Jurnal
A Grain at the Margins: The History of Sirampog Black Rice, the Green Revolution, and Local Food Security in Central Java
Paramita: Historical Studies Journal · Vol. 36 No. 2 (2026)
- ISSN
- 2407-5825, 0854-0039
- Terbit
- 2026-10-24
- Penerbit
- istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)
- Bahasa
- eng
Abstrak
Abstract: Sirampog black rice (Oryza sativa L.), a pigmented landrace cultivated for generations on the southern slopes of Mount Slamet in Brebes Regency, Central Java, is now grown by only five or six farmers. This study examines its historical decline and what it reveals about local food security. Using library research, colonial archives from the Delpher digital collection, and field data from 40 purposively selected respondents collected between July and October 2025, the study reconstructs the transition from diverse, ritually embedded rice cultivation to the standardized white-rice system established during the Green Revolution. Archival evidence shows that black rice was known, traded, chemically analyzed, and used in rituals across the Indonesian archipelago since at least the 1840s, although colonial authorities consistently treated it as a marginal crop. Because Sirampog was officially registered as a variety only in 2020, these records represent the history of black rice as a broader type rather than the specific landrace. Field findings identify long growing periods, unstable prices, limited market access, and consumer preference for white rice as the main causes of its decline. Nevertheless, its high anthocyanin content, dietary fiber, drought tolerance, and cultural significance demonstrate its value within a food sovereignty perspective, highlighting landrace conservation as a foundation for resilient and diverse local food systems. Abstrak: Beras hitam Sirampog (Oryza sativa L.), varietas lokal berpigmen yang dibudidayakan secara turun-temurun di lereng selatan Gunung Slamet, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kini hanya ditanam oleh lima atau enam petani. Penelitian ini mengkaji sejarah penyusutannya serta maknanya bagi ketahanan pangan lokal. Penelitian menggunakan studi pustaka, arsip kolonial dari koleksi digital Delpher, dan data lapangan dari 40 responden yang dipilih secara purposif pada Juli–Oktober 2025. Hasil penelitian merekonstruksi perubahan dari budaya padi yang beragam, berakar pada ritual, dan dikelola komunitas menuju sistem beras putih yang terstandar sejak Revolusi Hijau. Bukti arsip menunjukkan bahwa beras hitam telah dikenal, diperdagangkan, dianalisis secara kimiawi, dan digunakan dalam berbagai ritual di Nusantara sejak sedikitnya dekade 1840-an, tetapi tetap diposisikan sebagai komoditas marginal oleh pemerintah kolonial. Karena Sirampog baru terdaftar sebagai varietas pada 2020, arsip tersebut merepresentasikan sejarah beras hitam sebagai tipe yang lebih luas. Temuan lapangan menunjukkan bahwa masa tanam yang panjang, harga yang tidak stabil, keterbatasan akses pasar, dan preferensi terhadap beras putih menjadi penyebab utama penyusutannya. Meskipun demikian, kandungan antosianin, serat pangan, toleransi terhadap kekeringan, dan nilai budayanya menunjukkan pentingnya pelestarian varietas lokal sebagai fondasi sistem pangan yang beragam, tangguh, dan berkelanjutan.
Kata kunci
Jaringan kolaborasi para penulis
40 penulis · 226 tautan kepenulisan bersama · menampilkan 40 yang paling banyak terhubung
Arahkan kursor atau ketuk sebuah nama untuk menyorot rekan penulisnya. Klik dua kali untuk membuka halaman penulis.
- State University of Semarang
- Afiliasi tidak diketahui
- Organisasi berbeda
- Organisasi sama
- Afiliasi tidak diketahui
- Garis lebih tebal = lebih banyak artikel bersama · lingkaran lebih besar = lebih banyak artikel
Tampilkan sebagai tabel
| Rekan penulis | Organisasi | Artikel bersama |
|---|---|---|
| Wiwi Isnaeni | State University of Semarang | 8 |
| Wulan Christijanti | Afiliasi tidak diketahui | 7 |
| Sri Ngabekti | State University of Semarang | 7 |
| Endah Peniati | State University of Semarang | 6 |
| R. Susanti | Afiliasi tidak diketahui | 6 |
| Sigit Saptono | State University of Semarang | 6 |
| Lisdiana Lisdiana | Afiliasi tidak diketahui | 5 |
| Bambang Priyono | State University of Semarang | 4 |
| Siti Alimah | State University of Semarang | 4 |
| Sri Sukaesih | State University of Semarang | 4 |
| Retno Sri Iswari | State University of Semarang | 4 |
| Amin Retnoningsih | Afiliasi tidak diketahui | 4 |
| Andin Irsadi | State University of Semarang | 4 |
| Yustinus Ulung Anggraito | Afiliasi tidak diketahui | 3 |
| Noor Aini Habibah | Afiliasi tidak diketahui | 3 |
| Arif Widiyatmoko | State University of Semarang | 3 |
| Masra Latjompoh | Afiliasi tidak diketahui | 3 |
| Ellianawati Ellianawati | State University of Semarang | 3 |
| Ani Rusilowati | State University of Semarang | 3 |
| Ning Setiati | Afiliasi tidak diketahui | 3 |
| Dyah Rini Indriyanti | State University of Semarang | 3 |
| Parmin Parmin | State University of Semarang | 3 |
| Ari Yuniastuti | State University of Semarang | 3 |
| Lisdiana | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
| Eni Widya Ningsih | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
| Widowati Widowati | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
| Wandah Wibawanto | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
| Krispinus Kedati Pukan | State University of Semarang | 2 |
| Nugroho Edi Kartijono | State University of Semarang | 2 |
| Nana Kariada Tri Martuti | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
| Ely Rudyatmi | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
| Talitha Widiatningrum | Afiliasi tidak diketahui | 2 |
Afiliasi berasal dari OpenAlex; metadata OAI-PMH jurnal tidak memuatnya. Penulis tanpa ID OpenAlex dicocokkan berdasarkan nama, sehingga dua orang bisa tergabung atau satu orang bisa terpisah.