Melola Discovery

← Melola Discovery

Prosiding

Rekayasa Ekologis Ultisol Bervegetasi Alang-Alang dengan Kondisi Tercekam Biologis untuk Pengembangan Tomat Lokal Muna

PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS (2015) · pp. 78–85

DOI
10.37149/3130
Published
2015-03-05
Publisher
Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara
Language
eng

Abstract

Memacu peningkatan laju pertumbuhan produktivitas pangan di Indoensia dilakukan melalui pendekatan peningkatan produksi per satuan luas, perluasan area pertanian, dan restorasi lahan-lahan pertanian terdegradasi. Paradigma teknologi peningkatan produksi tanaman pangan era pasca Bimas Pertanian (Green Revolution) diarahkan kepada penggunaan teknologi minimal bahan bakar, emisi gas teredusir, kesehatan petani terjaga, lingkungan sehat dan aman, serta kehilangan keanekaragaman hayati terhindarkan. Lahan pengembangan pertanian kelompok Ultisol bervegetasi alang-alang cukup tersebar luas di wilayah Indonesia bagian Timur. Faktor fisik-kimia pembatas pertumbuhan tanaman tanah ini sering digunakan sebagai basis pendekatan pengembangan teknologi peningkatan produksi pangan pertanian. Sesungguhnya, faktor pembatas kelulus-hidupan tanaman tidak hanya dikendalikan faktor fisik-kimia tanah, tetapi juga ditentukan oleh faktor biologi tanah, yakni kelompok biota tanah yang mendapatkan makanan dengan memangsa akar tanaman, selanjutnya dalam makalah ini dirujuk sebagai cekaman biologis‖.Buah tomat sering dihidangkan dalam menu setiap hari baik bentuk buah segar ataupun hasil olahannya. Tomat lokal Muna sebagai salah satu kekayaan plasma nutfah dari Sulawesi Tenggara perlu mendapatkan perhatian untuk pengembangannya di berbagai tipe agroekologi dalam kerangka kerja teknologi produksi pangan era pasca Bimas Pertanian. Dinding sel akar tomat cukup lunak sehingga mudah diakses oleh sejumlah biota tanah pemangsa akar. Konsep yang dikembangkan pengaturan populasi pemangsa akar melalui rekayasa ekologis menggunakan fauna tanah perkayasa ekosistem dan bahan organik untuk mengatasi cekaman biologis. Makalah ini bertujuan untuk memelajari peran introduksi fauna tanah perekayasa dan bahan organik terhadap kerapatan nematoda pemakan akar pada Ultisol dan untuk mengkaji pengaruh jangka panjang hasil rekayasa in situ menggunakan fauna tanah perekayasa ekosistem dan berbagai jenis bahan organik pada Ultisol terhadap kelulus-hidupan dan hasil panen buah tomat lokal Muna.Tiga tingkatan jumlah individu cacing tanah epigeik (Lumbricus sp.), yakni 0, 20, dan 40 individu per petak dan tiga jenis bahan organik (pangkasan Chromolaena odorata, pangkasan Collopogonium sp., dan pangkasan Imperata cylindrica) diuji mengikuti prosedur rancangan acak kelompok. Benih tomat lokal yang diperoleh dari petani di Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna dikecambahkan pada media tumbuh dari campuran Ultisol dan pupuk kandang sapi dan dipelihara sampai bibit berusia 3 minggu. Bibit tomat ditanam di tiap petak dengan jarak tanam 60 cm x 50 cm. Setelah petak percobaan diberokan selama tiga bulan, ditanami kembali bibit tomat lokal Muna pada tiap petak percobaan.Hasil penelitian pada tahap pertama menunjukan kerapatan nematoda pemakan akar pada 30, 60 maupun 90 hari setelah tanam antara kombinasi jumlah individu cacing tanah dan jenis bahan organik berbeda signifikan. Kerapatan nematoda pemakan akar menunjukan kecenderungan menurun sejalan dengan bertambahnya waktu setelah aplikasi cacing tanah dan bahan organik. Dalam percobaan tahap pertama tanaman tomat di semua petak percobaan hanya dapat bertahan hidup sampai usia dua minggu setelah tanam. Percobaan tahap dua menunjukan buah tomat dari tiap petak percobaan dapat dipanen. Jumlah buah dapat dipanen bervaraisi menurut jumlah cacing tanah dan jenis bahan organik. Total buah dipanen pada bahan organik dari C. odorata tanpa introduksi cacing tanah lebih rendah dibanding dengan introduksi 20 dan 40 individu cacing tanah. Total buah dipanen pada pangkasan Collopogonium sp. tanpa cacing tanah lebih banyak dibanding dengan introduksi 20 dan 40 jumlah individu cacing tanah. Total buah dipanen pada kombinasi pangkasan I. cylindrica untuk semua jumlah individu cacing tanah relatif mirip. Berat buah segar pada pangkasan I. cylindrica dengan introduksi 20 individu cacing tanah adalah paling tinggi, sedang pangkasan I. cylindrica dengan introduksi 40 individu cacing tanah adalah paling rendah.Temuan di atas membantu kami menyimpulkan bahwa pendakatan biologis melalui rekayasa ekologi menunjukan pengaruh bermanfaat dalam jangka panjang terhadap produktivitas pangan. Waktu mendatang, kajian terkait ―Agroecological Economic” metode rekayasa ekologi kualitas dan kesuburan tanah untuk produksi pangan masih perlu dikembangkan untuk mensikronkan antara upaya-upaya percepatan capaian swasembada pangan tiga tahuan ke depan dengan paradigma pertanian era pasca Bimas Pertanian (Green Revolution).

