Melola Discovery

← Melola Discovery

Jurnal

Efisiensi Penularan Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PepYLCIV) dengan Kutukebul, Kejadian Penyakit dan Pertumbuhan Tanaman cabai

Berkala Penelitian Agronomi · Vol. 10 No. 2 (2022) · pp. 106–117

DOI
10.33772/bpa.v10i2.25584
ISSN
2502-3314, 2089-9858
Published
2022-10-16
Publisher
Universitas Halu Oleo
Language
eng

Abstract

Virus gemini adalah salah satu penyebab kehilangan hasil poduksi cabai yang signifikan. Kehilangan hasil dapat mencapai 100%. Penyakit ini menyebar secara cepat karena ditularkan oleh serangga vektor kutukebul. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi efisiensi penularan virus gemini dengan kutukebul. Penelitian didesain dengan rancangan acak kelompok (RAK), empat perlakuan yakni tanpa kutukebul (kontrol) (S0), satu ekor kutukebul (S1), tiga ekor kutukebul (S2) dan lima ekor kutukebul (S3), diulang sebanyak lima kali dengan 5 unit tanaman. Data dianalisis dengan sidik ragam jika terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan jumlah kutukebul yang efektif menularkan virus gemini adalah lima ekor kutukebul. Masa inkubasi tercepat yaitu tujuh hari setelah inokulasi. Gejala yang ditemukan seperti warna daun kekuningan khususnya pada daun-daun muda, mosaik, daun menggulung ke atas dan ke bawah, malformasi dan tanaman menjadi kerdil. Kejadian dan keparahan penyakit tertinggi terjadi pada perlakuan lima ekor kutukebul sebesar 88% dan 55%. Pertumbuhan tanaman terbaik adalah tanaman kontrol, tinggi tanaman adalah 64,16 cm dan jumlah daun (25,24 helai). Semakin banyak serangga vektor viruliferous maka kejadian dan keparahan penyakit virus gemini semakin meningkat. Kata kunci: Cabai; Kejadian penyakit; Kutukebul; Virus gemini.

Collaboration network of the authors

40 authors · 249 co-authorship links · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Universitas Muhammadiyah Kendari
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Asniah AsniahUniversitas Halu Oleo12
Andi KhaeruniUniversitas Halu Oleo8
HS GusnawatyAffiliation unknown7
Muhammad BotekUniversitas Halu Oleo6
Asmar HasanUniversitas Halu Oleo5
Vit Neru SatrahUniversitas Halu Oleo5
MUHAMMAD TAUFIKUniversitas Halu Oleo4
MARIADI MARIADIUniversitas Halu Oleo4
Waode Siti Anima HiseinUniversitas Halu Oleo4
MIRZA ARSIATY ARSYADUniversitas Halu Oleo4
Gusnawaty HSUniversitas Halu Oleo4
TERRY PAKKIUniversitas Halu Oleo4
NUR ISNAINI ULFAUniversitas Halu Oleo3
AGUNG YUSWANAUniversitas Halu Oleo3
RAHAYU MAffiliation unknown3
ABDUL RAHMANUniversitas Halu Oleo3
Abdul RahmanUniversitas Halu Oleo2
Rahayu MallarangengUniversitas Halu Oleo2
Isalman IsalmanAffiliation unknown2
La HataniAffiliation unknown2
Yusuf YusufUniversitas Muhammadiyah Kendari2
Muhammad MasriAffiliation unknown2
La Ode Santiaji BandeUniversitas Halu Oleo2
ARTIKA ATTEUniversitas Halu Oleo1
YUYUN NELISKAUniversitas Halu Oleo1
HARTATI HARTATIUniversitas Halu Oleo1
NUR INDAH SARIUniversitas Halu Oleo1
Gusnawaty H.SUniversitas Halu Oleo1
SUBHAN FITRATUL HAQAffiliation unknown1
NUR ISNAINI ULFAAffiliation unknown1
HASLINDA HASLINDAUniversitas Halu Oleo1
Ikmal IkmalUniversitas Halu Oleo1
Rachmawati HasidUniversitas Halu Oleo1
Ahmad SainulAffiliation unknown1
La Ode Santiaji BandeAffiliation unknown1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/agronomi/oai, first harvested 30 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efisiensi Penularan Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PepYLCIV) dengan Kutukebul, Kejadian Penyakit dan Pertumbuhan Tanaman cabai</dc:title>
	<dc:creator>Al Hadiat, Al Hadiat</dc:creator>
	<dc:creator>Taufik, Muhammad</dc:creator>
	<dc:creator>Rahayu M, Rahayu M</dc:creator>
	<dc:creator>Gusnawaty HS, Gusnawaty HS</dc:creator>
	<dc:creator>Syair, Syair</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Virus gemini adalah salah satu penyebab kehilangan hasil poduksi cabai yang signifikan. Kehilangan hasil dapat mencapai 100%. Penyakit ini menyebar secara cepat karena ditularkan oleh serangga vektor kutukebul. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi efisiensi penularan virus gemini dengan kutukebul. Penelitian didesain dengan  rancangan acak kelompok (RAK), empat perlakuan yakni tanpa kutukebul (kontrol) (S0), satu ekor kutukebul (S1), tiga ekor kutukebul (S2) dan lima ekor kutukebul (S3), diulang sebanyak lima  kali dengan 5 unit tanaman. Data dianalisis dengan sidik ragam jika terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan jumlah kutukebul yang efektif menularkan virus gemini adalah lima ekor kutukebul. Masa inkubasi tercepat yaitu tujuh hari setelah inokulasi. Gejala yang ditemukan seperti warna daun kekuningan khususnya pada daun-daun muda, mosaik, daun menggulung ke atas dan ke bawah, malformasi dan tanaman menjadi kerdil. Kejadian dan keparahan penyakit tertinggi terjadi pada perlakuan lima ekor kutukebul sebesar 88% dan 55%. Pertumbuhan tanaman terbaik adalah tanaman kontrol, tinggi tanaman adalah 64,16 cm dan jumlah daun (25,24 helai). Semakin banyak serangga vektor viruliferous maka kejadian dan keparahan penyakit virus gemini semakin meningkat. Kata kunci: Cabai; Kejadian penyakit; Kutukebul; Virus gemini. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Universitas Halu Oleo</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/agronomi/article/view/25584</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33772/bpa.v10i2.25584</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Berkala Penelitian Agronomi; Vol 10, No 2 (2022); 106 –117</dc:source>
	<dc:source>2502-3314</dc:source>
	<dc:source>2089-9858</dc:source>
	<dc:source>10.33772/bpa.v10i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/agronomi/article/view/25584/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Berkala Penelitian Agronomi</dc:rights>
</oai_dc:dc>