Melola Discovery

← Melola Discovery

Journal

Strengthening Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Branjang Based on Local Culture

Indonesian Journal of Devotion and Empowerment · Vol. 4 No. 1 (2022) · pp. 17–22

DOI
10.15294/ijde.v4i1.51195
ISSN
2721-2645, 2827-7724
Published
2022-07-31
Publisher
Universitas Negeri Semarang
Language
eng

Abstract

Community service aims to map cultural potential and public awareness to develop local culture. The service method used is socialization and training. The target audience is the directors and administrators of village-owned enterprises and POKDARWIS managers. The results show that the target community can understand local culture and its mapping for cultural existence. Village-owned enterprises are still at the pilot level, so it is appropriate if the potential mapping results can be used as material for making relevant business unit decisions. Local village culture is included in the main priority of developing BUMDes to extend its business continuity. It means that it is not only short-term orientation but also long-term oriented. The village has several superior cultures, such as woven bamboo, palm sugar, and reog. So far, the community has been very enthusiastic about developing these three cultures. The indicator of the success of the service program can be seen from the cognitive aspect in mapping the village's potential. Suggestions for the village government in the form of financial support and non-financial support in developing village-owned enterprises. The management itself must be loyal and committed to developing BUMDes so that it can bring benefits to the village community. Tujuan pengabdian kepada masyarakat pemetaan potensi budaya dan penyadaran masyarakat untuk mengembangkan budaya local. Metode pengabdian yang digunakan adalah sosialisasi dan pelatihan. Khalayak sasarannya adalah direktur dan pengurus BUMDes serta pengelola POKDARWIS. Hasil pengabdian menunjukkan masyarakat sasaran dapat memahami konsep budaya local dan pemetaanya untuk eksistensi budaya. Saat ini BUMDes masih pada level rintisan, maka tepat sekali jika hasil pemetaan potensi dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan unit bisnis yang sesuai. Budaya local desa dimasukan dalam prioritas utama pengembangan BUMDes sehingga keberlangsungan usahanya akan panjang. Artinya tidak hanya orientasi jangka pendek, akan tetapi berorientasi pada jangka panjang. Ada beberapa budaya unggulan desa seperti budaya anyaman bambu, gula aren, dan reog. Selama ini masyarakat semangat sekali dalam mengembangkan ketiga budaya tersebut. Indikator keberhasilan program pengabdian dapat dilihat dari aspek kognitif dalam melakukan pemetaan potensi desa. saran bagi pemerintah desa berupa dukungan finansial dan dukungan non finansial dalam mengembangkan BUMDes. Pengurus sendiri harus loyal dan komitmen dapat mengembangkan BUMDes sehingga dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat desa.