Collaboration network of the authors

40 authors · 160 co-authorship links · showing the 40 most connected

Hover or tap a name to highlight its co-authors. Double-click to open the author's page.

  • Universitas Halu Oleo
  • Affiliation unknown
  • Different organisations
  • Same organisation
  • Affiliation unknown
  • Thicker line = more joint articles · bigger circle = more articles
Show as table
Co-authorOrganisationJoint articles
Rachmawati HasidUniversitas Halu Oleo4
Abdul MadikiUniversitas Halu Oleo4
Andi NurmasUniversitas Halu Oleo3
MIRZA ARSIATY ARSYADUniversitas Halu Oleo2
LA KARIMUNAUniversitas Halu Oleo2
Ari NofitasariAffiliation unknown2
Sartini RiskyAffiliation unknown2
ILMI AMALIAUniversitas Halu Oleo1
Hamirul HadiniUniversitas Halu Oleo1
AMRIADI AMRIADIUniversitas Halu Oleo1
Norma ArifUniversitas Halu Oleo1
Tresjia Corina RakianUniversitas Halu Oleo1
LA KONTUUniversitas Halu Oleo1
MUHIDIN MUHIDINUniversitas Halu Oleo1
Awal MunduAffiliation unknown1
Suaib SuaibAffiliation unknown1
Laode SabaruddinUniversitas Halu Oleo1
Sitti LeomoUniversitas Halu Oleo1
La Ode SafuanUniversitas Halu Oleo1
Fathnur FathnurAffiliation unknown1
Hadania SAffiliation unknown1
Laode safuanAffiliation unknown1
Aminuddin Mane KandariUniversitas Halu Oleo1
Mani YusufAffiliation unknown1
Hasbullah SyafAffiliation unknown1
La Ode AfaUniversitas Halu Oleo1
La Ode SabaruddinAffiliation unknown1
Ardi ArdiAffiliation unknown1
Arsy Aysyah AnasUniversitas Halu Oleo1
ASRIDA ASRIDAAffiliation unknown1
Asmar HasanUniversitas Halu Oleo1
MUHAMMAD TAUFIKAffiliation unknown1
Kiki AmeliaAffiliation unknown1
Muh AJ DasrilAffiliation unknown1
Muhammad YasinUniversitas Halu Oleo1

Affiliations come from OpenAlex; journal OAI-PMH metadata carries none. Authors without an OpenAlex ID are matched by name, which can merge or split people.

