Melola Discovery

← Melola Discovery

Prosiding

Memperbaiki Pascapanen Kakao Untuk Meningkatkan Daya Saing Indonesia Di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS (2020) · pp. 25–30

DOI
10.37149/11331
Published
2020-03-20
Publisher
Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara
Language
eng

Abstract

Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 menyebabkan lalulintas perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara. Pemberlakuan MEA diharapkan dapat mendorong negara-negara di kawasan ASEAN untuk meningkatkan daya saing mereka. MEA menjadi peluang dilihat dari keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia terkait dengan kekayaan Sumberdaya Alam. Khusus untuk kakao saat ini produksi Indonesia menempati tempat ke tiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana sehingga merupakan produsen terbesar di ASEAN.Sebagian besar kakao kita masih diperdagangkan dalam bentuk biji kering yang digolongkan sebagai produk primer dengan mutu yang rendah karena tidak difermentasi dan berbagai penanganan pascapanen lainnya yang kurang baik. Akibatnya nilai jual biji kakao tersebut rendah sehingga kurang menguntungkan. Dengan demikian diperlukan perbaikan pascapanen untuk meningkatkan mutu biji kakao sehingga dapat memberi keuntungan yang lebih baik. Secara geografis negara-negara di ASEAN berdekatan sehingga beberapa produk pertaniannya sama yang menyebabkan terjadinya persaingan sesama negara ASEAN. Hal ini tidak terjadi pada biji kakao karena Indonesia sebagai negara penghasil kakao dan pemasok kakao terbesar di ASEAN.

Keywords

Collaboration network of the authors

9 authors · 24 co-authorship links · 5 across different organisations

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Yulianti YuliantiInstitut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI1
Gusti Ayu Kade SutariatiUniversitas Halu Oleo1
MIRZA ARSIATY ARSYADUniversitas Halu Oleo1
Andi NurmasUniversitas Halu Oleo1
MUHIDIN MUHIDINUniversitas Halu Oleo1
Nur AsyikUniversitas Halu Oleo1
Teguh WijayantoAffiliation unknown1
Norma ArifUniversitas Halu Oleo1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/procnaskotim/oai, first harvested 30 Okt 2026, last seen 1 Nov 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Memperbaiki Pascapanen Kakao Untuk Meningkatkan Daya Saing Indonesia Di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)</dc:title>
	<dc:creator>Ansi, Azhar</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pascapanen; Kakao; Daya saing; MEA</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 menyebabkan lalulintas perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara. Pemberlakuan MEA diharapkan dapat mendorong negara-negara di kawasan ASEAN untuk meningkatkan daya saing mereka. MEA menjadi peluang dilihat dari keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia terkait dengan kekayaan Sumberdaya Alam. Khusus untuk kakao saat ini produksi Indonesia menempati tempat ke tiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana sehingga merupakan produsen terbesar di ASEAN.Sebagian besar kakao kita masih diperdagangkan dalam bentuk biji kering yang digolongkan sebagai produk primer dengan mutu yang rendah karena tidak difermentasi dan berbagai penanganan pascapanen lainnya yang kurang baik. Akibatnya nilai jual biji kakao tersebut rendah sehingga kurang menguntungkan. Dengan demikian diperlukan perbaikan pascapanen untuk meningkatkan mutu biji kakao sehingga dapat memberi keuntungan yang lebih baik. Secara geografis negara-negara di ASEAN berdekatan sehingga beberapa produk pertaniannya sama yang menyebabkan terjadinya persaingan sesama negara ASEAN. Hal ini tidak terjadi pada biji kakao karena Indonesia sebagai negara penghasil kakao dan pemasok kakao terbesar di ASEAN. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-03-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/procnaskotim/article/view/11331</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.37149/11331</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS; PROSIDING SEMINAR NASIONAL PANGAN DAN PERKEBUNAN (Realitas Pangan dan Perkebunan saat ini dan Prospeknya Menuju Swasembada yang Berkelanjutan) Tahun 2018; 25 - 30</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/procnaskotim/article/view/11331/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS</dc:rights>
</oai_dc:dc>