Collaboration network of the authors

40 authors · 77 co-authorship links · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Yudharta Pasuruan
  • State University of Semarang
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Indah AnisykurlillahAffiliation unknown5
Puji Novita SariAffiliation unknown4
Sandy AriefAffiliation unknown3
Maylia Pramono SariAffiliation unknown2
Agus WahyudinAffiliation unknown2
Arif SantosoAffiliation unknown2
Sari LestariAffiliation unknown2
Lyna LatifahAffiliation unknown2
Miftakhu Nuril KhodijahUniversitas Yudharta Pasuruan1
Miftara Ainul MufidUniversitas Yudharta Pasuruan1
Wiwin Ainis RohtihUniversitas Yudharta Pasuruan1
Galang Rahadian PrabowoAffiliation unknown1
Henny MurtiniAffiliation unknown1
Gatot Putra DewaAffiliation unknown1
Fachrurrozie FachrurrozieAffiliation unknown1
Linda AgustinaAffiliation unknown1
Aditya HernawanAffiliation unknown1
Agung YuliantoAffiliation unknown1
Rizki Aulia RachmanAffiliation unknown1
Mohammad Faid AkhsanAffiliation unknown1
Aji KridawanAffiliation unknown1
Arif Angga ArdyantoAffiliation unknown1
Faridatun HasanahAffiliation unknown1
Yacoeb Triandy HudoyoAffiliation unknown1
Susmita ArdiyaniAffiliation unknown1
Eko Adi SaputroAffiliation unknown1
Pristiani PristianiAffiliation unknown1
Elyana Ayu SorayaAffiliation unknown1
Thiara FitriyaniAffiliation unknown1
Ina Sarah NormalitaAffiliation unknown1
Sri Wahyuni HadiningtiyasAffiliation unknown1
Fidia FibrianaState University of Semarang1
Nana Kariada Tri MartutiState University of Semarang1
Danang Dwi SaputroAffiliation unknown1
Sunyoto SunyotoAffiliation unknown1
Dewi LarasatiAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijde/oai, first harvested 5 Nov 2026, last seen 5 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Strengthening Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Branjang Based on Local Culture</dc:title>
	<dc:creator>Utaminingsih, Nanik Sri</dc:creator>
	<dc:creator>Mahmud, Amir</dc:creator>
	<dc:creator>Susilowati, Nurdian</dc:creator>
	<dc:creator>Hayati, Nurul</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Community service aims to map cultural potential and public awareness to develop local culture. The service method used is socialization and training. The target audience is the directors and administrators of village-owned enterprises and POKDARWIS managers. The results show that the target community can understand local culture and its mapping for cultural existence. Village-owned enterprises are still at the pilot level, so it is appropriate if the potential mapping results can be used as material for making relevant business unit decisions. Local village culture is included in the main priority of developing BUMDes to extend its business continuity. It means that it is not only short-term orientation but also long-term oriented. The village has several superior cultures, such as woven bamboo, palm sugar, and reog. So far, the community has been very enthusiastic about developing these three cultures. The indicator of the success of the service program can be seen from the cognitive aspect in mapping the village's potential. Suggestions for the village government in the form of financial support and non-financial support in developing village-owned enterprises. The management itself must be loyal and committed to developing BUMDes so that it can bring benefits to the village community.
Tujuan pengabdian kepada masyarakat pemetaan potensi budaya dan penyadaran masyarakat untuk mengembangkan budaya local. Metode pengabdian yang digunakan adalah sosialisasi dan pelatihan. Khalayak sasarannya adalah direktur dan pengurus BUMDes serta pengelola POKDARWIS. Hasil pengabdian menunjukkan masyarakat sasaran dapat memahami konsep budaya local dan pemetaanya untuk eksistensi budaya. Saat ini BUMDes masih pada level rintisan, maka tepat sekali jika hasil pemetaan potensi dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan unit bisnis yang sesuai. Budaya local desa dimasukan dalam prioritas utama pengembangan BUMDes sehingga keberlangsungan usahanya akan panjang. Artinya tidak hanya orientasi jangka pendek, akan tetapi berorientasi pada jangka panjang. Ada beberapa budaya unggulan desa seperti budaya anyaman bambu, gula aren, dan reog. Selama ini masyarakat semangat sekali dalam mengembangkan ketiga budaya tersebut. Indikator keberhasilan program pengabdian dapat dilihat dari aspek kognitif dalam melakukan pemetaan potensi desa. saran bagi pemerintah desa berupa dukungan finansial dan dukungan non finansial dalam mengembangkan BUMDes. Pengurus sendiri harus loyal dan komitmen dapat mengembangkan BUMDes sehingga dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat desa.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Universitas Negeri Semarang</dc:publisher>
	<dc:date>2022-07-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.unnes.ac.id/sju/ijde/article/view/51195</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15294/ijde.v4i1.51195</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Indonesian Journal of Devotion and Empowerment; Vol 4 No 1 (2022): June 2022; 17-22</dc:source>
	<dc:source>2721-2645</dc:source>
	<dc:source>2827-7724</dc:source>
	<dc:source>10.15294/ijde.v4i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.unnes.ac.id/sju/ijde/article/view/51195/22196</dc:relation>
</oai_dc:dc>