Melola Discovery

← Melola Discovery

Akses terbuka Jurnal

From Administrative Irregularities to Criminal Acts: Uncovering Corruption in State Procurement Systems

PAMPAS: Journal of Criminal Law · Vol. 6 No. 2 (2025) · hlm. 137–167

DOI
10.22437/pampas.v6i2.43759
ISSN
2721-8325, 2721-7205
Terbit
2025-06-29
Penerbit
Faculty of Law, Universitas Jambi
Bahasa
en
Lisensi
creativecommons.org/licenses/by/4.0

Abstrak

The procurement of goods and services within the public sector is a crucial function that supports the operation of government institutions and the delivery of public services. However, this process is often vulnerable to corruption, including bribery, collusion, and abuse of authority. This paper examines the criminal law aspects related to government procurement by analyzing various cases of corruption in Indonesia. Through a review of legal frameworks, including the Indonesian Criminal Code (KUHP) and Law No. 31 of 1999 in conjunction with Law No. 20 of 2001 on the Eradication of Corruption, this study explores how these regulations are applied in practice. Case studies highlight recurring issues such as inflated project costs, fictitious procurement, and favoritism in awarding contracts. The paper also evaluates the role of law enforcement agencies, particularly the Corruption Eradication Commission (KPK), in investigating and prosecuting procurement-related offenses. While significant progress has been made in combating corruption, challenges remain in the consistent application of the law, limited resources, and political interference. This analysis emphasizes the need for stronger preventive mechanisms, greater transparency, and capacity-building among procurement officials to reduce legal violations. By examining real-world cases and their legal outcomes, this study aims to contribute to a better understanding of the intersection between criminal law and public procurement, and to support the development of more effective anti-corruption strategies within the public sector. ABSTRAK Pengadaan barang dan jasa di sektor publik merupakan fungsi penting yang mendukung operasional lembaga pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat. Namun, proses ini sering kali rentan terhadap praktik korupsi, seperti suap, kolusi, dan penyalahgunaan wewenang. Artikel ini membahas aspek hukum pidana yang terkait dengan pengadaan pemerintah melalui analisis berbagai kasus tindak pidana korupsi di Indonesia. Dengan mengkaji kerangka hukum, termasuk Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, studi ini mengevaluasi penerapan hukum dalam praktik. Studi kasus menunjukkan berbagai permasalahan yang berulang, seperti penggelembungan anggaran, pengadaan fiktif, dan praktik nepotisme dalam pemberian kontrak. Artikel ini juga menyoroti peran lembaga penegak hukum, khususnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam mengusut dan menindak pelanggaran terkait pengadaan. Meskipun telah ada kemajuan dalam upaya pemberantasan korupsi, masih terdapat tantangan dalam konsistensi penegakan hukum, keterbatasan sumber daya, serta intervensi politik. Analisis ini menekankan pentingnya mekanisme pencegahan yang lebih kuat, transparansi yang lebih tinggi, serta peningkatan kapasitas aparatur pengadaan untuk meminimalisir pelanggaran hukum. Dengan menelaah kasus-kasus nyata dan hasil hukumnya, studi ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai hubungan antara hukum pidana dan pengadaan publik, serta mendukung pengembangan strategi anti-korupsi yang lebih efektif di sektor pemerintahan.

Kata kunci

Jaringan kolaborasi para penulis

40 penulis · 176 tautan kepenulisan bersama · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung

Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.

  • Afiliasi tidak diketahui
  • Organisasi berbeda
  • Organisasi sama
  • Afiliasi tidak diketahui
  • Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
Rekan penulisOrganisasiArtikel bersama
Rasdi RasdiAfiliasi tidak diketahui13
Waspiah WaspiahAfiliasi tidak diketahui12
Riska AlkadriAfiliasi tidak diketahui10
Ngboawaji Daniel NteAfiliasi tidak diketahui9
Anis WidyawatiAfiliasi tidak diketahui9
Septhian Eka AdiyatmaAfiliasi tidak diketahui9
Rodiyah RodiyahAfiliasi tidak diketahui8
Dian LatifianiAfiliasi tidak diketahui8
Nadiyah Meyliana PutriAfiliasi tidak diketahui8
Nurul FibriantiAfiliasi tidak diketahui7
Muhammad Iqbal BaiquniAfiliasi tidak diketahui7
Bayangsari WedhatamiAfiliasi tidak diketahui7
Ali MasyharAfiliasi tidak diketahui6
R Benny RiyantoAfiliasi tidak diketahui5
Asyaffa Ridzqi AmandhaAfiliasi tidak diketahui5
Indah Sri UtariAfiliasi tidak diketahui5
Riki JuliantoAfiliasi tidak diketahui5
Muhammad Azil MaskurAfiliasi tidak diketahui4
Sonny Saptoajie WicaksonoAfiliasi tidak diketahui4
Karsinah KarsinahAfiliasi tidak diketahui4
Bintang Rafli AnantaAfiliasi tidak diketahui4
Zainurohmah ZainurohmahAfiliasi tidak diketahui4
Fitria DamayantiAfiliasi tidak diketahui4
Muhammad Wahyu Saiful HudaAfiliasi tidak diketahui4
Siti Hafsyah IdrisAfiliasi tidak diketahui4
Ngaboawaji Daniel NteAfiliasi tidak diketahui4
Syaiful AminAfiliasi tidak diketahui3
Ahsana NadiyyaAfiliasi tidak diketahui3
Asmarani RamliAfiliasi tidak diketahui3
Dewi Puspa SariAfiliasi tidak diketahui3
Layla Putri AulyaAfiliasi tidak diketahui3
Robert Brian SmithAfiliasi tidak diketahui3
Raden Muhammad Arvy IlyasaAfiliasi tidak diketahui3
Heni RosidaAfiliasi tidak diketahui3
Umi AfiatunAfiliasi tidak diketahui3
Izan Mateo CassandroAfiliasi tidak diketahui3
Shofriya Qonitatin AbidahAfiliasi tidak diketahui2

Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.

Sumber metadata: OAI-PMH (metadata jurnal) https://online-journal.unja.ac.id/index.php/Pampas/oai, pertama di-harvest 6 Nov 2026, terakhir terlihat 6 Nov 2026.
Metadata asli (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">From Administrative Irregularities to Criminal Acts: Uncovering Corruption in State Procurement Systems</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Adhi, Surya</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Arifin, Ridwan</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Sani, Tajudeen</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Corruption Crimes</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Corruption in the Procurement of Goods and Services</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Law Enforcement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Tindak Pidana Korupsi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Penegakan Hukum</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">The procurement of goods and services within the public sector is a crucial function that supports the operation of government institutions and the delivery of public services. However, this process is often vulnerable to corruption, including bribery, collusion, and abuse of authority. This paper examines the criminal law aspects related to government procurement by analyzing various cases of corruption in Indonesia. Through a review of legal frameworks, including the Indonesian Criminal Code (KUHP) and Law No. 31 of 1999 in conjunction with Law No. 20 of 2001 on the Eradication of Corruption, this study explores how these regulations are applied in practice. Case studies highlight recurring issues such as inflated project costs, fictitious procurement, and favoritism in awarding contracts. The paper also evaluates the role of law enforcement agencies, particularly the Corruption Eradication Commission (KPK), in investigating and prosecuting procurement-related offenses. While significant progress has been made in combating corruption, challenges remain in the consistent application of the law, limited resources, and political interference. This analysis emphasizes the need for stronger preventive mechanisms, greater transparency, and capacity-building among procurement officials to reduce legal violations. By examining real-world cases and their legal outcomes, this study aims to contribute to a better understanding of the intersection between criminal law and public procurement, and to support the development of more effective anti-corruption strategies within the public sector.
ABSTRAK
Pengadaan barang dan jasa di sektor publik merupakan fungsi penting yang mendukung operasional lembaga pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat. Namun, proses ini sering kali rentan terhadap praktik korupsi, seperti suap, kolusi, dan penyalahgunaan wewenang. Artikel ini membahas aspek hukum pidana yang terkait dengan pengadaan pemerintah melalui analisis berbagai kasus tindak pidana korupsi di Indonesia. Dengan mengkaji kerangka hukum, termasuk Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, studi ini mengevaluasi penerapan hukum dalam praktik. Studi kasus menunjukkan berbagai permasalahan yang berulang, seperti penggelembungan anggaran, pengadaan fiktif, dan praktik nepotisme dalam pemberian kontrak. Artikel ini juga menyoroti peran lembaga penegak hukum, khususnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam mengusut dan menindak pelanggaran terkait pengadaan. Meskipun telah ada kemajuan dalam upaya pemberantasan korupsi, masih terdapat tantangan dalam konsistensi penegakan hukum, keterbatasan sumber daya, serta intervensi politik. Analisis ini menekankan pentingnya mekanisme pencegahan yang lebih kuat, transparansi yang lebih tinggi, serta peningkatan kapasitas aparatur pengadaan untuk meminimalisir pelanggaran hukum. Dengan menelaah kasus-kasus nyata dan hasil hukumnya, studi ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai hubungan antara hukum pidana dan pengadaan publik, serta mendukung pengembangan strategi anti-korupsi yang lebih efektif di sektor pemerintahan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Faculty of Law, Universitas Jambi</dc:publisher>
	<dc:date>2025-06-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://online-journal.unja.ac.id/Pampas/article/view/43759</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.22437/pampas.v6i2.43759</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">PAMPAS: Journal of Criminal Law; Vol. 6 No. 2 (2025); 137-167</dc:source>
	<dc:source>2721-8325</dc:source>
	<dc:source>2721-7205</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://online-journal.unja.ac.id/Pampas/article/view/43759/21230</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en">Copyright (c) 2025 Surya Adhi, Ridwan Arifin, Tajudeen Sani</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>