Metadata source: OAI-PMH (metadata jurnal) https://ojs.uho.ac.id/index.php/procnaskotim/oai, first harvested 30 Okt 2026, last seen 30 Okt 2026.
Original metadata (oai_dc)
<oai_dc:dc xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/  http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Rekayasa Ekologis Ultisol Bervegetasi Alang-Alang dengan Kondisi Tercekam Biologis untuk Pengembangan Tomat Lokal Muna</dc:title>
	<dc:creator>Kilowasid, La Ode Muhammad Harjoni</dc:creator>
	<dc:creator>Lisnawati, Lisnawati</dc:creator>
	<dc:creator>Nurhaida, Nurhaida</dc:creator>
	<dc:creator>Sarawa, Sarawa</dc:creator>
	<dc:creator>Alam, Samsu</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en-US">Memacu peningkatan laju pertumbuhan produktivitas pangan di Indoensia dilakukan melalui pendekatan peningkatan produksi per satuan luas, perluasan area pertanian, dan restorasi lahan-lahan pertanian terdegradasi. Paradigma teknologi peningkatan produksi tanaman pangan era pasca Bimas Pertanian (Green Revolution) diarahkan kepada penggunaan teknologi minimal bahan bakar, emisi gas teredusir, kesehatan petani terjaga, lingkungan sehat dan aman, serta kehilangan keanekaragaman hayati terhindarkan. Lahan pengembangan pertanian kelompok Ultisol  bervegetasi alang-alang cukup tersebar luas di wilayah Indonesia bagian Timur. Faktor fisik-kimia pembatas pertumbuhan tanaman tanah ini sering digunakan sebagai basis pendekatan pengembangan teknologi peningkatan produksi pangan pertanian. Sesungguhnya, faktor pembatas kelulus-hidupan tanaman tidak hanya dikendalikan faktor fisik-kimia tanah, tetapi juga ditentukan oleh faktor biologi tanah, yakni kelompok biota tanah yang mendapatkan makanan dengan memangsa akar tanaman, selanjutnya dalam makalah ini dirujuk sebagai cekaman biologis‖.Buah tomat sering dihidangkan dalam menu setiap hari baik bentuk buah segar ataupun hasil olahannya. Tomat lokal Muna sebagai salah satu kekayaan plasma nutfah dari Sulawesi Tenggara perlu mendapatkan perhatian untuk pengembangannya di berbagai tipe agroekologi dalam kerangka kerja teknologi produksi pangan era pasca Bimas Pertanian. Dinding sel akar tomat cukup lunak sehingga mudah diakses oleh sejumlah biota tanah pemangsa akar. Konsep yang dikembangkan pengaturan populasi pemangsa akar melalui rekayasa ekologis menggunakan fauna tanah perkayasa ekosistem dan bahan organik untuk mengatasi cekaman biologis. Makalah ini bertujuan untuk memelajari peran introduksi fauna tanah perekayasa dan bahan organik terhadap kerapatan nematoda pemakan akar pada Ultisol dan untuk mengkaji pengaruh jangka panjang hasil rekayasa in situ menggunakan fauna tanah perekayasa ekosistem dan berbagai jenis bahan organik pada Ultisol terhadap kelulus-hidupan dan hasil panen buah tomat lokal Muna.Tiga tingkatan jumlah individu cacing tanah epigeik (Lumbricus sp.), yakni 0, 20, dan 40 individu per petak dan tiga jenis bahan organik (pangkasan Chromolaena odorata, pangkasan Collopogonium sp., dan pangkasan Imperata cylindrica) diuji mengikuti prosedur rancangan acak kelompok. Benih tomat lokal yang diperoleh dari petani di Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna dikecambahkan pada media tumbuh dari campuran Ultisol dan pupuk kandang sapi dan dipelihara sampai bibit berusia 3 minggu. Bibit tomat ditanam di tiap petak dengan jarak tanam 60 cm x 50 cm. Setelah petak percobaan diberokan selama tiga bulan, ditanami kembali bibit tomat lokal Muna pada tiap petak percobaan.Hasil penelitian pada tahap pertama menunjukan kerapatan nematoda pemakan akar pada 30, 60 maupun 90 hari setelah tanam antara kombinasi jumlah individu cacing tanah dan jenis bahan organik berbeda signifikan. Kerapatan nematoda pemakan akar menunjukan kecenderungan menurun sejalan dengan bertambahnya waktu setelah aplikasi cacing tanah dan bahan organik. Dalam percobaan tahap pertama tanaman tomat di semua petak percobaan hanya dapat bertahan hidup sampai usia dua minggu setelah tanam. Percobaan tahap dua menunjukan buah tomat dari tiap petak percobaan dapat dipanen. Jumlah buah dapat dipanen bervaraisi menurut jumlah cacing tanah dan jenis bahan organik. Total buah dipanen pada bahan organik dari C. odorata tanpa introduksi cacing tanah lebih rendah dibanding dengan introduksi 20 dan 40 individu cacing tanah. Total buah dipanen pada pangkasan Collopogonium sp. tanpa cacing tanah lebih banyak dibanding dengan introduksi 20 dan 40 jumlah individu cacing tanah. Total buah dipanen pada kombinasi pangkasan I. cylindrica untuk semua jumlah individu cacing tanah relatif mirip. Berat buah segar pada pangkasan I. cylindrica dengan introduksi 20 individu cacing tanah adalah paling tinggi, sedang pangkasan I. cylindrica dengan introduksi 40 individu cacing tanah adalah paling rendah.Temuan di atas membantu kami menyimpulkan bahwa pendakatan biologis melalui rekayasa ekologi menunjukan pengaruh bermanfaat dalam jangka panjang terhadap produktivitas pangan. Waktu mendatang, kajian terkait ―Agroecological Economic” metode rekayasa ekologi kualitas dan kesuburan tanah untuk produksi pangan masih perlu dikembangkan untuk mensikronkan antara upaya-upaya percepatan capaian swasembada pangan tiga tahuan ke depan dengan paradigma pertanian era pasca Bimas Pertanian (Green Revolution).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2015-03-05</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://ojs.uho.ac.id/index.php/procnaskotim/article/view/3130</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.37149/3130</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS; PROSIDING SEMINAR NASIONAL SWASEMBADA PANGAN (Indonesia Menuju Swasembada Pangan dalam Tiga Tahun Kedepan Tinjauan Konseptual, Teoritis dan Empiris) Tahun 2015; 78 - 85</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://ojs.uho.ac.id/index.php/procnaskotim/article/view/3130/2364</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2015 PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS</dc:rights>
</oai_dc:dc>