut melewati batas pidana denda maksimum yang ditetapkan dalam Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem. Berdasarkan kesimpulan ini, disarankan agar Jaksa Penuntut Umum lebih teliti dalam menetapkan ketentuan pidana dan menyusun surat dakwaan dengan tepat. Juga diperlukan revisi terhadap ketentuan pidana dalam Putusan hakim yang melampaui batas maksimum pidana denda tersebut.

Kata kunci

Jaringan kolaborasi para penulis

40 penulis · 121 tautan kepenulisan bersama · 2 lintas organisasi · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • Sriwijaya University
  • Universitas Syiah Kuala
  • STIE Pembangunan Tanjungpinang
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Yulia MonitaAfiliasi tidak diketahui5
Erwin ErwinSriwijaya University4
Haryadi HaryadiAfiliasi tidak diketahui3
Tri Imam MunandarAfiliasi tidak diketahui3
Mohamad RapikAfiliasi tidak diketahui2
Retno KusniatiAfiliasi tidak diketahui2
Herry LiyusAfiliasi tidak diketahui2
Elly SudartiAfiliasi tidak diketahui2
Elizabeth SiregarAfiliasi tidak diketahui2
Usman UsmanUniversitas Syiah Kuala2
Dessy RakhmawatiAfiliasi tidak diketahui2
Maryati MaryatiSTIE Pembangunan Tanjungpinang1
Ahmad Zaharuddin Sani Ahmad SabriAfiliasi tidak diketahui1
Ivan Fauzani RaharjaAfiliasi tidak diketahui1
Helmi HelmiAfiliasi tidak diketahui1
Rosmidah RosmidahAfiliasi tidak diketahui1
Bustanuddin BustanuddinAfiliasi tidak diketahui1
Rina NurhalizaAfiliasi tidak diketahui1
Meli Indah SariAfiliasi tidak diketahui1
Dimas PangestuAfiliasi tidak diketahui1
Ramon Azmi PratamaAfiliasi tidak diketahui1
Nys. ArfaAfiliasi tidak diketahui1
Ussi Astika AnggraeniAfiliasi tidak diketahui1
M. Hadhri NurAfiliasi tidak diketahui1
Yolla Fitri AmiliaAfiliasi tidak diketahui1
Moch. Reza Restu PrihatmajaAfiliasi tidak diketahui1
Rizky AmaliaAfiliasi tidak diketahui1
Adinda Farah AnisyaAfiliasi tidak diketahui1
Muhammad Zhafran RahmanAfiliasi tidak diketahui1
Mohamad RafiqAfiliasi tidak diketahui1
Andreas AgungAfiliasi tidak diketahui1
Adrienne Dwi SyahfiradellaAfiliasi tidak diketahui1
Sulistiani SulistianiAfiliasi tidak diketahui1
Lukas Permadi Orlando BeremandaAfiliasi tidak diketahui1
Andi NajemiAfiliasi tidak diketahui1
Reyanda Muzhaqin PutraAfiliasi tidak diketahui1
Nisrina Ramadhani DaulayAfiliasi tidak diketahui1

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://online-journal.unja.ac.id/index.php/Pampas/oai, pertama di-harvest 6 Nov 2026, terakhir terlihat 6 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">Penerapan Pidana Denda terhadap Pelaku Tindak Pidana Memperniagakan Satwa Dilindungi di Pengadilan Negeri Jambi</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Utary, Sisi Delica</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Hafrida, Hafrida</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Wahyudi, Dheny</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Pelaku</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pidana Denda</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Satwa yang Dilindungi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Criminal Fines</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Offenders</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Protected Animals</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">The use of fine categories is intended to provide a clear pattern for the highest sanctions set for various offenses, in this case offenses against protected animals. Protected animals are animals that are protected by the government. The decision of Jambi District Court Judge is considered to have exceeded the maximum penalty provided for in Article 40 (2) Law Number 5 of 1990 concerning Conservation of Natural Resources and Ecosystems, so that it becomes Article 65 (2) KUHP. The problem discussed in this work is how the judge uses legal considerations in imposing a fine exceeding the maximum limit the amount of the verdict and the judge's consideration in imposing a fine exceeding the maximum pada Putusan Nomor: 401/Pid.Sus.LH/2021/PN Jmb. The research was conducted using a prescriptive legal approach. Data collection was carried out by means of literatures study. This research resulted in conclusions. That is, the judge's decision is considered to exceed the maximum criminal limit of Article 40 (2) &amp;nbsp;Law Number 5 of 1990. Based on the conclusions, it’s recommended that prosecutors be more careful in determining the punishment and be more specific in preparing the prosecution. The need to change the criminal provisions in the judge's decision.
Abstrak
Tujuan penggunaan kategori denda adalah untuk memiliki pedoman yang jelas mengenai jumlah denda maksimal yang dapat dikenakan untuk berbagai jenis tindak pidana, seperti dalam kasus tindak pidana terhadap satwa yang dilindungi. Satwa yang dilindungi adalah satwa yang mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Putusan hakim dari Pengadilan Negeri Jambi dianggap melampaui batas maksimum pidana denda yang ditetapkan dalam Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sehingga bertentangan dengan Pasal 65 ayat (2) KUHP. Fokus dari skripsi ini adalah untuk menganalisis pertimbangan hukum yang digunakan oleh hakim dalam menjatuhkan pidana denda yang melebihi batas maksimum, serta melakukan analisis hukum terhadap pertimbangan hakim dalam kasus Putusan Nomor: 401/Pid.Sus.LH/2021/PN Jmb. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan yuridis normatif dan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Putusan hakim tersebut melewati batas pidana denda maksimum yang ditetapkan dalam Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem. Berdasarkan kesimpulan ini, disarankan agar Jaksa Penuntut Umum lebih teliti dalam menetapkan ketentuan pidana dan menyusun surat dakwaan dengan tepat. Juga diperlukan revisi terhadap ketentuan pidana dalam Putusan hakim yang melampaui batas maksimum pidana denda tersebut.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Faculty of Law, Universitas Jambi</dc:publisher>
	<dc:date>2024-03-05</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://online-journal.unja.ac.id/Pampas/article/view/31809</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.22437/pampas.v5i1.31809</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">PAMPAS: Journal of Criminal Law; Vol. 5 No. 1 (2024); 25-37</dc:source>
	<dc:source>2721-8325</dc:source>
	<dc:source>2721-7205</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://online-journal.unja.ac.id/Pampas/article/view/31809/17621</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2024 Sisi Delica Utary, Hafrida, Dheny Wahyudi</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>